Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini

Press ESC / Click X icon to close

Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini
LoginKirim Artikel

Minyak Jelantah dari Dapur MBG Bisa Jadi “Cuan” Baru, BGN Sebut Produksinya Tembus Jutaan Liter

Program MBG disebut menghasilkan jutaan liter minyak jelantah tiap bulan. BGN mulai melirik potensi energi hijau dan ekonomi sirkular.

Poin Penting

  • SPPG program MBG disebut memakai sekitar 800 liter minyak goreng tiap bulan.
  • Minyak jelantah dari dapur MBG diperkirakan mencapai 6 juta liter per bulan di Pulau Jawa.
  • BGN mulai mendorong pemanfaatan limbah minyak untuk energi hijau dan ekonomi sirkular.

JAKARTA - Dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) ternyata bukan cuma sibuk menyiapkan makanan untuk penerima manfaat. Di balik aktivitas masak setiap hari, ada “limbah” yang jumlahnya bikin geleng kepala: minyak jelantah.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengungkapkan satuan pelayanan pemenuhan gizi atau SPPG rata-rata menghabiskan sekitar 800 liter minyak goreng setiap bulan. Sebagian besar minyak itu akhirnya berubah menjadi minyak jelantah.

“Dan yang di luar dugaan bagi saya, setiap SPPG ini menggunakan kurang lebih 800 liter minyak goreng setiap bulan. Di mana 70%-nya akan berakhir menjadi minyak jelantah,” ujar Dadan.

Dadan menyebut, tiap SPPG diperkirakan menghasilkan sekitar 500 sampai 590 liter minyak jelantah per bulan. Jika dihitung dengan jumlah SPPG yang kini mencapai sekitar 17.200 unit di Pulau Jawa, total minyak jelantah yang terkumpul bisa menyentuh sekitar 6 juta liter setiap bulan.

“Jadi kalau dikalikan 500 liter itu kurang lebih akan ada sekitar 6 juta liter per bulan,” katanya.

Besarnya angka tersebut mulai dilirik sebagai peluang baru. Bukan sekadar limbah dapur, minyak jelantah dinilai punya potensi ekonomi sekaligus bisa diarahkan menjadi sumber energi alternatif.

ADVERTISEMENT

BGN juga menerapkan aturan ketat soal penggunaan minyak goreng di dapur MBG. Minyak tidak boleh dipakai berulang kali terlalu lama demi menjaga kualitas makanan yang dibagikan kepada penerima manfaat.

“Perlu diketahui bahwa di BGN minyak tidak boleh sering digunakan. Jadi maksimal rata-rata 3 kali goreng lalu menjadi minyak jelantah,” jelas Dadan.

Selain mengelola minyak jelantah, BGN mulai mendorong penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan di operasional SPPG. Salah satunya lewat pemanfaatan jaringan gas alam hingga compressed natural gas atau CNG di sejumlah daerah.

Menurut Dadan, jutaan liter minyak jelantah dari dapur MBG bisa menjadi pintu masuk pengembangan energi hijau berbasis ekonomi sirkular. Skema itu dinilai dapat mengubah limbah yang selama ini dibuang menjadi sesuatu yang punya nilai ekonomi.

“Dan saya kira ini bisa menjadi langkah awal untuk program kerja sama kita sehingga minyak yang tadinya sampah menjadi bernilai, yang tadinya dibuang menjadi uang."

Kabar Trenggalek - Nasional

Editor: Zamz