Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini

Press ESC / Click X icon to close

Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini
LoginKirim Artikel

Mengenal Tradisi Longkangan Trenggalek, Wujud Syukur dan Penghormatan Leluhur

KBRT - Kabupaten Trenggalek merupakan wilayah yang kaya akan warisan budaya dan nilai-nilai luhur, yang dijaga ketat oleh masyarakatnya secara turun-temurun. Salah satu ritual yang paling ikonik dan sarat akan makna spiritual, adalah Upacara Adat Longkangan.

Berdasarkan informasi resmi dari website Desa Masaran, tradisi ini merupakan bentuk kearifan lokal masyarakat dan nelayan di Kecamatan Munjungan dalam menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan sejarah.

Apa Itu Tradisi Longkangan?

Longkangan adalah sebuah upacara adat sedekah laut yang dilaksanakan oleh masyarakat Munjungan sebagai ungkapan rasa syukur yang mendalam kepada Tuhan Yang Maha Esa. Rasa syukur ini dipanjatkan atas melimpahnya tangkapan hasil melaut yang menjadi tumpuan ekonomi warga pesisir.

Selain sebagai bentuk syukur, tradisi ini memiliki fungsi penting sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur yang telah membuka kawasan Munjungan.

Secara khusus, ritual ini ditujukan untuk mengenang Rara Puthut, sosok yang menurut kepercayaan masyarakat setempat dipercaya oleh Ratu Pantai Selatan untuk menguasai kawasan pantai di Munjungan, meliputi:

ADVERTISEMENT
  • Pantai Ngampiran
  • Pantai Blado
  • Pantai Sumbreng
  • Pantai Ngadipuro

Waktu dan Lokasi Pelaksanaan

Merujuk pada catatan resmi Desa Masaran, Adat Longkangan rutin diperingati di Pantai Blado yang terletak di Desa Munjungan, Kecamatan Munjungan. Secara geografis, pantai ini berada sekitar 49 kilometer ke arah selatan dari pusat kota Trenggalek.

Waktu pelaksanaan tradisi ini tidak dilakukan secara sembarang, melainkan mengikuti kalender tradisional. Longkangan diadakan setiap bulan Selo dalam penanggalan Jawa, tepatnya pada hari Jumat Kliwon. Prosesi upacara biasanya dimulai pada siang hari menjelang sore.

Rangkaian Prosesi Upacara Adat

Upacara Longkangan dikenal dengan kemeriahan dan kekhidmatannya yang menarik ribuan wisatawan setiap tahun. Tahapan-tahapan utama upacara ini, meliputi sebagai berikut:

  1. Kirab Tumpeng Agung: Prosesi diawali dengan arak-arakan Tumpeng Agung yang dimulai dari Pendopo Kecamatan Munjungan menuju Pantai Blado. Kirab ini dipimpin langsung oleh Camat Munjungan dan diikuti oleh seluruh Kepala Desa se-Kecamatan Munjungan.
  2. Iringan Budaya: Rombongan kirab dimeriahkan oleh dayang-dayang serta grup kesenian jaranan yang mengenakan pakaian adat Jawa lengkap.
  3. Kesenian Tayub: Sebagai pelengkap wajib prosesi ritual, kesenian Tayub dipentaskan setibanya rombongan di lokasi pantai.
  4. Labuh Larung: Puncak dari seluruh rangkaian acara adalah prosesi menghanyutkan atau melarung Tumpeng Agung ke tengah lautan Pantai Blado sebagai simbol persembahan dan syukur.

Dukungan Pemerintah Kabupaten Trenggalek

Pemerintah Kabupaten Trenggalek memberikan perhatian serius terhadap pelestarian tradisi ini. Dalam beberapa kesempatan, pejabat tinggi daerah, termasuk Wakil Bupati Trenggalek, turut hadir secara langsung untuk mengikuti prosesi ritual suci ini.

Kehadiran jajaran Forkopimda dan pejabat Pemkab menegaskan bahwa Longkangan adalah identitas sejarah yang tidak boleh hilang. Sebagaimana disampaikan dalam catatan resmi desa, pelestarian ritual ini sangat penting karena Trenggalek berdiri di atas nilai-nilai sejarah dan kearifan lokal yang kuat.

Melalui Longkangan, masyarakat berharap senantiasa mendapatkan keselamatan, kemakmuran, dan keberkahan bagi wilayah Munjungan serta Kabupaten Trenggalek secara keseluruhan. 

Kabar Trenggalek - Trenggalekpedia

Editor: Zamz