Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini

Press ESC / Click X icon to close

Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini
LoginKirim Artikel

Efek Domino MBG: Ahli Gizi Jadi Rebutan, Peluang Kerja Makin Terbuka Lebar

Program Makan Bergizi Gratis picu lonjakan kebutuhan ahli gizi seiring bertambahnya SPPG di seluruh Indonesia.

Poin Penting

  • Program MBG dorong kebutuhan ahli gizi meningkat drastis
  • Ribuan SPPG butuh tenaga profesional di bidang gizi dan pangan
  • Peluang kerja terbuka lebar, kampus mulai menyesuaikan kurikulum

TRENGGALEK - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai menunjukkan dampak baru di luar sektor kesehatan, yakni meningkatnya kebutuhan tenaga ahli gizi secara signifikan. Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat, lonjakan ini terjadi seiring bertambahnya Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah.

Kepala BGN, Dadan Hindayana, menegaskan bahwa setiap SPPG wajib memiliki tenaga ahli gizi untuk memastikan kualitas makanan tetap sesuai standar.

“Setiap SPPG harus ada ahli gizi, karena yang kita tetapkan itu bukan menu nasional, tetapi standar komposisi gizi. Jadi harus ada yang meramu sesuai potensi lokal,” ujar Dadan di Makassar.

Dengan jumlah SPPG yang sudah mencapai puluhan ribu unit, kebutuhan tenaga ahli gizi otomatis ikut melonjak. Setiap unit minimal membutuhkan satu tenaga profesional, belum termasuk tim pendukung di bidang pengolahan makanan dan pengawasan kualitas.

Kondisi ini membuka peluang besar, terutama bagi lulusan di bidang kesehatan dan pangan. Bahkan, profesi ahli gizi yang sebelumnya kurang dilirik kini justru jadi incaran.

ADVERTISEMENT

“Program studi gizi yang dulu tidak terlalu diminati, sekarang justru menjadi yang paling laku karena kebutuhan di lapangan sangat besar,” katanya.

BGN juga tidak membatasi hanya lulusan gizi. Tenaga dari bidang lain seperti kesehatan masyarakat, teknologi pangan, hingga keamanan pangan ikut dilibatkan untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan SDM.

Menurut Dadan, peran ahli gizi menjadi krusial karena pendekatan MBG berbasis potensi lokal. Artinya, setiap daerah membutuhkan racikan menu yang berbeda, disesuaikan dengan bahan pangan dan pola konsumsi masyarakat setempat.

Di sisi lain, lonjakan kebutuhan tenaga ini juga berdampak ke dunia pendidikan. Perguruan tinggi mulai didorong untuk menyesuaikan kurikulum dan kapasitas pendidikan di bidang gizi dan pangan agar selaras dengan kebutuhan industri.

Program MBG pun dinilai menjadi momentum baru bagi kebangkitan pendidikan vokasi dan profesi di sektor tersebut.

Kabar Trenggalek - Peristiwa

Editor: Zamz