KBRT - Pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Trenggalek mengeluhkan pendistribusian Liquefied Petroleum Gas (LPG) 3 Kg. Mereka kerap tak kebagian gas melon, karena distribusi LPG bersubsidi yang tidak tepat sasaran.
Munirul Hadi, pemilik UMKM Kios Gorengan di Kelurahan Ngantru mengaku saat membutuhkan Gas LPG 3 Kg, dirinya kerap mendapati stok di pangkalan kosong. Pihak pangkalan beralasan pengiriman belum tiba. Kondisi itu berpengaruh pada usaha Hadi.
“Saya pernah kehabisan gas waktu berjualan, dan terpaksa pulang lebih awal,” jelasnya.
Hadi biasa menghabiskan 2 - 3 tabung gas selama 2 hari tergantung banyaknya penjualan. Sedangkan, harga yang didapatkannya Rp18.000. Sebagai pelaku UMKM, ia sempat mendapat diskon Rp500.
"Harga yang saya dapat memang cukup normal, tetapi ketersediaan yang tiba-tiba langka, itu yang mengganggu kelangsungan usaha,” ujarnya.
Hadi menengarai, salah satu penyebab cepat ludesnya gas LPG 3 Kg di pangkalan karena distribusi yang salah sasaran. Sebab, dia kerap melihat ada pelaku usaha kelas menengah atas yang memborong gas LPG 3 Kg.
‘’Masih banyak orang orang yang tergolong mampu dan usaha yang bukan tingkat menengah lagi membeli gas LPG bersubsidi, bahkan tidak segan membelinya dengan jumlah yang banyak sekaligus,” keluhnya.
Hadi berharap pangkalan bisa mendistribusikan tepat sasaran. Pemerintah dan Pertamina juga harus monitoring distribusi LPG agar tepat sasaran.
Kabar Trenggalek - Ekonomi
Editor:Danu S