Susu Sapi Botoputih Meledak 21 Ton per Hari, Peternak Trenggalek Nikmati Harga Stabil
Desa Botoputih, Trenggalek, bangkit pasca wabah PMK. Produksi susu sapi kini tembus 21 ton per hari dengan harga stabil di kisaran Rp7.600–Rp7.700 per liter.
14 Nov 2025 • 10:00 WIB
Peternak sapi perah trenggalek mulai bangkit. KBRT/Nandika
Ringkasan
- Produksi susu sapi Botoputih capai 21 ton per hari atau 20.418 liter.
- Desa dorong pengolahan susu lokal untuk tingkatkan nilai jual.
KBRT – Produksi susu sapi di Desa Botoputih, Kecamatan Bendungan, Kabupaten Trenggalek, kini mencapai 21 ton per hari atau setara sekitar 20.418 liter. Capaian tersebut menjadi penanda pulihnya sektor peternakan setempat setelah sempat terpukul akibat wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada tahun 2022.
Sekretaris Desa Botoputih, Budi Utomo, menjelaskan bahwa pasca PMK, kondisi peternakan sapi perah di desanya berangsur membaik.
“Setelah PMK tahun 2022 turun sekitaran setengahnya, karena yang setor itu dulu semuanya sakit. Terus satu tahun itu mulai normal lagi sampai sekarang. Makanya harga sapi perah sekarang itu mahal karena permintaannya banyak,” ujarnya.
Advertisement
Menurut Budi, saat ini terdapat sekitar 1.200 peternak sapi perah di Desa Botoputih. Jumlah sapi yang dimiliki tiap peternak bervariasi, mulai dari tiga ekor hingga puluhan ekor.
Ia menambahkan, harga susu sapi segar di tingkat peternak kini relatif stabil. Para pengepul pun bersaing secara sehat dalam penyerapan hasil produksi warga.
“Peternak sama pengepul seperti hewan peliharaan yang hafal rumahnya, semuanya punya sendiri-sendiri dan banyaknya pengepul tidak jadi kendala. Setiap pos pengepul juga ada alat pengukur kualitas susu yang bisa membedakan harga jualnya,” terang Budi.
Harga susu sapi segar dari peternak saat ini berkisar antara Rp7.600 hingga Rp7.700 per liter, tergantung kadar air dan protein dalam susu.
Budi menegaskan, pihaknya akan terus mendorong peningkatan produksi susu karena peluang pasar masih terbuka lebar. Seiring dengan itu, mayoritas warga kini beralih dari pekerjaan di sawah dan ladang menjadi peternak sapi perah.
Selain peningkatan produksi, pemerintah desa juga berharap pengolahan susu dapat dilakukan langsung di Trenggalek agar nilai jual produk meningkat dan biaya operasional peternak berkurang.
“Dulu sempat ada UMKM yang mengolah susu ini jadi permen, minuman, sama produk-produk lain. Tapi kendalanya ada di pemasaran sehingga sekarang berhenti. Semoga ke depan wabah seperti PMK dan LSD bisa dicegah, tidak ada lagi di Botoputih,” ungkapnya.
Dari data yang dihimpun, rata-rata produksi susu per peternak mencapai 17,5 kilogram atau sekitar 17 liter lebih per hari.
Salah satu peternak, Nur Ikhsan, warga RT 04 RW 02 Desa Botoputih, menuturkan bahwa tiga ekor sapi perah miliknya mampu menghasilkan sekitar 15 liter susu per hari.
“Sehari rata-rata 15 liter buat 3 ekor sapi itu, diperah pagi sama sore hari. Kalau pakannya dan nutrisinya cukup bisa lebih, tergantung kesehatan sapinya juga,” kata Nur Ikhsan.
Dengan capaian produksi yang terus meningkat dan harga yang stabil, Desa Botoputih kini menjadi salah satu sentra penghasil susu sapi terbesar di Trenggalek sekaligus contoh kebangkitan ekonomi lokal pasca wabah PMK.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
Advertisement
Artikel Terkait
Jelang Idul Adha, Harga Sapi di Trenggalek Melejit hingga Rp4 Juta per Ekor
Harga Domba di Trenggalek Sempat Anjlok, Jelang Idul Adha Mulai Nanjak Lagi
Harga Sapi Naik Jelang Idul Adha, Trenggalek Justru Masih Jadi Pemasok ke Kota Besar
Produksi Peternakan Trenggalek Diperkirakan Naik hingga 20 Persen
Modal Minim Bukan Halangan: Sistem Gaduh Jadi Senjata Peternak Trenggalek