KBRT - Lebaran Idulfitri biasanya menikmati hidangan khas seperti opor dan lodho, saat bersilaturahmi dan membuat perut kenyang. Untuk itu, banyak yang memilih makanan lebih ringan, seperti bakso atau mi ayam. Tren ini terbukti dengan meningkatnya penjualan bakso saat Lebaran.
Anik Wudayana (40), penjaga warung bakso Sido Mampir di Desa Krandegan, Kecamatan Gandusari, mengungkapkan bahwa penjualan bakso meningkat signifikan saat Lebaran, bahkan melebihi bulan Ramadan.
"Di hari raya, penjualan bakso di sini meningkat banyak, melebihi saat bulan Ramadan. Selain karena puasa telah usai, sudah menjadi kebiasaan setiap Lebaran untuk saling mentraktir bakso. Jika di hari biasa cukup dilayani oleh dua orang, saat Lebaran toko harus dijaga tiga hingga empat orang," ujarnya.
Anik mengaku tidak mengetahui secara pasti jumlah porsi yang terjual pada hari Lebaran. Namun, ia memastikan bahwa stok bakso selalu lebih banyak dibandingkan menu lain yang tersedia di warungnya, seperti mi ayam, cilok, dan es campur.
"Seporsi bakso biasa dijual seharga Rp10.000, sedangkan bakso jumbo dua kali lipatnya. Cilok dan es campur lebih terjangkau, masing-masing Rp5.000, sementara mi ayam bisa didapatkan dengan harga Rp8.000," jelasnya.
Anik menuturkan bahwa ia mulai bekerja di warung tersebut sejak 2016, meskipun belum mengetahui sejak kapan warung bakso itu berdiri.
"Pemilik warung ini adalah pasangan suami istri. Sang suami berasal dari Pule, sedangkan istrinya dari Nglampir, Tulungagung. Setiap Lebaran, warung bakso ini tetap buka sejak hari pertama," tambahnya.
Selain harga yang tetap stabil, Anik menilai bahwa pelayanan cepat dan rasa yang konsisten menjadi faktor utama warung bakso Sido Mampir memiliki pelanggan tetap.
"Saat hari raya, kami menyiapkan tiga pekerja bersama pemilik untuk melayani lonjakan pembeli, ditambah satu orang di bagian belakang untuk mencuci mangkuk kotor," pungkasnya.
Kabar Trenggalek - Sosial
Editor:Zamz