DPRD Trenggalek Kritik Antrean Obat di RSUD Soedomo, Pelayanan Farmasi Dinilai Kewalahan

DPRD Trenggalek menyoroti antrean panjang apotek di RSUD dr. Soedomo akibat tingginya jumlah pasien rawat jalan setiap hari.

DPRD Trenggalek Kritik Antrean Obat di RSUD Soedomo, Pelayanan Farmasi Dinilai Kewalahan

Ketua Komisi IV DPRD Trenggalek Sukarodin. KBRT/Zamz

Ringkasan

  • DPRD menilai antrean apotek RSUD Soedomo berpotensi menghambat pengobatan pasien
  • Manajemen rumah sakit didorong menambah SDM dan loket pelayanan farmasi
  • RSUD Soedomo segera membuka layanan cuci darah baru berkapasitas 30 pasien

KABAR TRENGGALEK – Antrean panjang di apotek RSUD dr. Soedomo Trenggalek mulai bikin DPRD angkat suara. Tingginya jumlah pasien rawat jalan disebut membuat pelayanan obat di rumah sakit daerah itu kewalahan, terutama saat jam-jam sibuk.

Komisi IV DPRD Trenggalek menilai kondisi tersebut tidak bisa dianggap sepele karena berpotensi menghambat pasien mendapatkan pengobatan tepat waktu setelah pemeriksaan dokter.

Ketua Komisi IV DPRD Trenggalek, Sukarodin, mengatakan jumlah pasien rawat jalan di RSUD dr. Soedomo saat ini bisa mencapai sekitar 800 orang setiap hari. Lonjakan itu otomatis berdampak pada pelayanan farmasi yang jadi titik penumpukan antrean.

Advertisement

“Jika dalam sehari pasien mencapai 800 orang, sudah pasti layanan apotek akan memicu antrean panjang. Fenomena inilah yang kini menjadi fokus perhatian serius kami,” ujar Sukarodin.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu segera dibenahi karena pasien yang sudah menjalani pemeriksaan masih harus menunggu cukup lama hanya untuk mengambil obat.

Apalagi, beberapa pasien membutuhkan obat yang harus segera dikonsumsi setelah pemeriksaan medis selesai dilakukan.

“Jika pasien harus segera meminum obatnya tetapi proses antrean di apotek memakan waktu sangat lama, tentu ini menjadi persoalan serius. Pasien akhirnya terlambat mendapatkan penanganan obat,” katanya.

Sebenarnya, pihak rumah sakit sudah menjalankan program pengiriman obat gratis bekerja sama dengan jasa pos untuk mengurangi antrean di loket farmasi. Lewat layanan itu, pasien cukup membayar ongkos kirim sekitar Rp10 ribu dan obat akan diantar langsung ke rumah.

Namun menurut DPRD, program tersebut belum cukup efektif untuk menjawab persoalan utama di lapangan, terutama bagi pasien yang membutuhkan obat dalam waktu cepat.

Karena itu, Komisi IV DPRD mendorong manajemen RSUD segera melakukan pembenahan di sektor pelayanan farmasi. Salah satu usulan yang disampaikan yakni penambahan tenaga kefarmasian hingga membuka loket pelayanan baru.

“Manajemen perlu menambah SDM di bagian apotek. Jika ruangnya kurang, silakan perluas area pelayanan atau sekalian buka jaringan apotek tambahan di area rumah sakit,” tegas Sukarodin.

Di tengah sorotan soal antrean apotek, DPRD juga menyampaikan kabar positif terkait pengembangan layanan kesehatan di RSUD dr. Soedomo. Rumah sakit milik Pemkab Trenggalek itu dikabarkan segera mengoperasikan unit layanan hemodialisa atau cuci darah baru mulai bulan depan.

Unit baru tersebut disebut mampu melayani hingga 30 pasien sekaligus dalam satu sesi terapi.

“Alhamdulillah, bulan depan layanan cuci darah baru ini sudah siap beroperasi. Sekali pelayanan, mesin-mesin baru ini bisa langsung menangani 30 pasien secara bersamaan,” ungkap Sukarodin.

Dengan tambahan fasilitas itu, pasien gagal ginjal di Trenggalek diharapkan tidak perlu lagi mencari layanan cuci darah ke luar daerah seperti Tulungagung atau kota lainnya.

“Ini tentu menjadi kabar yang sangat baik bagi masyarakat Trenggalek. Sekarang warga tidak perlu jauh-jauh lagi keluar daerah hanya untuk mendapatkan akses layanan cuci darah,” katanya. 

Ikuti WhatsApp Channel

Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!

Join Channel

Advertisement

Artikel Terkait