Tukang Cukur Tradisional di Watulimo Tetap Eksis di Tengah Maraknya Barbershop
KBRT – Di tengah menjamurnya barbershop modern di Trenggalek, tempat potong rambut sederhana di Watulimo tetap bertahan dan memiliki pelanggan setia. Menjelang Hari Raya, omzet para tukang cukur di daerah ini bahkan mengalami peningkatan hingga 50 persen. Banyak pelanggan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, datang untuk merapikan rambut agar tampil lebih rapi saat Lebaran."Kalau momen seper...
31 Mar 2025 • 05:00 WIB
Tukang cukur di Trenggalek yang masih laris ditengah gempuran babershop. KBRT/Mirza
KBRT – Di tengah menjamurnya barbershop modern di Trenggalek, tempat potong rambut sederhana di Watulimo tetap bertahan dan memiliki pelanggan setia. Menjelang Hari Raya, omzet para tukang cukur di daerah ini bahkan mengalami peningkatan hingga 50 persen. Banyak pelanggan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, datang untuk merapikan rambut agar tampil lebih rapi saat Lebaran.
"Kalau momen seperti ini pasti meningkat, sekitar 50 persen. Rata-rata per hari bisa melayani 20 orang menjelang Hari Raya, kalau hari biasa paling sekitar tujuh orang," ujar Ilham Sulistiono, tukang potong rambut di Desa Sawahan, Watulimo.
Sulis, sapaan akrabnya, mengungkapkan bahwa meskipun banyak barbershop modern bermunculan, usahanya tetap diminati karena kualitas potongannya tidak kalah saing. Selain itu, meskipun tempatnya sederhana, ia tetap menggunakan peralatan modern sebagai alat utama dalam pekerjaannya.
"Perbedaannya dengan barbershop, mungkin di sana tempatnya lebih nyaman dan peralatannya lebih lengkap. Tapi di sini, meskipun sederhana, peminatnya tetap banyak karena harganya lebih terjangkau, terutama bagi masyarakat di desa," jelasnya.
Tarif jasa cukur rambut di tempatnya dipatok Rp10 ribu untuk anak-anak maupun orang dewasa. Usaha yang telah berdiri sejak 2013 ini tetap eksis, meskipun menghadapi kendala, terutama ketika terjadi pemadaman listrik pada malam hari yang menghambat operasionalnya.
Sulis menceritakan bahwa ia mulai menekuni profesi sebagai tukang cukur setelah melihat minimnya jasa potong rambut di lingkungannya. Ia pun belajar secara otodidak melalui media sosial sebelum akhirnya memutuskan untuk membuka usaha sendiri.
"Kendalanya kalau malam listrik mati, ya tidak bisa bekerja. Saya mulai jadi tukang cukur karena di sini belum ada yang buka jasa cukur. Akhirnya saya belajar secara otodidak, lalu saya praktikkan sampai sekarang," tandasnya.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
Artikel Terkait
PPKM Diperpanjang Lagi, Warung Makan dan Pedagang Kaki Lima Boleh Buka dengan Prokes Ketat
Masalah Bansos, Kini Warga Bisa Lakukan Usul dan Sanggah Lewat Aplikasi Cek Bansos