Tak Sekadar Cuci Keris, Warga Trenggalek Ini Juga Jamas Manuskrip Kuno demi Jaga Warisan Leluhur
Tradisi jamasan pusaka di Trenggalek tak hanya dilakukan pada keris dan tombak. Manuskrip kuno juga dirawat sebagai upaya melestarikan warisan sejarah.
10 Jul 2026 • 10:00 WIB
Jamasan Keris dan Manuskrip Kuno Warga Trenggalek. KBRT/Za,z
Ringkasan
- Manuskrip kuno ikut dijamas bersama pusaka.
- Jamasan dimaknai sebagai bentuk pelestarian sejarah.
- Prosesi juga mengedepankan nilai ramah lingkungan.
TRENGGALEK – Tradisi jamasan selama ini identik dengan membersihkan keris atau tombak saat bulan Muharam. Namun, bagi MB Dwijaharmaji, warga Desa Pogalan, Kabupaten Trenggalek, ritual itu memiliki makna yang lebih luas. Bukan sekadar merawat pusaka, tetapi juga menjaga manuskrip kuno sebagai jejak sejarah yang diwariskan para leluhur.
Di rumahnya, Rabu (08/07/2026) malam, puluhan benda bersejarah ditata berjajar sebelum prosesi dimulai. Keris, tombak, hingga naskah kuno dibersihkan satu per satu dengan perlakuan yang berbeda sesuai karakter masing-masing.
"Saya menjamas beberapa pusaka-pusaka, di antaranya adalah pusaka keris, terus kemudian pusaka tombak. Terus ada beberapa pusaka yang saya anggap luar biasa itu adalah manuskrip-manuskrip itu," ujar Dwijaharmaji.
Advertisement
Pria yang bersama istrinya menjadi Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat itu mengatakan jamasan bukan hanya diperuntukkan bagi senjata tradisional. Menurutnya, berbagai benda bersejarah hingga unsur alam juga dapat menjadi bagian dari tradisi tersebut.
Baginya, inti jamasan bukan berada pada ritualnya, melainkan pada kepedulian untuk merawat peninggalan yang memiliki nilai sejarah agar tetap lestari.
"Sebab, kita tahu pusaka-pusaka tersebut, baik keris atau tombak, itu dahulu pernah dipergunakan untuk berjuang melawan penjajah. Kita yang berada dalam alam padang (kehidupan saat ini) harus bisa bersyukur," ulasnya.
Rasa syukur itu, lanjutnya, diwujudkan dengan merawat warisan leluhur agar tetap terjaga dan bisa dikenal oleh generasi berikutnya.
"Cara bersyukurnya yaitu dengan menjamas pusaka ini, merawatnya, karena ini adalah tinggalan dari para eyang buyut kita," jelasnya.
Berbeda dengan kebanyakan pencinta pusaka yang melakukan jamasan pada awal bulan Suro atau Muharam, Dwijaharmaji justru menunggu hingga prosesi serupa di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat selesai terlebih dahulu.
Menurutnya, hal itu merupakan bagian dari tata rerakiting wewaangunan atau tata krama yang dijunjung dalam tradisi keraton.
"Karena posisi saya pribadi itu adalah di luar Keraton Ngayogyakarta, maka saya menjamas pusaka itu setelah pusaka keraton dijamasi. Hal ini terkait dengan tata rerakiting wewaangunannya atau kesopanan," katanya.
Prosesi jamasan dilakukan menggunakan air murni yang dicampur kembang setaman. Air tersebut dituangkan perlahan ke bilah keris maupun tombak, kemudian pusaka dibersihkan menggunakan jeruk sebelum dikeringkan memakai tatal atau serbuk kayu bekas gergajian.
Sementara itu, manuskrip kuno mendapatkan perlakuan berbeda. Naskah-naskah tersebut tidak dicuci menggunakan air, melainkan dibersihkan secara perlahan memakai kuas halus agar kondisi kertas tetap terjaga. Setelah itu, manuskrip diangin-anginkan di dalam rumah selama semalam.
Dwijaharmaji mengatakan, tradisi ini juga mengandung pesan menjaga lingkungan. Air bekas jamasan tidak dibuang begitu saja, melainkan dimanfaatkan kembali untuk menyiram tanaman di sekitar rumah.
"Itu nilai ekologisnya adalah kita di situ kembali kepada lingkungan juga. Jadi, kita tidak memakai bulu-bulu yang berlogam atau mungkin dari peralatan yang mengandung logam, tidak," paparnya.
Penggunaan tatal kayu sebagai media pengering juga dipilih karena dinilai lebih aman bagi bilah pusaka sekaligus memanfaatkan limbah kayu yang masih berguna.
"Sehingga aspek memayu hayuning bawana, yaitu menghias atau memperindah alam, itu bisa dilaksanakan dengan cara hal seperti itu," tuturnya.
Tradisi jamasan tersebut rutin dilaksanakan setiap tahun pada bulan Muharam setelah prosesi jamasan di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat selesai digelar.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
Advertisement
Artikel Terkait
Anak Muda Trenggalek Mulai Kepincut Belajar Filosofi Keris, Sarasehan Panji Patrem Diserbu Mahasiswa KKN
Kenapa Banyak Warga Trenggalek Pindah ke Kota Besar? Ini Faktornya
Ribuan Warga Trenggalek Sudah Punya KTP Digital, Tapi Mayoritas Masih Bertahan dengan Kartu Fisik
Golongan Darah O Mendominasi Trenggalek, Simak Rincian Lengkapnya
Pasien Jantung Trenggalek Segera Punya Harapan Baru, Cath Lab Sedang Disiapkan