Kuota Transmigrasi Ditutup, 4 Sarjana Trenggalek Justru Berangkat Bangun Kawasan di Kalimantan hingga Papua

Empat sarjana asal Trenggalek lolos Program Transmigrasi Patriot Kementerian Transmigrasi. Mereka akan mengabdi di Kalimantan Barat dan Papua Barat selama empat bulan.

Kuota Transmigrasi Ditutup, 4 Sarjana Trenggalek Justru Berangkat Bangun Kawasan di Kalimantan hingga Papua

Para Mahasiswa berangkat transmigrasi ke luar jawa. KBRT/Zamz

Ringkasan

  • Empat sarjana asal Trenggalek lolos Program Transmigrasi Patriot dan bertugas di Kalimantan Barat serta Papua Barat Daya.
  • Berbeda dengan transmigrasi reguler, peserta ditugaskan melakukan riset dan menyusun blueprint pengembangan kawasan.
  • Meski peminat transmigrasi reguler di Trenggalek mencapai puluhan orang, tahun ini Jawa Timur tidak mendapat kuota dari pemerintah pusat.

TRENGGALEK – Saat kuota transmigrasi reguler untuk Jawa Timur tahun ini nihil, empat sarjana asal Kabupaten Trenggalek justru mendapat kesempatan berbeda. Mereka terpilih mengikuti Program Transmigrasi Patriot, sebuah program yang mengirim lulusan perguruan tinggi untuk membantu mengembangkan kawasan transmigrasi berbasis riset dan potensi lokal.

Keempat peserta tersebut terdiri atas tiga perempuan dan satu laki-laki. Selama empat bulan ke depan mereka akan ditempatkan di kawasan transmigrasi di Kalimantan Barat hingga Papua Barat Daya untuk mendampingi masyarakat sekaligus menyusun strategi pengembangan wilayah.

Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Trenggalek, Cristina Ambarawati, mengatakan Program Transmigrasi Patriot memiliki konsep berbeda dibanding transmigrasi yang selama ini dikenal masyarakat.

Advertisement

"Kalau transmigrasi reguler memindahkan satu keluarga untuk menetap, Transmigrasi Patriot justru mengirim lulusan perguruan tinggi untuk memetakan potensi kawasan dan menyusun pengembangannya secara tematik dengan pendampingan perguruan tinggi," jelas Cristina, Selasa (14/7/2026).

Menurut Cristina, seluruh peserta merupakan lulusan baru yang lolos melalui proses seleksi di kampus masing-masing. Mereka berasal dari sejumlah perguruan tinggi, yakni Universitas Indonesia (UI), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB).

Selama bertugas, para peserta tidak hanya tinggal di kawasan transmigrasi. Mereka diwajibkan melakukan riset lapangan, menyusun blueprint pengembangan kawasan, kemudian mempresentasikan hasilnya kepada Kementerian Transmigrasi.

Seluruh kebutuhan peserta, mulai dari biaya hidup, akomodasi hingga uang saku selama masa penugasan, ditanggung pemerintah.

"Selama empat bulan penugasan seluruh kebutuhan peserta ditanggung kementerian," kata Cristina.

Di sisi lain, Cristina mengungkapkan tahun ini masyarakat Trenggalek yang berminat mengikuti transmigrasi reguler harus bersabar. Pasalnya, Kementerian Transmigrasi belum membuka kuota untuk Jawa Timur.

Padahal, jumlah warga Trenggalek yang mendaftarkan diri sebagai calon transmigran reguler sudah mencapai puluhan orang.

"Pendaftarnya sebenarnya sudah puluhan orang, tetapi tahun ini memang belum ada kuota untuk Jawa Timur," ujarnya.

Salah satu peserta, Adia Reza Khaleda, mengaku tertarik mengikuti program tersebut karena ingin terlibat langsung dalam pemberdayaan masyarakat. Lulusan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia asal Kelurahan Surodakan itu akan ditempatkan di Kawasan Transmigrasi Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.

"Saya ingin terjun langsung ke masyarakat. Tim kami akan menyusun strategi untuk meningkatkan kapasitas ekonomi warga lokal," ujar Adia.

Ia menjelaskan setiap tim didampingi dosen pembimbing sehingga program yang dijalankan memiliki dasar akademik sekaligus menyesuaikan kebutuhan masyarakat di lokasi penugasan.

"Pemerintah juga memberikan uang saku sekitar Rp9 juta setiap bulan kepada peserta," tambahnya.

Empat peserta asal Trenggalek yang lolos Program Transmigrasi Patriot yakni Adia Reza Khaleda dari Universitas Indonesia yang bertugas di Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat; Chandra Trisna Pangestu dari Universitas Airlangga yang ditempatkan di Kawasan Transmigrasi Prafi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat; 

Kemudian, Kamila Yuniah Ahmad dari Universitas Airlangga yang juga bertugas di Prafi, Manokwari; serta Amin Tiyas Hidayah dari Universitas Brawijaya yang ditempatkan di Kawasan Transmigrasi Klamono-Segun, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya.

Program Transmigrasi Patriot menjadi salah satu pendekatan baru pemerintah dalam membangun kawasan transmigrasi. Jika sebelumnya transmigrasi identik dengan perpindahan penduduk, kini pemerintah mulai mendorong pengembangan wilayah melalui kontribusi sumber daya manusia berpendidikan yang diharapkan mampu menghadirkan inovasi dan memperkuat ekonomi lokal.

Ikuti WhatsApp Channel

Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!

Join Channel

Advertisement

Artikel Terkait