Tak Sekadar Lihat Penyu, Wisatawan di Pantai Kili-Kili Kini Bisa Sulap Sampah Plastik Jadi Suvenir

Pantai Kili-Kili Trenggalek menghadirkan wisata edukasi baru. Pengunjung diajak mengolah sampah plastik menjadi gantungan kunci yang bisa dibawa pulang.

Tak Sekadar Lihat Penyu, Wisatawan di Pantai Kili-Kili Kini Bisa Sulap Sampah Plastik Jadi Suvenir

Firdan Ihsanul sedang melakukan pelatihan pembuatan souvenir di wisata. KBRT/Dok Pribadi

Ringkasan

  • Pantai Kili-Kili hadirkan wisata edukasi baru.
  • Sampah plastik diolah menjadi gantungan kunci.
  • Pengunjung bisa membawa pulang hasil karyanya.

TRENGGALEK – Berwisata ke Pantai Kili-Kili Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul kini tak hanya soal menikmati panorama pantai atau menyaksikan habitat penyu. Pengunjung juga bisa membawa pulang pengalaman baru dengan mengolah sampah plastik menjadi suvenir buatan sendiri.

Konsep wisata edukasi itu lahir setelah adanya pelatihan pengolahan sampah plastik yang diinisiasi Firdan Ihsanul (22) bersama Paguyuban Kakang Mbakyu. Program tersebut menyasar pengelola Pantai Kili-Kili sebagai langkah awal menciptakan wisata yang lebih ramah lingkungan.

Dalam pelatihan itu, peserta belajar memanfaatkan sampah plastik menjadi gantungan kunci. Bukan sekadar kerajinan tangan, produk tersebut diharapkan menjadi bukti bahwa limbah plastik masih memiliki nilai guna sekaligus nilai ekonomi jika dikelola dengan tepat.

Advertisement

Dari pelatihan tersebut, lahirlah paket wisata edukasi yang kini ditawarkan kepada pengunjung Pantai Kili-Kili. Wisatawan diajak mengikuti proses pengolahan sampah plastik hingga menjadi gantungan kunci yang bisa dibawa pulang sebagai cendera mata.

Dengan cara itu, pengalaman berwisata tidak berhenti saat meninggalkan pantai. Pengunjung juga mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya mengurangi sampah plastik yang selama ini menjadi ancaman bagi ekosistem pesisir dan biota laut, termasuk penyu yang kerap salah mengira plastik sebagai makanan.

Firdan mengatakan, program tersebut dirancang agar edukasi lingkungan terasa lebih dekat dan menyenangkan bagi wisatawan.

"Melalui program ini, kami ingin menunjukkan bahwa edukasi lingkungan dapat dikemas secara menarik dan menjadi bagian dari pengalaman wisata. Pengunjung tidak hanya datang untuk menikmati keindahan pantai, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung dalam mengolah sampah dan membawa pulang hasil karyanya," ujar Firdan.

Menurutnya, pendekatan berbasis pengalaman diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran masyarakat bahwa sampah plastik bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah.

Ikuti WhatsApp Channel

Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!

Join Channel

Advertisement

Artikel Terkait