Di Tengah Status Relawan, Guru di Trenggalek Ciptakan Aplikasi Belajar Android untuk Siswa SD
Di tengah statusnya sebagai relawan guru, Fredika Ramanda Putra mengembangkan aplikasi pembelajaran Android yang kini digunakan siswa SDN 2 Gandusari Trenggalek.
06 Aug 2026 • 08:00 WIB
Relawan Guru Trenggalek bikin aplikasi pembelajarran berbasis android. KBRT/Dok Fredika
Ringkasan
- Relawan guru ciptakan aplikasi.
- Digunakan siswa kelas 2 SD.
- Berawal dari riset saat kuliah.
TRENGGALEK - Status sebagai relawan guru di trenggalek tak menyurutkan semangat Fredika Ramanda Putra untuk berinovasi. Di tengah ketidakpastian status kepegawaiannya, lulusan STKIP PGRI Trenggalek itu justru menciptakan aplikasi pembelajaran berbasis Android agar siswa lebih mudah belajar, baik di sekolah maupun di rumah.
Pemuda asal Desa Sukorejo, Kecamatan Gandusari, tersebut kini mengabdikan diri sebagai relawan guru kelas 2 di SDN 2 Gandusari. Berbekal pengalaman selama kuliah hingga terjun langsung mengajar, ia mengembangkan aplikasi bernama Segarda untuk siswa Kelas 2 yang kini mulai diterapkan.
Aplikasi versi 1.0 itu memuat lima mata pelajaran, tidak termasuk Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) serta Pendidikan Agama. Selain materi pelajaran, tersedia pula buku digital, lagu kebangsaan, lagu daerah, lagu anak, permainan edukasi, menu perkembangan nilai siswa, hingga informasi pengembang.
Advertisement
Fredika mengatakan, ide membuat aplikasi tersebut berawal saat dirinya mengikuti lomba media pembelajaran tingkat nasional di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ketika masih duduk di bangku kuliah semester lima.
"Waktu di kuliah semester lima mengikuti lomba media pembelajaran di Unesa tingkat nasional dan mendapat juara tiga tingkat nasional," kata Fredika.
Pengalaman itu kemudian menjadi pijakan untuk mengembangkan media pembelajaran melalui skripsinya pada 2023 yang berjudul Pengembangan Media Pembelajaran Aplikasi Game Edutainment untuk Meningkatkan Keterampilan Berbicara Siswa Kelas 3 SD.
Setelah lulus kuliah, Fredika memilih mengabdi sebagai relawan guru di SDN 2 Gandusari sembari menjalani pekerjaan sebagai freelance. Selama mengajar, ia melihat masih banyak siswa yang cenderung pasif saat mengikuti pembelajaran. Di sisi lain, hampir seluruh siswa sudah terbiasa menggunakan telepon genggam milik orang tua mereka.
Pengalaman itu mendorongnya mengembangkan aplikasi pembelajaran yang sederhana dan mudah digunakan anak-anak sekolah dasar.
"Pertama untuk meningkatkan rasa ingin tahu siswa yang awalnya pasif menjadi aktif. Setelah itu untuk membantu siswa dalam pembelajaran di rumah. Karena siswa kelas 2 SD sudah mengenal internet dan HP, kalau bisa belajar dalam genggaman kenapa tidak diaplikasikan," ujar Fredika.
Menurut dia, aplikasi tersebut dikerjakan selama kurang lebih tiga bulan. Sebelum diterapkan, aplikasi lebih dulu diuji coba dan tidak ditemukan kendala teknis maupun bug yang mengganggu penggunaan.
Sekolah kemudian melakukan sosialisasi kepada orang tua siswa karena sebagian besar peserta didik menggunakan telepon genggam milik orang tua untuk mengakses aplikasi tersebut.
"Waktu sosialisasi, masukan yang muncul pertama terkait cara penginstalan. Setelah dicoba ternyata cukup simpel dan mudah digunakan untuk belajar," jelasnya.
Fredika menerangkan, aplikasi itu dapat digunakan tanpa proses login sehingga memudahkan siswa mengakses seluruh fitur. Aplikasi dipasang sekitar sepekan dalam tahun ajaran baru dan kini digunakan hampir setiap hari dalam kegiatan belajar mengajar.
Selain menjadi media pembelajaran di kelas, guru juga memanfaatkan aplikasi tersebut untuk menyampaikan materi dan tugas yang dikerjakan siswa di rumah.
Inovasi yang dibuat Fredika mendapat respons positif dari rekan sesama guru. Guru kelas 5 SDN 2 Gandusari, Palupi Mahardika, mengaku tertarik menerapkan konsep serupa di kelas yang diampunya.
"Kami tertarik untuk mengadopsi hal itu, karena ini memudahkan siswa untuk belajar. Saat ini sudah zamannya semua menggunakan gadget, agar lebih bermanfaat gadget juga sebagai perantara media pembelajaran termasuk diisi oleh aplikasi ini," ujar Palupi.
Bagi Fredika, aplikasi Segarda Kelas 2 bukan sekadar media belajar digital. Di tengah pengabdiannya sebagai relawan guru, ia ingin menghadirkan pembelajaran yang lebih dekat dengan keseharian siswa.
Pemanfaatan teknologi, menurutnya, bukan untuk menggantikan peran guru, melainkan menjadi sarana agar anak-anak lebih tertarik belajar di era digital. Di tengah status yang belum pasti, ia memilih tetap berkarya dan memberikan manfaat melalui inovasi yang lahir dari ruang kelas.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
Advertisement
Artikel Terkait
Resah Terhadap Kriminalisasi, Guru Trenggalek Minta Payung Hukum Jelas di DPRD
158 Sekolah di Trenggalek Kekurangan Murid, DPRD Wacanakan Penggabungan SD dan SMP
Cara Absen Menggunakan Aplikasi ANDAL by Taspen
Sekolah Rakyat Trenggalek Diisi Program Taruna Bakti, Siswa Digembleng Disiplin hingga Bela Negara
Data Jumlah Fasilitas Pendidikan Taman Kanak-kanak di Kabupaten Trenggalek