Guru SMK Trenggalek Terpilih Tampil di Istana Merdeka pada HUT ke-81 RI
Guru SMK Darussalam Durenan, Yuliana Dwi Handayani, terpilih tampil menari bersama tim Jawa Timur di Istana Merdeka pada HUT ke-81 RI.
13 Aug 2026 • 10:00 WIB
Guru Trenggalek bakal menari di Istana Merdek saat HUT Republik Indonesia. KBRT/Zamz
Ringkasan
- Yuliana terpilih tampil di Istana Merdeka.
- Ia mewakili tim tari Jawa Timur.
- Latihan intensif dimulai sejak 28 Juli 2026.
TRENGGALEK – Guru SMK Darussalam Durenan, Kabupaten Trenggalek, Yuliana Dwi Handayani, terpilih menjadi salah satu penari yang akan tampil di Istana Merdeka, Jakarta, dalam rangka peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2026.
Yuliana akan tampil bersama tim dari Jawa Timur dalam pertunjukan tari kolosal yang digelar secara bergantian dengan provinsi lainnya. Setiap tim provinsi mendapatkan durasi penampilan sekitar lima menit.
Yuliana yang merupakan anggota Sanggar Lestari Widodo Wiryotomo (LWW) tersebut kini telah bertolak ke Jakarta untuk mengikuti rangkaian persiapan sebelum tampil pada upacara dan peringatan HUT ke-81 RI.
Advertisement
Ia mengatakan, dirinya tidak melalui proses pendaftaran secara langsung untuk mengikuti pertunjukan tersebut. Yuliana terpilih setelah Pemerintah Provinsi Jawa Timur memilih sejumlah sanggar tari untuk terlibat dalam pertunjukan.
Selanjutnya, sanggar menentukan penari yang akan menjadi bagian dari tim Jawa Timur.
"Kalau dari Trenggalek itu yang tari topeng cuma beberapa orang. Tapi yang dipanggil itu Sanggar LWW. Kebetulan saya ikut Sanggar LWW, jadi alhamdulillah terpilih untuk ikut menjadi penarinya," ujar Yuliana Dwi Handayani saat dikonfirmasi.
Sanggar LWW yang menjadi tempat Yuliana bergabung berada di Desa Batangsaren, Kecamatan Kauman, Kabupaten Tulungagung.
Persiapan untuk tampil di Istana Merdeka dilakukan secara intensif sejak 28 Juli 2026. Latihan berlangsung mulai sekitar pukul 14.00 hingga 15.00 WIB dan berlanjut hingga malam hari.
Menurut Yuliana, persiapan tidak hanya berfokus pada kemampuan menari, tetapi juga kondisi fisik dan mental. Hal itu karena pertunjukan akan digelar di lapangan Istana Merdeka sehingga membutuhkan stamina yang kuat.
"Untuk persiapannya yang penting itu fisik sama mentalnya. Soalnya tampilnya di lapangan Istana, jadi membutuhkan fisik yang kuat," bebernya.
Dalam pertunjukan tersebut, tim Jawa Timur akan membawakan sejumlah kesenian yang dirangkai menjadi satu pertunjukan tari kolosal.
Kesenian yang dibawakan di antaranya Tari Remo, Tari Glipang, Jaranan, Tari Jaripah, dan Topeng Malang.
Yuliana mengatakan, tim dari setiap provinsi mendapatkan durasi penampilan sekitar lima menit.
"Durasi lima menit saja, soalnya semua dirata lima menit setiap provinsi," ujarnya.
Tim yang mewakili Jawa Timur dalam pertunjukan tersebut berasal dari Sanggar LWW. Sejumlah jenis tarian kemudian dikemas menjadi satu kesatuan pertunjukan kolosal.
Menjelang pelaksanaan, latihan para penari semakin diintensifkan. Sebelumnya, latihan dilakukan di Aula Semuger. Kemudian, mendekati hari pelaksanaan, lokasi latihan dipindahkan ke GOR.
Dalam beberapa sesi latihan tersebut, penampilan para penari juga dipantau pejabat Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Tulungagung karena latihan berlangsung di GOR Lembu Peteng Tulungagung.
"Lebih ke intens ke latihannya saja kalau persiapannya. Untuk persiapan kostum itu sudah disiapkan sama kru, dari penata rias sama penata kostum," jelasnya.
Meski telah menjalani berbagai persiapan, Yuliana mengaku belum mengetahui secara pasti waktu penampilan timnya dalam rangkaian acara 17 Agustus 2026.
Menurutnya, pihaknya masih menunggu rundown resmi, termasuk jadwal penampilan setelah pengibaran maupun rangkaian acara lainnya.
Untuk sementara, para penari masih fokus mengikuti gladi kotor dan gladi bersih menjelang pelaksanaan.
Yuliana merupakan alumni Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta tahun 2024. Kesempatan tampil di Istana Merdeka menjadi pengalaman tersendiri baginya sekaligus motivasi untuk terus melestarikan seni dan budaya.
Sebagai seorang guru, ia berpesan agar masyarakat, khususnya generasi muda, tidak menganggap seni sebagai sesuatu yang tabu.
"Jangan sampai kita meremehkan seni. Karena seni itu memang jangan pernah menganggap seni sebagai hal tabu. Dengan seni itu kita bisa berkeliling dunia," tuturnya.
Menurut Yuliana, seni juga dapat menjadi sarana untuk mengenal kebudayaan dari berbagai daerah. Karena itu, ia berharap para pegiat seni terus berkarya dan tidak ragu mengembangkan potensi kesenian yang dimiliki.
Ia menilai seni memiliki peran penting dalam memperkenalkan budaya antardaerah sekaligus membuka kesempatan bagi seseorang mendapatkan pengalaman yang lebih luas.
"Dengan seni itu kita bisa berkeliling dunia gitu. Bisa tahu budaya-budaya antarkota. Karena kebanyakan kalau di area yang Islam kayak Islam yang kental itu bisa kayak jangan ikut seni gitu," akuinya.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
Advertisement
Artikel Terkait
Di Tengah Status Relawan, Guru di Trenggalek Ciptakan Aplikasi Belajar Android untuk Siswa SD
Resah Terhadap Kriminalisasi, Guru Trenggalek Minta Payung Hukum Jelas di DPRD
Serikat Suket Hadirkan Mangsa Mangsi 2, Pameran Seni Inklusif Bertema Solidaritas Palestina
Cara Update Data MAGIS Melalui EMIS GTK Bagi Guru Sertifikasi
Ini Alasan Dana PIP Belum Cair, Simak Cara Atasinya di Sini