Desa Wisata Durensari Trenggalek Tak Lagi Andalkan Musim Durian, Kini Tawarkan Forest Wellness Tourism
Desa Wisata Durensari Trenggalek mulai mengembangkan Forest Wellness Tourism agar wisata tetap hidup sepanjang tahun, tak hanya saat musim durian
16 Jul 2026 • 20:00 WIB
Wisata Duren Sari Trenggalek tidak hanya andalkan musim durian untuk manjakan pengunjung. KBRT/Dok Pribadi
Ringkasan
- Desa Wisata Durensari mulai mengembangkan konsep Forest Wellness Tourism agar kunjungan wisata tidak hanya ramai saat musim durian.
- Inovasi "Nyawidji Alam Rasa" digagas Raki Trenggalek 2026 Jenna Adelya Fansdena dengan melibatkan Pokdarwis dan masyarakat setempat.
- Program menggabungkan wisata alam, pemberdayaan warga, serta promosi digital untuk memperkuat pariwisata berkelanjutan di Watulimo.
TRENGGALEK – Selama ini nama Desa Wisata Durensari di Kecamatan Watulimo identik dengan panen durian. Begitu musim berakhir, jumlah wisatawan ikut menurun. Kondisi itu mendorong lahirnya gagasan agar desa wisata tersebut tetap memiliki daya tarik sepanjang tahun.
Berangkat dari persoalan tersebut, Jenna Adelya Fansdena, Raki Perwakilan Kabupaten Trenggalek dalam ajang Pemilihan Raka Raki Jawa Timur 2026, menggagas inovasi Nyawidji Alam Rasa. Program ini menawarkan konsep Forest Wellness Tourism atau wisata pemulihan berbasis alam dengan melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama.
Alih-alih hanya menjual buah durian, Jenna ingin Durensari dikenal sebagai tempat bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana hutan, sungai yang masih alami, hingga ketenangan pedesaan.
Advertisement
"Durensari punya lebih dari sekadar durian. Ada air terjun, aliran sungai yang jernih, hutan yang masih asri, dan masyarakat yang hangat menyambut siapa pun yang datang. Lewat Nyawidji Alam Rasa, saya ingin memastikan potensi itu bisa dinikmati sepanjang tahun, tidak hanya saat musim panen tiba, sekaligus memberi manfaat nyata bagi masyarakat yang menjaganya," ujar Jenna.
Konsep yang diusung bukan tanpa dasar. Berbagai penelitian mengenai forest bathing atau shinrin-yoku menunjukkan bahwa aktivitas di kawasan hutan dapat membantu menurunkan hormon kortisol yang berkaitan dengan stres. Lingkungan alami juga dinilai mampu meningkatkan aktivitas sistem saraf parasimpatik yang membuat tubuh lebih rileks.
Prinsip tersebut kemudian diterapkan dalam pengembangan wisata di Durensari. Pengunjung nantinya tidak hanya datang untuk menikmati panorama alam, tetapi juga merasakan pengalaman relaksasi melalui suasana hutan, aliran sungai, dan lingkungan pedesaan yang masih terjaga.
Program ini mulai dirintis sejak Juni 2026 melalui diskusi bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Durensari. Sejumlah pelatihan diberikan untuk memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengelola destinasi sekaligus menyusun paket wisata baru bertajuk Laras Jiwa.
Selain pengembangan produk wisata, program juga mencakup promosi digital destinasi serta pemberdayaan pelaku UMKM agar manfaat ekonomi tidak hanya dirasakan pengelola wisata, tetapi juga warga sekitar.
Salah seorang anggota Pokdarwis mengaku optimistis dengan arah pengembangan tersebut.
"Kami jadi lebih semangat lagi karena ada banyak hal lain yang bisa ditawarkan."
Melalui konsep tersebut, Durensari diharapkan mampu membangun identitas baru sebagai destinasi Forest Wellness Tourism di Trenggalek. Tidak hanya memperpanjang masa kunjungan wisatawan di luar musim durian, tetapi juga memperkuat peran masyarakat dalam mengelola pariwisata sekaligus menjaga kelestarian alam.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
Advertisement
Artikel Terkait
Rekomendasi Liburan Tahun Baru, Menjajaki Goa Lowo Trenggalek Terpanjang Se-Asia Tenggara
Tak Sekadar Lihat Penyu, Wisatawan di Pantai Kili-Kili Kini Bisa Sulap Sampah Plastik Jadi Suvenir
Libur Sekolah Bikin Wisata Trenggalek Bergairah, Pantai Pelang Catat Lonjakan Pengunjung 50 Persen
Pantai Watulimo Diprediksi Membludak Saat Libur Iduladha, Polisi Mulai Pasang Strategi
Berapa tarif Bermain Jetski di Pasir Putih Trenggalek? Simak Rinciannya