Anak Muda Trenggalek Mulai Kepincut Belajar Filosofi Keris, Sarasehan Panji Patrem Diserbu Mahasiswa KKN

Sarasehan Ngaji Pusaka Panji Patrem di Trenggalek menarik minat mahasiswa KKN dan warga untuk mengenal filosofi keris sebagai warisan budaya.

Anak Muda Trenggalek Mulai Kepincut Belajar Filosofi Keris, Sarasehan Panji Patrem Diserbu Mahasiswa KKN

Sarasehan pusaka di Kecamatan Karangan Trenggalek. KBRT/Zamz

Ringkasan

  • Mahasiswa KKN Universitas Negeri Malang antusias mengikuti sarasehan Ngaji Pusaka Panji Patrem di Desa Karangan.
  • Peserta diajak memahami filosofi keris sebagai identitas budaya, bukan sekadar benda pusaka.
  • Panji Patrem berencana menggelar forum budaya ini secara rutin setiap bulan.

TRENGGALEK – Keris sering kali dianggap sekadar benda kuno yang identik dengan koleksi atau dunia perkerisan. Namun anggapan itu perlahan berubah. Belasan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Belajar Masyarakat (KKN-BM) Universitas Negeri Malang (UM) justru antusias mengikuti sarasehan budaya bertajuk Ngaji Pusaka Panji Patrem di Griya Joglo Mbah Lurah Kowor, Desa Karangan, Kecamatan Karangan, Kamis (25/6/2026) malam.

Mereka duduk bersama warga, berdiskusi, hingga aktif mengajukan pertanyaan seputar filosofi keris yang selama ini jarang mereka pelajari di bangku kuliah.

Ketua Panji Patrem, Mamba Udin Safi'i, mengatakan kegiatan tersebut sengaja dirancang sebagai ruang belajar budaya agar generasi muda memahami bahwa keris bukan hanya senjata tradisional, melainkan juga bagian dari identitas bangsa.

Advertisement

"Ya (edukasi) berkaitan apa itu keris, keris sebagai identitas bangsa, identitas diri. Kemudian filosofi dari sebuah keris sendiri itu sendiri bagaimana berkaitan dengan kehidupan," ujarnya.

Menurut Mamba, forum itu mempertemukan masyarakat Desa Karangan dengan mahasiswa KKN dalam suasana santai sehingga diskusi berjalan lebih hidup.

"Acara sarasehan malam ini dihadiri oleh masyarakat Desa Karangan, juga ada mahasiswa Desa Karangan yang kebetulan sedang KKN di sini. Jadi, warga Karangan dan mahasiswa KKN melebur menjadi satu," katanya.

Ia menjelaskan materi yang dibahas tidak sebatas mengenalkan bentuk keris. Peserta juga diajak memahami makna filosofis di balik pusaka Nusantara, termasuk nilai-nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya.

Antusiasme peserta terlihat saat sesi diskusi berlangsung. Berbagai pertanyaan muncul dari mahasiswa maupun warga yang penasaran dengan sejarah dan filosofi perkerisan.

"Tadi juga ada sesi tanya jawab. Alhamdulillah, mereka memberikan pertanyaan-pertanyaan yang berbobot yang sesuai dengan pemikiran mereka. Setidaknya, forum ini memberikan pencerahan kepada mereka tentang sebuah keris atau sebuah pusaka," imbuhnya.

Melihat respons yang positif, Panji Patrem berencana menjadikan sarasehan budaya tersebut sebagai agenda rutin setiap bulan di Griya Joglo Mbah Lurah Kowor.

Bagi peserta, forum itu menjadi pengalaman baru yang membuka wawasan tentang budaya Jawa.

Salah satunya dirasakan Erivia Putri Yubi Andhika, mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Malang yang sedang menjalani KKN di Desa Karangan.

Ia mengaku baru pertama kali mengikuti diskusi yang membahas dunia perkerisan secara mendalam.

"Sangat seru dan sangat insightfull. Karena dari acara ini banyak mendapatkan pengetahuan banyak sekali yang sebelumnya tidak ketahui," ujar Erivia.

Menurutnya, kegiatan seperti ini penting karena masih banyak generasi muda yang belum memahami makna keris di balik bentuk fisiknya.

"Harapan ke depan, masyarakat itu tidak hanya kita, tetapi semuanya mengetahui sebetulnya apa sih itu keris," katanya.

Sarasehan tersebut juga dihadiri Ketua DPRD Trenggalek, Doding Rahmadi. Ia menilai kegiatan semacam ini menjadi langkah positif untuk menjaga keberlangsungan budaya Jawa, khususnya tradisi perkerisan.

Menurut Doding, komunitas pecinta keris di Trenggalek menunjukkan perkembangan yang semakin baik. Edukasi kepada mahasiswa maupun masyarakat dinilai penting agar warisan budaya tidak berhenti pada generasi tertentu.

"Di Trenggalek itu memang semakin baik ya untuk rekan-rekan penggemar pusaka keris. Sehingga, kegiatan-kegiatan perkerisan melalui ngaji pusaka dengan mahasiswa supaya lebih pahamlah tentang budaya kita," katanya.

Ia menambahkan, keris merupakan warisan budaya yang telah diakui dunia sehingga pelestariannya membutuhkan keterlibatan berbagai kalangan, terutama generasi muda.

"Kita berharap untuk pelestarian kebudayaan, khususnya perkerisan, itu terus berjalan dan semakin bagus. Sehingga upaya untuk melestarikan budaya luhur itu bisa terlaksana," ujarnya.

Ikuti WhatsApp Channel

Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!

Join Channel

Advertisement

Artikel Terkait