TRENGGALEK - Gemerlap lampu di tengah Hutan Kota Trenggalek mendadak terasa lebih sunyi saat pertunjukan Tari Samohung dimulai, Jumat (15/05/2026) malam. Bukan cuma soal gerak tari, penampilan ini sukses bikin penonton larut dalam pesan tentang hutan dan hubungan manusia dengan alam.
Tari bertajuk “Hutan?” itu menjadi salah satu penampilan yang paling menyita perhatian dalam rangkaian acara Trenggalek Menari 5. Nuansa ekologis terasa kuat sejak awal pertunjukan, mulai dari properti panggung hingga narasi yang dibawakan para penari.
Koordinator Panitia Trenggalek Menari, Rhesajaya, mengatakan konsep pertunjukan sengaja dibuat menyatu dengan lokasi acara yang digelar di kawasan hutan kota.
“Kalau tari sekarang itu karya dari Samohung yang mengangkat hutan, karena tempatnya di hutan. Kemudian dia mengangkat bagaimana kami merawat hutan,” ujar Rhesajaya.
Menurutnya, karya tersebut merefleksikan kondisi alam yang selama ini sering diabaikan manusia. Bahkan dalam pertunjukan, muncul pesan bernada lirih seperti “ewangana aku” dan “mesakna aku” yang menggambarkan hutan seolah sedang berbicara kepada manusia.
“Dia merefleksikan dirinya hutan. Kalau diri sendiri tidak bersih siapa yang menjaga dia,” lanjutnya.
Atmosfer pertunjukan makin terasa hidup dengan properti artistik yang dibangun bersama para seniman dan relawan. Unsur ranting, sambungan kayu, hingga benang simbol keterhubungan makhluk hidup dipasang untuk memperkuat pesan ekologis dalam karya tersebut.
Bukan sekadar hiburan, Tari Samohung malam itu juga terasa seperti ajakan refleksi bersama. Dalam sinopsis karya, penonton diajak memikirkan ulang hubungan manusia dengan lingkungan.
“Malam ini aku mengajak berpikir, jika kalian berkenan. Tentang apa jawaban dari pertanyaan: sudahkah kita merawat lingkungan dan alam?” begitu penggalan narasi dalam pertunjukan.
Rhesajaya menyebut Trenggalek Menari tahun ini memang mencoba menghadirkan ruang pertunjukan yang lebih dekat dengan alam dan ekspresi personal para seniman.

Trenggalek Menari 5 sendiri sudah dimulai sejak 9 Mei 2026 lewat workshop “Nyantrik 1”. Kemudian pada 10 Mei, panitia berkolaborasi dengan sanggar tari di Trenggalek melalui ruang Car Free Day untuk promosi event sekaligus merchandise.
Selanjutnya pada 15 Mei 2026 digelar pertunjukan bertajuk “Arsitektur Jiwa”. Menurut Rhesajaya, tema itu dipilih karena manusia dianggap sebagai “arsitek” bagi jiwanya sendiri.
“Jiwa dari manusia terbentuk dari tubuh, dari raga manusia sendiri. Jadi manusia itu arsitek jiwa,” jelasnya.
Sementara pada 16 Mei sore, panitia juga mengadakan kelas yoga bersama komunitas Mis Kala sebelum malam harinya kembali ditutup dengan pertunjukan karya seni.
Meski sempat pesimistis karena lokasi Hutan Kota Trenggalek lama tidak dipakai untuk pertunjukan, antusiasme penonton justru di luar dugaan.
“Penonton cukup ramai. Kemarin sempat pesimis memakai tempat seperti hutan kota karena lama tidak digunakan pertunjukan,” ungkapnya.
Jumlah peserta tahun ini juga meningkat. Jika tahun lalu dibatasi 18 peserta, kini Trenggalek Menari 5 diikuti 21 peserta dalam dua hari kegiatan.
Kabar Trenggalek - Sosial
Editor: Zamz


















