Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini

Press ESC / Click X icon to close

Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini
LoginKirim Artikel

Mengenal Tradisi Nyadran Tirtha Wening Belik Sumbergedong Trenggalek

KBRT - Kabupaten Trenggalek, tidak hanya sekedar dianugerahi pesona alam yang memukau, tetapi juga beragamnya warisan leluhur yang masih terjaga keasliannya. Salah satu warisan yang penuh dengan makna spiritual dan sosial adalah Tradisi Ritual Nyadran Tirta Wening Belik Sumbergedong.

Ritual adat Tirta Wening ini, digelar setahun sekali dan merupakan bentuk refleksi spiritual, rasa syukur, sekaligus komitmen kolektif masyarakat dalam menjaga ekosistem alam. Supaya kalian bisa lebih paham tentang tradisi Trenggalek, yuk kita kenal lebih dekat bagaimana asal-usul, makna, hingga upaya pelestarian tradisi sakral ini.

Awal Mula dan Sejarah Tradisi Nyadran Tirta Wening

Setiap tradisi adat selalu lahir dari jejak sejarah dan sistem kepercayaan masyarakat masa lalu. Berdasarkan informasi dari laman e-jurnal UNESA yang dibuat oleh Mela Yunitasari Melayu.

Awal mula pembukaan Tradisi Ritual Nyadran Tirta Wening Belik Sumbergedong yang berkembang hingga saat ini, merupakan masa lalu dari Kakek Patih Singo Manggolo Yudo sebagai cikal bakal Desa Sumbergedong.

Sumber air atau belik Sumbergedong, dibangun oleh Eyang Singo Manggolo Yudo dengan metode dinding atau tembok pada bangunan. Karena daerah tersebut belum mempunyai nama akhir, atas wasiat atau perintah kakek Patih Singo Manggolo Yudo, maka kata sumber dan bangunan digabungkan menjadi SUMBERGEDONG.

Dari kerja keras Kakek Patih Singo Manggolo Yudo, masyarakat Kecamatan Sumbergedong dapat bercocok tanam dengan subur dan sejahtera, serta dalam keadaan sehat., kesejahteraan dan kemakmuran.

ADVERTISEMENT

Belik atau mata air ini sejak dahulu kala merupakan urat nadi kehidupan dan sumber air utama yang menopang seluruh penghidupan serta aktivitas domestik masyarakat di sekitarnya.

Sebagai bentuk penghormatan terhadap alam yang telah menyediakan air bersih tanpa henti, para leluhur menghadirkan Nyadran Tirta Wening ini sebagai sebuah ritual tahunan.

Bentuk, dan Struktur Pelaksanaan Ritual

Pelaksanaan ritual Nyadran Tirta Wening tidak boleh dilakukan secara sembarangan karena memiliki aturan adat yang ketat. Berdasarkan urutan pelaksanaannya, prosesi ritual ini dibagi menjadi dua tahapan utama:

  • Persiapan, melibatkan koordinasi warga, penentuan hari baik, pembersihan area sekitar Belik Sumbergedong secara gotong-royong, hingga penyiapan berbagai ubarampe atau sesaji khusus.
  • Tahap inti tradisi ini, dimulai dengan pembukaan resmi tradisi ritual, pembacaan doa-doa keselamatan, hingga prosesi pelarungan atau penyucian menggunakan Tirta Wening (air bening/suci) dari mata air tersebut.

Setiap bentuk fisik dan properti yang digunakan dalam ritual ini memiliki makna simbolis yang mendalam, mencerminkan permohonan agar masyarakat selalu diberikan kedamaian, keberkahan, serta dijauhkan dari marabahaya.

Strategi dan Upaya Melestarikan Tradisi

Perubahan zaman yang sangat cepat, memunculkan kesadaran bersama akan pentingnya upaya pelestarian tradisi dan budaya luhur, agar tidak punah digilas modernisasi. Beberapa tata cara dan langkah nyata yang dapat kita lakukan untuk menjaga Tradisi Nyadran Tirta Wening adalah sebagai berikut:

  • Kita dapat rutin melakukan ritual nyadran secara bersih dan khidmat langsung di desa tempat Belik Sumbergedong berada.
  • Kita juga bisa memperkenalkan, melibatkan, dan mengedukasi anak cucu serta keturunan muda mengenai tata cara dan esensi penting di balik ritual ini sejak dini.
  • Mengemas kegiatan budaya ini ke dalam bentuk dokumentasi digital, juga dapat menjadi cara kita melestarikan budaya ini, agar bisa diakses oleh masyarakat luas melalui media sosial.

Kabar Trenggalek - Trenggalekpedia

Editor: Zamz