Rontgen Portabel Dibawa ke Desa, Dinkes Trenggalek Jemput Bola Deteksi TBC
Dinkes Trenggalek membawa rontgen portabel ke desa untuk mendukung skrining TBC yang terintegrasi dengan Cek Kesehatan Gratis.
28 Aug 2026 • 10:00 WIB
Cek Kesehatan di Desa bawa Rontgen pendeteksi TBC. KBRT/Zamz
Ringkasan
- Dinkes Trenggalek mengintegrasikan skrining TBC dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
- Pemeriksaan rontgen dilakukan menggunakan alat portabel yang bisa dibawa langsung ke desa.
- Capaian CKG Trenggalek sekitar 50 persen dengan target 60 persen penduduk hingga akhir 2026.
TRENGGALEK - Tak perlu menunggu warga datang ke fasilitas kesehatan, Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Kabupaten Trenggalek mulai membawa pemeriksaan rontgen untuk mendeteksi Tuberkulosis (TBC) langsung ke desa.
Layanan tersebut diterapkan saat Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang terintegrasi dengan skrining TBC di Balai Desa Pogalan, Kecamatan Pogalan, Rabu (26/8/2026).
Warga cukup datang ke balai desa untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan dasar hingga rontgen menggunakan peralatan radiologi portabel.
Advertisement
Salah satu warga yang memanfaatkan layanan tersebut adalah Satirin (71), warga RT 15 Desa Ngulanwetan, Kecamatan Pogalan. Ia mengikuti pemeriksaan mulai dari berat badan, tinggi badan, tekanan darah, kadar gula darah hingga rontgen dada untuk skrining TBC.
"Tadi juga diperiksa tensi 120, kemudian berat badan 46 kilogram. Kalau dari tes gula 109," ujar Satirin setelah menjalani pemeriksaan rontgen.
Satirin kemudian diarahkan menuju ruangan khusus yang disiapkan petugas. Setelah mengenakan alat pelindung diri (APD), ia berdiri di depan perangkat rontgen dan menempelkan bagian dada pada alat tersebut.
Beberapa detik kemudian, gambar hasil pemeriksaan langsung masuk ke laptop petugas yang berada di luar ruangan. Hasil tersebut selanjutnya diteruskan kepada dokter untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Bagi Satirin, keberadaan layanan tersebut membuat pemeriksaan kesehatan terasa lebih mudah. Ia tidak perlu pergi jauh ke fasilitas kesehatan dan tidak dipungut biaya.
"Tadi juga di cek skrining TBC Alhamdulillah tidak (Tuberkulosis) ada, sehat. Ya seperti itu," ucapnya lirih.
Ia mengaku baru pertama kali mengikuti CKG. Sebelumnya, ia lebih sering memeriksakan diri ketika mengalami keluhan kesehatan.
"Sebelumnya periksa harus di pokoknya ketika tidak sehat atau mumet di mantri. Kalau ini cukup terbantu karena gratis," tandasnya.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes PPKB Kabupaten Trenggalek, drg. Andiek Muarifin, mengatakan integrasi CKG dengan skrining TBC dilakukan untuk mempercepat penemuan kasus penyakit menular tersebut.
"Hari ini kita melakukan kegiatan tracing penyakit TBC yang terintegrasi dengan pemeriksaan cek kesehatan gratis," ujar drg. Andiek.
Melalui kegiatan itu, warga mendapatkan pemeriksaan tekanan darah untuk mendeteksi hipertensi, skrining diabetes melitus, sekaligus pemeriksaan TBC.
"Jadi, pasien-pasien atau yang hadir di Balai Desa Pogalan ini akan dilakukan pemeriksaan mulai dari tensi, apakah hipertensi, kemudian skrining diabetes melitus. Kemudian yang paling penting juga adalah penyakit TBC," jelasnya.
Menurut drg. Andiek, penggabungan dua program tersebut membuat CKG tidak hanya menyasar penyakit tidak menular. Skrining juga diarahkan untuk menemukan penyakit menular yang berpotensi belum terdeteksi di masyarakat.
"Jadi, ini diintegrasikan. Ada dua program, CKG dan tuberkulosis, dan dilakukan bersama-sama," jelasnya.
Untuk mendukung skrining TBC, Dinkes PPKB Trenggalek memperoleh satu unit peralatan radiologi portabel dari Kementerian Kesehatan.
Berbeda dengan perangkat radiologi yang berada secara permanen di rumah sakit atau fasilitas kesehatan, alat tersebut dapat dipindahkan ke berbagai lokasi sesuai kebutuhan pemeriksaan.
"Portable radiologi ini artinya alat radiologi yang bisa kita lebih fleksibel, bisa dibawa ke mana-mana, tidak statis di suatu tempat, misalnya di rumah sakit," imbuhnya.
Konsep tersebut sekaligus menjadi upaya Dinkes PPKB mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. Pemeriksaan dapat dilakukan di desa sehingga warga tidak harus datang ke fasilitas kesehatan yang lokasinya lebih jauh.
"Untuk menjemput bola. Jadi, masyarakat tidak harus datang ke faskes, cukup ke desa yang dekat," ujarnya.
Saat ini, Dinkes PPKB Trenggalek baru memiliki satu unit radiologi portabel. Namun, pihaknya berharap tambahan satu unit dari Kementerian Kesehatan segera terealisasi.
"Ini baru satu unit. Insyaallah kemarin dari Kementerian Kesehatan juga mau mengirim lagi satu. Mudah-mudahan nanti bisa terealisasi," kata drg. Andiek.
Keterbatasan alat membuat pemeriksaan harus dilakukan secara bertahap. Dalam kegiatan di Balai Desa Pogalan, awalnya sekitar 100 warga yang diundang.
Namun, jumlah warga yang mendaftar justru mencapai sekitar 120 orang.
"Alat ini sendiri juga punya maksimum kapasitas. Sehingga hari ini yang diundang kurang lebih 100. Tapi nampaknya animo masyarakat cukup tinggi. Tadi yang mendaftar saya cek sudah 100 lebih, 120-an," ungkapnya.
Warga yang belum terlayani akan dipertimbangkan untuk mendapatkan jadwal pemeriksaan berikutnya, terutama di lokasi yang menunjukkan antusiasme tinggi.
"Manakala hari ini belum bisa ter-cover semua, kita akan coba lihat lagi apakah nanti kita buat reschedule jadwal di tempat-tempat yang memang animonya bagus," jelasnya.
Di sisi lain, pelaksanaan CKG di Kabupaten Trenggalek hingga Agustus 2026 telah mencapai sekitar 50 persen dari target.
Dinkes PPKB menargetkan cakupan CKG mencapai 60 persen dari jumlah penduduk hingga akhir 2026.
"Untuk CKG saat ini sekitar kurang lebih 50 persen. Targetnya adalah 60 persen dari penduduk," ujar drg. Andiek.
Program tersebut menyasar seluruh kelompok usia atau siklus hidup. Mulai dari ibu hamil, bayi, balita, remaja, dewasa hingga lanjut usia.
"Yang dilakukan pemeriksaan cek kesehatan gratis itu meliputi semua kelompok usia atau siklus hidup. Jadi, mulai ibu hamil dan bayi, balita, remaja, dewasa, dan lansia," jelasnya.
Skrining CKG juga mulai menyasar lingkungan sekolah sejak tahun ajaran baru pada Juli 2026.
"Di bulan Juli kemarin, tahun ajaran baru, kita sudah mulai. Beberapa sekolah sudah dilakukan skrining," katanya.
Pelaksanaan di sekolah akan dilanjutkan untuk siswa SD, SMP, dan SMA yang belum mendapatkan pemeriksaan.
Sementara itu, penemuan kasus TBC masih menjadi pekerjaan rumah bagi Dinkes PPKB Trenggalek.
drg. Andiek menyebut capaian penemuan kasus saat ini baru sekitar 40 persen dari target yang ditetapkan.
Menurutnya, rendahnya penemuan kasus berpotensi membuat penderita TBC yang belum terdeteksi di masyarakat masih cukup banyak.
"Kalau penyakit menular kita harus menemukan segera sebanyak-banyaknya. Karena khawatirnya kalau temuannya rendah, dikhawatirkan seperti fenomena gunung es," ujarnya.
Karena itu, skrining tidak hanya diberikan kepada warga yang memiliki gejala. Masyarakat tanpa gejala juga menjadi sasaran pemeriksaan.
"Dalam rangka hari ini kita coba menyisir orang-orang yang tidak ada gejala pun kita lakukan pemeriksaan atau skrining," jelasnya.
Kelompok dengan risiko lebih tinggi menjadi salah satu sasaran utama, termasuk orang yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC.
Misalnya, anggota keluarga yang tinggal bersama pasien TBC perlu mendapatkan pemeriksaan. Begitu pula orang yang sering berinteraksi dengan pasien di lingkungan kerja atau lingkungan lainnya.
Skrining juga menyasar kelompok dengan penyakit kronis yang dapat meningkatkan risiko, seperti diabetes melitus dan HIV.
"Kelompok-kelompok yang rentan ini khususnya, tapi tidak menurunkan kelompok yang lain. Yang tanpa gejala pun harus dilakukan skrining," ungkapnya.
Meski penemuan kasus masih menjadi tantangan, drg. Andiek menyebut angka kesembuhan pasien TBC yang menjalani pengobatan di Trenggalek mencapai sekitar 90 persen.
Pasien yang tidak masuk dalam angka kesembuhan tersebut memiliki berbagai kondisi. Di antaranya meninggal dunia, menghentikan pengobatan sebelum selesai, atau berpindah domisili sehingga tidak lagi terpantau petugas kesehatan.
"Angka kesembuhan kita di angka 90 persen. Yang lainnya macam-macam. Ada yang meninggal, ada juga yang drop out," ungkapnya.
Menurut drg. Andiek, pasien yang drop out merupakan mereka yang menghentikan pengobatan sebelum seluruh rangkaian pengobatan selesai.
Perpindahan domisili juga menjadi salah satu kendala pemantauan pasien.
"Karena pindah alamat, pindah domisili. Ini akhirnya kita hilang kontak dengan pasien ini," jelasnya.
Ia meminta masyarakat tidak takut menjalani pemeriksaan TBC. Menurutnya, penemuan penyakit sejak dini justru dapat mempercepat penanganan.
Jika hasil skrining menunjukkan dugaan TBC, warga akan menjalani pemeriksaan lanjutan untuk memastikan diagnosis. Jika dinyatakan positif, pasien mendapatkan pengobatan dan harus mengonsumsi obat secara rutin hingga tuntas.
"Sekarang ini obat-obatan sudah tersedia. Yang penting adalah rutin konsumsi obat dan dukungan dari orang-orang terdekatnya," tutupnya.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Ngulankulon, dr. Ika Fibrin Fauziah, mengatakan hasil skrining TBC yang dilakukan bersamaan dengan CKG di Balai Desa Pogalan masih berupa data sementara.
Data tersebut belum dianalisis untuk menentukan jumlah warga yang terduga maupun telah dinyatakan positif TBC.
Seluruh data pemeriksaan akan dimasukkan ke Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB).
"Ini belum dianalisa mas. Masih data gelondongan, data nanti semua masuk SiTB," akui dr. Ika.
Karena itu, hasil pemeriksaan tidak langsung diumumkan secara terbuka. Warga yang bersangkutan akan mendapatkan informasi melalui petugas yang menangani Program TBC.
"Nanti langsung dihubungi oleh koordinatornya Program Tuberculosis. Jadi langsung yang bersangkutan," paparnya.
Dengan mekanisme tersebut, hasil pemeriksaan setiap warga disampaikan langsung kepada yang bersangkutan dan tetap dijaga kerahasiaannya.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
Advertisement
Artikel Terkait
Buntut Pembalakan Liar, Satreskrim Polres Trenggalek Tetapkan Tiga Tersangka
Bawa Pulang Kayu Hasil Pembalakan Liar, Pria Asal Trenggalek Terpeleset Hingga Tewas
Peserta CKG di Pogalan Trenggalek Melebihi Kapasitas, Warga Antusias Periksa Kesehatan
Inisiatif Berani Puskesmas Ngulankulon: Langkah Efektif Lawan Hoaks Menyusui
Pedagang Obat Keliling di Pogalan Tetap Semangat Meski Usia Senja