Krisis Regenerasi, Atlet Paralayang Trenggalek Tinggal Dua Orang untuk Kejurprov 2027
FASI Trenggalek membuka rekrutmen atlet paralayang gratis setelah hanya memiliki dua atlet yang memenuhi syarat usia untuk Kejurprov Jatim 2027.
04 Jul 2026 • 08:00 WIB
Trenggalek krisis atlet paralayang untuk Kejurprov 2027. KBRT/Zamz
Ringkasan
- FASI Trenggalek hanya memiliki dua atlet yang memenuhi syarat usia untuk Kejurprov Jatim 2027.
- Rekrutmen atlet paralayang dibuka gratis bagi pelajar Trenggalek usia 15-20 tahun.
- Calon atlet harus menjalani minimal 40 kali penerbangan sebelum memperoleh lisensi dasar.
TRENGGALEK – Prestasi olahraga dirgantara Kabupaten Trenggalek ternyata menyimpan persoalan yang jarang diketahui publik. Di balik sederet medali yang diraih dalam beberapa tahun terakhir, Federasi Aerosport Indonesia (FASI) Trenggalek kini justru menghadapi krisis regenerasi atlet.
Jika tidak segera mencari penerbang muda, Trenggalek terancam kesulitan mengirim kekuatan penuh pada Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Jawa Timur 2027.
Pembina Pengcab FASI Trenggalek, Muhammad Azmi, mengungkapkan saat ini hanya tersisa dua atlet yang masih memenuhi batas usia untuk tampil di ajang tersebut.
Advertisement
"Atlet yang ada di Trenggalek sekarang tinggal dua anak yang umurnya masuk dalam kategori untuk ikut Kejurprov, yaitu Satria dan Zulfa," ujarnya.
Kondisi itu membuat FASI bergerak lebih cepat. Organisasi tersebut kini membuka rekrutmen calon atlet paralayang secara gratis bagi pelajar asli Trenggalek berusia 15 hingga 20 tahun.
Menurut Azmi, pencarian bibit atlet sebenarnya sudah dimulai sejak awal 2026. Sebab, mencetak seorang atlet paralayang tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat.
"Untuk rekrutmen menyangkut kejuaraan tahun 2027 nanti, yang jelas kami sudah membidik untuk mencari atlet itu sejak awal 2026," katanya.
Ia menjelaskan, seorang calon atlet tidak bisa langsung mengikuti kejuaraan. Mereka harus melalui pendidikan dan latihan hingga memperoleh lisensi dasar atau PL 1 (Surat Izin Mengudara).
Untuk mendapatkan lisensi tersebut, peserta diwajibkan menyelesaikan sedikitnya 40 kali penerbangan menggunakan glider sebelum mengikuti ujian yang ditentukan instruktur.
"Usai 40 kali terbang itu nanti instruktur akan mengadakan ujian. Dia layak tidak mempunyai PL 1. Istilahnya seperti SIM, Surat Izin Mengudara," jelas Azmi.
Berbeda dengan cabang olahraga lain, regenerasi atlet paralayang tidak hanya bergantung pada minat masyarakat, tetapi juga kemampuan peserta bertahan menjalani proses latihan.
Azmi bercerita, FASI pernah menggelar pendidikan dan pelatihan gratis bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Trenggalek.
Saat itu sebanyak 25 pelajar berhasil direkrut. Seluruh biaya pelatihan, instruktur, peralatan, penginapan hingga kesempatan terbang puluhan kali ditanggung penyelenggara.
Namun, dari puluhan peserta tersebut hanya lima orang yang mampu menyelesaikan seluruh tahapan latihan.
"Waktu itu ada kolaborasi dan kami berhasil menjaring 25 anak. Diklat diadakan di Trenggalek dan Malang secara gratis. Tapi ternyata yang berhasil lulus sampai akhir hanya lima orang," kenangnya.
Idealnya, Trenggalek membutuhkan sedikitnya enam atlet agar bisa mengikuti seluruh nomor pertandingan pada Kejurprov, terdiri dari tiga atlet putra dan tiga atlet putri.
Namun keterbatasan anggaran membuat target tersebut harus disesuaikan.
"Karena anggaran dari KONI Trenggalek terbatas, kemungkinan kami targetkan bisa memberangkatkan minimal dua putra dan dua putri," ujarnya.
Di tengah keterbatasan itu, FASI mendapat dukungan dari Pengurus Provinsi FASI Jawa Timur yang membantu pelaksanaan pendidikan dan pelatihan atlet baru.
Bantuan tersebut mencakup instruktur, perlengkapan latihan hingga fasilitas penerbangan sehingga peserta tidak dipungut biaya.
Meski sedang menghadapi persoalan regenerasi, prestasi aerosport Trenggalek masih cukup diperhitungkan di Jawa Timur.
Pada 2025, kontingen Trenggalek berhasil membawa pulang medali emas dari cabang gantole, medali perak, serta medali perunggu dari cabang paralayang.
Untuk menjaga kemampuan atlet, latihan rutin digelar hampir setiap akhir pekan di sejumlah lokasi seperti Bukit Tunggangan, Pantai Gemah, Pantai Modangan di Blitar, hingga Kota Batu.
Azmi berharap semakin banyak anak muda Trenggalek tertarik mencoba olahraga udara tersebut agar prestasi yang sudah dibangun selama ini tidak berhenti di satu generasi.
"Sayang sekali kalau tidak diteruskan, karena kita sudah punya tempat latihan, punya alat, izin, dan legalitas yang lengkap. Mari harumkan nama Kabupaten Trenggalek di level provinsi maupun nasional," pungkasnya.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
TAGS
Advertisement
Artikel Terkait
Tak Cuma Cetak Atlet, Dispora Trenggalek Mulai Tancap Gas Dongkrak PAD dari Aset Olahraga
Terbang Tinggi, Atlet Paralayang Trenggalek Raih Podium di Liga Jatim
Askab PSSI Trenggalek Rangkul Klub, Serahkan Pengelolaan SIAP untuk Cegah Miskomunikasi
NPCI Trenggalek Minta Dukungan DPRD, Pembinaan Atlet Terkendala Efisiensi Anggaran
Hasil Moto GP Belanda 2026, Ogura Keluar Sebagai Juara