Hari Tanpa Hujan Makin Panjang, Trenggalek Masuk Status Waspada Kekeringan

BMKG menetapkan Trenggalek berstatus waspada kekeringan meteorologis akibat hari tanpa hujan selama 21–30 hari. Masyarakat diminta mulai menghemat penggunaan air.

Hari Tanpa Hujan Makin Panjang, Trenggalek Masuk Status Waspada Kekeringan

Trenggalek masuk daerah rawan kekeringan. KBRT/Zamz

Ringkasan

  • Trenggalek masuk status waspada kekeringan meteorologis versi BMKG.
  • Hari tanpa hujan telah berlangsung selama 21–30 hari.
  • Warga diimbau menghemat air dan mewaspadai potensi kebakaran saat musim kemarau.

TRENGGALEKMusim kemarau mulai menunjukkan dampaknya di Kabupaten Trenggalek. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memasukkan Trenggalek ke dalam status waspada kekeringan meteorologis setelah wilayah ini mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) selama 21 hingga 30 hari.

Meski belum masuk kategori siaga, kondisi tersebut menjadi sinyal agar masyarakat mulai meningkatkan kewaspadaan. Selain menghemat penggunaan air, warga juga diminta mengantisipasi potensi kebakaran yang kerap meningkat saat cuaca kering berkepanjangan.

Forecaster BMKG Nganjuk, Yaris, menjelaskan kekeringan meteorologis merupakan kondisi ketika curah hujan berada di bawah nilai normal klimatologis dalam periode tertentu akibat pengaruh cuaca dan iklim.

Advertisement

"Kekeringan meteorologis merupakan kondisi ketika jumlah curah hujan di suatu wilayah berada di bawah nilai normal klimatologis dalam periode tertentu akibat adanya anomali cuaca dan iklim. Salah satu indikator awal terjadinya kekeringan meteorologis adalah berlangsungnya Hari Tanpa Hujan (HTH) dalam durasi yang panjang," jelas Yaris.

Menurutnya, semakin lama periode hari tanpa hujan berlangsung, semakin besar pula potensi terjadinya defisit curah hujan. Jika kondisi tersebut meluas dan terjadi secara berkelanjutan, dampaknya bisa memicu kekeringan meteorologis di suatu wilayah.

"Semakin lama periode HTH berlangsung, semakin besar potensi terjadinya defisit curah hujan yang dapat memicu kekeringan meteorologis, terutama apabila kondisi tersebut terjadi secara luas dan berkelanjutan," terangnya.

Berdasarkan pemantauan BMKG, hingga saat ini belum ada wilayah di Jawa Timur yang berstatus Awas atau mengalami hari tanpa hujan lebih dari 60 hari.

Sementara itu, sejumlah daerah seperti Pacitan, Madiun, Magetan, Ngawi, Bojonegoro, Nganjuk, Kediri, Blitar, Malang, Kota Malang, Lumajang, Probolinggo, dan Jember telah masuk status Siaga karena mengalami Hari Tanpa Hujan selama 31 hingga 60 hari.

Adapun Trenggalek berada pada kategori Waspada bersama Ponorogo, Tulungagung, Kota Kediri, Tuban, Lamongan, Gresik, Jombang, Mojokerto, Kota Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, Banyuwangi, Bangkalan, dan Sampang.

BMKG mengingatkan masyarakat di wilayah berstatus Waspada maupun Siaga agar mulai menerapkan langkah-langkah antisipasi sejak dini.

"Masyarakat, khususnya di wilayah berstatus Waspada dan Siaga, diimbau untuk menggunakan air secara hemat dan efisien, mengantisipasi potensi berkurangnya ketersediaan air bersih, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko kebakaran hutan dan lahan maupun kebakaran permukiman akibat kondisi cuaca yang kering," imbau Yaris.

Tak hanya masyarakat, pemerintah daerah bersama instansi terkait juga diminta terus memantau perkembangan kondisi cuaca agar dapat mengambil langkah mitigasi apabila kondisi kekeringan semakin meluas.

"Pemerintah daerah dan instansi terkait juga diharapkan terus memantau perkembangan kondisi kekeringan serta melakukan langkah-langkah mitigasi sesuai kebutuhan," tandasnya.

Musim kemarau memang menjadi fenomena yang terjadi setiap tahun. Namun, kesiapsiagaan masyarakat menjadi faktor penting untuk meminimalkan dampaknya, terutama dalam menjaga ketersediaan air bersih dan mencegah terjadinya kebakaran saat cuaca semakin kering.

Ikuti WhatsApp Channel

Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!

Join Channel

Advertisement

Artikel Terkait