Beban Ekonomi Makin Berat, 755 Laki-laki Kunjungi Layanan Kesehatan Jiwa di Trenggalek

Mayoritas layanan kesehatan jiwa di Trenggalek selama semester pertama 2026 didominasi usia produktif. Dinkes menyebut tekanan ekonomi dan sosial menjadi pemicu.

Beban Ekonomi Makin Berat, 755 Laki-laki Kunjungi Layanan Kesehatan Jiwa di Trenggalek

Kesehatan mental laki-laki di Trenggalek cukup tinggi. KBRT/Zamz

Ringkasan

  • Layanan kesehatan jiwa di Trenggalek didominasi masyarakat usia produktif.
  • Dinkes mencatat 1.359 kunjungan selama semester pertama 2026.
  • Tekanan ekonomi, sosial, dan dukungan keluarga menjadi faktor penting dalam kesehatan mental.

TRENGGALEK - Masalah kesehatan mental ternyata paling banyak dialami masyarakat usia produktif di Kabupaten Trenggalek. Selama enam bulan pertama 2026, kelompok usia yang seharusnya berada pada masa paling aktif bekerja justru mendominasi kunjungan layanan kesehatan jiwa di berbagai fasilitas kesehatan.

Data Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Kabupaten Trenggalek mencatat terdapat 1.359 kunjungan pelayanan kesehatan jiwa hingga Juni 2026. Dari jumlah tersebut, 755 kunjungan berasal dari laki-laki dan 604 lainnya perempuan.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinkes PPKB Kabupaten Trenggalek, drg. Andiek Muarifin, mengatakan angka tersebut merupakan akumulasi masyarakat yang mengakses layanan kesehatan jiwa di fasilitas kesehatan selama semester pertama tahun ini.

Advertisement

"Sampai dengan bulan Juni ada total 1.359 kunjungan. Dari 1.359 kunjungan itu ada yang laki-laki 755, sedangkan yang perempuan 604," kata Andiek.

Menurut Andiek, pasien yang datang tidak hanya berasal dari kelompok usia lanjut maupun remaja. Justru, sebagian besar merupakan masyarakat yang berada pada usia produktif.

Ia menjelaskan, gangguan kesehatan jiwa tidak selalu muncul dalam bentuk yang mudah dikenali. Banyak kasus bermula dari kondisi yang dikenal sebagai Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK), sebelum berkembang menjadi gangguan yang lebih berat.

"Sebelum menjadi ODGJ, seseorang bisa berada pada kondisi ODMK atau Orang Dengan Masalah Kejiwaan. Gejalanya kadang tidak disadari. Misalnya sering mengalami sakit maag atau gastritis, padahal itu bisa berkaitan dengan masalah kejiwaan," jelasnya.

Andiek mengatakan tekanan hidup menjadi salah satu faktor yang paling sering memicu munculnya persoalan kesehatan mental. Kondisi ekonomi yang sulit, tuntutan keluarga, hingga tekanan sosial menjadi penyebab yang kerap ditemui dalam pelayanan kesehatan jiwa.

"Kondisi ekonomi sangat berpengaruh. Kebutuhan keluarga tinggi, sementara penghasilannya belum mencukupi. Belum lagi anak remaja yang memiliki keinginan besar karena pengaruh lingkungan, tetapi orang tua tidak mampu memenuhi. Kondisi seperti itu bisa memunculkan kekecewaan," ujarnya.

Berdasarkan data yang dihimpun Dinkes, jumlah laki-laki yang mengakses layanan kesehatan jiwa sedikit lebih tinggi dibanding perempuan.

Menurut Andiek, salah satu penyebabnya adalah kecenderungan laki-laki untuk memendam persoalan yang dihadapi dibanding membicarakannya dengan orang lain.

"Kalau dilihat dari data, laki-laki justru lebih rentan mengalami persoalan kejiwaan. Mungkin karena menjadi penanggung jawab utama dalam keluarga. Sementara perempuan biasanya lebih terbuka ketika memiliki masalah, sedangkan laki-laki cenderung memendam sendiri," katanya.

Meski demikian, Andiek menegaskan gangguan kesehatan jiwa bukan kondisi yang tidak bisa ditangani. Dengan pengobatan yang rutin dan dukungan keluarga, kondisi pasien dapat tetap stabil.

"Dukungan keluarga sangat penting. Selain memberi motivasi dan semangat, keluarga juga berperan mengingatkan pasien untuk rutin mengonsumsi obat. Pengobatan gangguan jiwa memang membutuhkan waktu yang panjang, tetapi jika dijalani dengan baik kondisinya bisa tetap stabil," kata dia. 

Ikuti WhatsApp Channel

Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!

Join Channel

Advertisement

Artikel Terkait