181 Ribu Warga Ikut Cek Kesehatan Gratis Trenggalek, 26 Persen Terindikasi Perlu Perhatian Kesehatan Jiwa

CKG Trenggalek telah menjangkau 181 ribu warga. Dari hasil skrining, 43 ribu orang terdeteksi berpotensi mengalami masalah kesehatan jiwa.

181 Ribu Warga Ikut Cek Kesehatan Gratis Trenggalek, 26 Persen Terindikasi Perlu Perhatian Kesehatan Jiwa

Warga Trenggalek sudah ratusan ribu mengikuti cek kesehatan gratis. KBRT/Canva

Ringkasan

  • CKG capai 52,8 persen
  • 43 ribu berisiko kesehatan jiwa
  • Usia produktif terbanyak

TRENGGALEK - Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Kabupaten Trenggalek tidak hanya mencatat capaian di atas target nasional, tetapi juga membuka gambaran baru terkait kondisi kesehatan masyarakat.

Hingga Juni 2026, sebanyak 181.037 warga telah mengikuti layanan pemeriksaan kesehatan tersebut. Angka itu mencapai 52,8 persen dari total sasaran 343.092 orang, melampaui target nasional yang ditetapkan sebesar 46 persen.

Namun, dari proses skrining tersebut, Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Trenggalek menemukan adanya ribuan warga yang masuk kategori berpotensi mengalami masalah kesehatan jiwa.

Advertisement

Plt Kepala Dinkes PPKB Trenggalek, drg. Andiek Muarifin mengatakan, dari seluruh peserta yang menjalani pemeriksaan, sekitar 26 persen atau 43.448 orang menunjukkan potensi masalah kesehatan jiwa.

Temuan tersebut muncul pada berbagai kelompok usia, tetapi paling banyak ditemukan pada kelompok usia produktif.

"Dari sekian itu ditemukan memang ada potensi masalah kejiwaan kurang lebih sekitar 26 persen. Memang paling tinggi ada di usia produktif, tetapi juga terdeteksi pada anak-anak remaja atau usia sekolah," jelas Andiek.

Ia menjelaskan, CKG merupakan bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) yang menjadi program prioritas pemerintah. Pemeriksaan dilakukan untuk seluruh siklus kehidupan, mulai dari ibu hamil, bayi baru lahir, balita, remaja, usia produktif hingga lanjut usia.

"Target dari CKG itu sendiri adalah 46 persen dari jumlah penduduk. Saat ini di Kabupaten Trenggalek sudah tercapai 52,8 persen sampai dengan bulan Juni tahun 2026," ujar Andiek.

Menurutnya, temuan masalah kesehatan jiwa pada anak sekolah masih berpotensi bertambah karena proses skrining khusus kelompok tersebut baru akan dilakukan bersamaan dengan awal tahun ajaran baru.

"Nanti kita akan lakukan penjaringan atau screening di awal tahun ajaran baru. Jadi nanti menjadi program rutin CKG anak sekolah," katanya.

Andiek menyebut terdapat sejumlah faktor yang diduga berpengaruh terhadap kondisi kesehatan jiwa anak dan remaja. Di antaranya persoalan perundungan atau bullying, penggunaan gadget berlebihan, hingga lingkungan pergaulan.

"Kalau di anak sekolah memang ada beberapa, misalnya kasus bullying. Kemudian penggunaan gadget yang berlebihan juga memengaruhi masalah kejiwaan. Selain itu faktor pergaulan juga ikut berpengaruh," ujarnya.

Meski menemukan adanya potensi masalah kesehatan, Dinkes memastikan hasil skrining bukan berarti seluruh peserta langsung dikategorikan mengalami gangguan jiwa. Setiap temuan akan dikaji dan ditindaklanjuti sesuai kondisi masing-masing.

Penanganan dilakukan secara bertahap, mulai dari edukasi, pemeriksaan lanjutan di puskesmas, hingga rujukan ke rumah sakit apabila membutuhkan penanganan lebih lanjut.

"Kalau masih bisa diintervensi di Puskesmas, maka cukup dilakukan pemeriksaan atau pengobatan di Puskesmas. Tetapi kalau memang perlu dirujuk, maka Puskesmas akan merujuk ke rumah sakit sesuai kondisi pasien," jelasnya.

Andiek menambahkan, CKG bukan program pemeriksaan sekali jalan. Program tersebut akan terus dilakukan setiap tahun dengan target cakupan yang meningkat.

Pada 2025 target CKG berada di angka 40 persen, kemudian naik menjadi 46 persen pada 2026. Ke depan, cakupan pemeriksaan akan terus diperluas agar setiap kelompok usia mendapatkan pemeriksaan minimal satu kali dalam setahun.

"Tahun ini targetnya 46 persen. Tahun lalu 40 persen. Tahun depan pasti akan dinaikkan lagi. Masing-masing kelompok usia minimal mendapat CKG satu kali dalam setahun," terang Andiek.

Ia memastikan masyarakat yang sudah menjalani pemeriksaan tahun ini tetap perlu mengikuti skrining kembali pada tahun berikutnya karena kondisi kesehatan dapat berubah.

Ikuti WhatsApp Channel

Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!

Join Channel

Advertisement

Artikel Terkait