Sepak Bola Trenggalek Dinilai Tertinggal, Turnamen Senior Pilih Digelar di Tulungagung
Sepak bola Trenggalek dinilai masih tertinggal dalam pembinaan dan penyelenggaraan turnamen. Kondisi ini membuat Shrimp Army Cup 2026 digelar di Tulungagung.
23 Aug 2026 • 08:00 WIB
Penyelenggara Event Shrimp Army Bupati Tulungagung Cup 2026. Aset Shrimp Army
Ringkasan
- Shrimp Army Bupati Tulungagung Cup 2026 diikuti maksimal 32 klub dan dua di antaranya berasal dari Trenggalek.
- Penyelenggara membuka peluang turnamen tahunan tersebut digelar di Trenggalek pada masa mendatang.
- Pembinaan dan mekanisme penyelenggaraan sepak bola Trenggalek dinilai masih tertinggal dibandingkan Tulungagung.
TRENGGALEK - Dinamika sepak bola Trenggalek kembali menjadi perhatian setelah turnamen senior bertajuk Shrimp Army Bupati Tulungagung Cup 2026 dipastikan digelar di Stadion Rejoagung, Tulungagung, mulai 26 September 2026.
Turnamen yang mempertemukan klub se-Karisidenan Kediri itu sejatinya diharapkan dapat menjadi agenda yang suatu saat digelar di Trenggalek. Namun, kondisi penyelenggaraan kompetisi sepak bola di Trenggalek membuat panitia memilih Tulungagung sebagai lokasi pelaksanaan tahun ini.
Penyelenggara Event Shrimp Army Bupati Tulungagung Cup 2026, Anjar Priadi Putra, mengatakan hingga Jumat (21/8/2026), sudah ada 30 klub yang mendaftarkan diri dari kuota maksimal 32 tim.
Advertisement
“Rencananya di tanggal 26 September nanti kami akan memulai turnamen dengan tajuknya Shrimp Army Bupati Tulungagung Cup 2026. Ini adalah turnamen antar klub se-Karisidenan Kediri,” kata Anjar.
Turnamen tersebut khusus kategori senior dan terbuka bagi klub dari wilayah Karisidenan Kediri. Pendaftaran peserta dijadwalkan ditutup paling lambat 12 September 2026 atau lebih cepat apabila kuota 32 tim telah terpenuhi.
“Itu senior ya, itu senior antar klub. Maksimal nanti insyaallah 32 tim dan sejauh ini sejak dibuka pendaftaran dua minggu yang lalu sampai hari ini di tanggal 21 Agustus sementara ada 30 peserta yang sudah mendaftar,” ujarnya.
Dari 30 peserta tersebut, 17 tim berasal dari Tulungagung. Sementara itu, dua klub asal Trenggalek dari Kecamatan Gandusari dan Watulimo telah memastikan diri mengikuti turnamen.
“Sejauh ini ada 17 tim yang dari Tulungagung, kemudian dari Trenggalek ada dua dari Gandusari dan dari Watulimo yang sudah mendaftarkan di sana,” jelas Anjar.
Turnamen ini menyediakan uang pembinaan dengan total Rp50 juta. Juara pertama mendapat Rp25 juta, juara kedua Rp15 juta, sedangkan dua tim semifinalis masing-masing memperoleh Rp5 juta. Penyelenggara juga menyiapkan trofi dengan nilai sekitar Rp4 juta.
“Hadiah sendiri untuk fresh money, uang pembinaan murninya itu 50 juta,” katanya.
Anjar mengatakan Shrimp Army Bupati Tulungagung Cup 2026 tidak dirancang sebagai turnamen sekali gelar. Berdasarkan hasil diskusi dengan sejumlah pihak, turnamen tersebut diarahkan menjadi agenda tahunan untuk menyambut Hari Jadi Tulungagung ke-821.
“Dari hasil diskusi kami dengan teman-teman yang ada di KONI Tulungagung, di Askab PSSI ini rencananya memang demikian akan digelar menjadi sebuah turnamen tahunan karena ini kan digelar untuk menyambut Hari Jadi Tulungagung yang ke-821 di tahun 2026 ini,” tuturnya.
Meski tahun ini digelar di Tulungagung, Anjar tidak menutup kemungkinan turnamen tersebut suatu saat dipindahkan ke Trenggalek. Namun, perkembangan sepak bola dan mekanisme penyelenggaraan pertandingan di Trenggalek masih menjadi pertimbangan.
“Tentu saja kami sangat terbuka dengan opsi itu ya, tapi ya kembali lagi, kami akan sangat mempelajari perkembangan situasi sepak bola yang ada di Trenggalek itu sampai sejauh mana,” katanya.
Anjar menyinggung adanya turnamen antarsekolah di Trenggalek sebelumnya yang disebut tidak mendapatkan rekomendasi. Dalam peristiwa tersebut, sembilan wasit disebut mendapatkan sanksi selama satu tahun.
“Nah, ini kan tentu untuk mendapatkan rekomendasi saja tidak mudah dan pada saat itu dipaksa digelar ternyata ada sanksi yang diberikan kepada perangkat pertandingan,” ujarnya.
Menurut Anjar, kondisi tersebut menjadi pertimbangan agar penyelenggara tidak menabrak mekanisme yang berlaku.
“Saya masih terus akan mempelajari ini apa kalau memang memungkinkan ke depan insyaallah ya tentu menjadi sebuah kebanggaan bisa menggelar ini di tanah kelahiran sendiri ya di Trenggalek,” imbuhnya.
Pembinaan Sepak Bola Trenggalek Dinilai Tertinggal
Anjar menilai kondisi sepak bola Trenggalek perlu dievaluasi bersama. Ia berharap terdapat perubahan agar Trenggalek tidak semakin tertinggal dibandingkan daerah lain, termasuk Tulungagung.
“Secara sistem di Trenggalek ini mungkin kita harus bersama-sama untuk mengevaluasi dan punya keinginan untuk melakukan perubahan agar Trenggalek tidak semakin ketinggalan,” tegasnya.
Menurutnya, terdapat kesenjangan dalam pembinaan sepak bola antara Trenggalek dan Tulungagung.
“Sejauh ini kalau kita hanya membandingkan antara Trenggalek dan Tulungagung itu kan juga sudah sangat jauh ya secara gap. Pembinaan yang ada di Tulungagung dan di Trenggalek,” katanya.
Ia menyayangkan kondisi tersebut mengingat jarak geografis kedua daerah relatif dekat.
“Tentu ini sangat disayangkan padahal jarak Tulungagung dan Trenggalek tidak terlalu jauh,” imbuhnya.
Anjar menjelaskan, keputusan menggelar turnamen di Tulungagung bukan berarti pihaknya mengesampingkan Trenggalek. Sebagai putra Trenggalek, ia justru berharap kegiatan tersebut suatu saat dapat digelar di daerah asalnya.
Namun, perkembangan situasi dan sejumlah persoalan terkait penyelenggaraan turnamen sepak bola di Trenggalek membuat Tulungagung dipilih sebagai lokasi pelaksanaan tahun ini.
“Secara prinsip sebenarnya sebagai putra Trenggalek kita sih berharap ya ini bisa digelar di Trenggalek. Tapi dari perkembangan situasi beberapa waktu terakhir menunjukkan bahwa ini masih belum memungkinkan untuk digelar,” ungkapnya.
Ia menyebut respons dari berbagai pihak di Tulungagung menjadi salah satu alasan turnamen tersebut akhirnya digelar di sana.
“Karena beberapa permasalahan, beberapa persoalan yang ada di Trenggalek terkait dengan penyelenggaraan sebuah event, turnamen sepak bola ini sangat menjadi pertimbangan kami, kenapa kami harus memutuskan akhirnya kami ada di Tulungagung dan terbukti di Tulungagung kami disambut baik dari pihak KONI, dari Dispora, kemudian dari Asprov juga dan bahkan bupati menyambut baik untuk rencana kegiatan kami,” ujarnya.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
Advertisement
Artikel Terkait
Wasit Trenggalek Kena Hukum di Kandang Sendiri, ASKAB dan PSSI Jatim Beda Sikap Soal Satu Turnamen
Bukan Sekadar Rebutan Juara, Trenggalek Student League 2026 Siapkan Generasi Baru Sepak Bola
KSMI Trenggalek Cetak Wasit Sepak Bola Mini Lewat Workshop, Siap Gas Kompetisi Internal
Apa Itu FIFA Registration Ban? Arti, Penyebab, dan Dampaknya bagi Klub Sepak Bola
Siapkan TC Sebulan Penuh, PSTI Trenggalek Optimistis Bawa Pulang Medali POPDA