Askab PSSI Trenggalek Dituding Otak-atik Database Pemain, Shrimp Army Gagal Turunkan Tim U-15
Shrimp Army Watulimo melontarkan kritik terhadap Askab PSSI Trenggalek setelah tim U-15 mereka gagal tampil di Piala Soeratin akibat persoalan aplikasi SIA
26 Jun 2026 • 08:00 WIB
Piala Soeratin di Trenggalek bergulir dan ada kritik dari pemilik skuad sepak bola. KBRT/Zamz
Ringkasan
- Shrimp Army menilai Askab PSSI Trenggalek perlunya dievaluasi terkait pelatihan sepak bola usia dini.
- Tim U-15 Shrimp Army gagal tampil di Piala Soeratin setelah sejumlah pemain termasuk hilang dari database SIAP.
- Askab PSSI Trenggalek mengakui adanya kemungkinan kesalahan administrasi dan menjanjikan perbaikan.
TRENGGALEK – Piala Soeratin 2026 seharusnya menjadi panggung bagi talenta muda sepak bola Trenggalek. Namun di balik bergulirnya kompetisi tersebut, muncul kritik keras terhadap Askab PSSI Trenggalek terkait pelatihan sepak bola usia dini dan pengelolaan administrasi pemain.
Kritik itu datang dari Shrimp Army, Sekolah Sepak Bola (SSB) asal Kecamatan Watulimo. Klub yang selama ini aktif melakukan pelatihan pemain muda itu mengaku gagal menurunkan tim pada kategori U-15 akibat masalah data pemain dalam aplikasi Sistem Informasi dan Administrasi PSSI (SIAP).
Pemilik Shrimp Army, Anjar Priadi Putra, bahkan menilai jumlah peserta Piala Soeratin tahun ini menjadi indikator bahwa pelatihan sepak bola usia muda di Trenggalek perlu dievaluasi secara menyeluruh.
Advertisement
“Kami sebagai peserta Piala Soeratin kali ini ada 5 tim dari U-15 dan hanya 8 tim U-13. Terhitung sedikit dibandingkan dengan lalu. Menurut kami perlu sebuah evaluasi besar kenapa hanya sekian tim mengingat kurang lebih puluhan Sekolah Sepak Bola (SSB) yang ada di Trenggalek,” ujarnya.
Menurut Anjar, tim telah melakukan pelatihan pemain secara berkelanjutan sejak tahun 2023. Oleh karena itu, Shrimp Army seharusnya mampu bersaing pada kelompok umur U-15.
Namun rencana tersebut gagal terealisasi setelah sejumlah pemain yang sebelumnya tercatat dalam database klub disebut hilang dari akun SIAP milik Shrimp Army.
"Dari pihak Askab yang memfasilitasi kami pelatihan di akar rumput, faktanya kami lebih ribet. Mengingat aplikasi SIAP yang seharusnya menjadi hak kami ternyata dikelola Askab," kata Anjar.
Ia mengaku terkejut ketika mengetahui sejumlah pemain yang selama ini berada di database klub tidak lagi tercatat sebagai pemain Shrimp Army.
“Dan ironisnya beberapa tim kami yang seharusnya mewakili U-15 justru dikeluarkan dari aplikasi SIAP kami, database kami, dan itu menjadi bukan pemain kami tanpa sepengetahuan dari kami,” lanjutnya.
Anjar mengatakan permasalahan tersebut sudah disampaikan kepada Askab PSSI Trenggalek sejak Mei 2025. Namun hingga pelaksanaan Piala Soeratin 2026, dirinya merasa belum memperoleh pemahaman yang memadai.
"Saya sudah meminta penjelasan sejak Mei 2025 sampai sekarang penjelasan tidak ada. Mungkin ini perlu menjadi evaluasi besar oleh Askab, ke mana arah pelatihan yang akan dilakukan Askab dan bagaimana mendampingi SSB ini untuk bisa tumbuh dan berjalan," tegasnya.
Intinya, kebutuhan utama SSB bukan sekadar bantuan perlengkapan latihan. Yang lebih dibutuhkan adalah pendampingan dalam pengelolaan klub dan administrasi pemain.
“Karena kami merasakan belum ada kontribusi yang nyata di bawah yang dilakukan Askab. Kami mendapatkan bantuan bola 5 sampai 10 biji, bukan itu harapan kami, tapi pendampingan termasuk salah satunya pengelolaan aplikasi SIAP,” ujarnya.
Kritik tersebut sekaligus menyoroti fungsi pelatihan sepak bola akar rumput di Trenggalek. Sebab, dari puluhan SSB yang ada, hanya sebagian kecil yang ambil bagian dalam Piala Soeratin tahun ini.
Menangapi tudingan tersebut, Admin Askab PSSI Trenggalek, Bima Wahyu Romadoni, mengakui memang sempat terlibat dalam pengelolaan aplikasi SIAP ketika sebagian besar SSB belum mampu mengoperasikan sistem tersebut secara mandiri.
"Pada saat itu pertama kali saat pengajuan aplikasi SIAP untuk tim-tim ini tidak semua peserta itu siap memiliki aplikasi ini, hanya 3 yang siap," jelasnya.
Bima juga mengakui adanya kemungkinan kesalahan dalam proses administrasi pemain karena keterlibatan admin kabupaten dalam sistem tersebut.
“Kemungkinan itu kesalahan saya, karena ikut campur dalam penabutan pemain, karena admin kabupaten saya,” katanya.
Sebagai tindak lanjut, Askab PSSI Trenggalek berjanji melakukan perbaikan tata kelola aplikasi SIAP dan tidak lagi mencampuri akun milik masing-masing SSB.
"Setelah ini ada perbaikan soal aplikasi tersebut, dan Askab sendiri tidak akan mencampuri aplikasi itu," ujarnya.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
Advertisement
Artikel Terkait
MNA Gen Z Futsal Jadi Rumah Baru Talenta Muda Trenggalek, Siap Unjuk Gigi di Turnamen Nasional
Futsal Pelajar Trenggalek Lagi Naik Daun, Novita Hardini Buka UPRINTIS League 2026
Turnamen Perdana Kadispora Cup Billiard Trenggalek, Ajang Cari Bakat Atlet Lokal
Kapal Nelayan Tenggelam di Laut Trenggalek, Kru Selamat dan Bertahan 12 Jam
Batas Usia Mepet, Pemkab Trenggalek Upayakan Status WNI untuk Remaja Perkawinan Indonesia–Vietnam