Harga Pertamax Melonjak, Dua Warga Trenggalek Beri Respons yang Bertolak Belakang

Kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter memunculkan beragam respons warga Trenggalek, mulai dari rasa khawatir hingga tetap optimistis.

Harga Pertamax Melonjak, Dua Warga Trenggalek Beri Respons yang Bertolak Belakang

Komentar warga trenggalek soal kenaikan harga BBM Pertamax. KBRT/Zamz

Ringkasan

  • Harga Pertamax naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter.
  • Seorang pengguna mengaku resah karena khawatir harga kebutuhan lain ikut naik.
  • Pengguna lainnya tetap optimistis dan mendukung kebijakan pemerintah.

TRENGGALEK - Kenaikan harga Pertamax mulai terasa di kantong masyarakat. Namun respons warga Trenggalek ternyata tidak seragam. Ada yang mengaku khawatir pengeluaran rumah tangga bertambah, tetapi ada pula yang memilih tetap tenang dan mendukung kebijakan tersebut.

Pantauan di sejumlah SPBU di Kabupaten Trenggalek pada Rabu (10/6/2026) menunjukkan aktivitas pengisian BBM berjalan normal. Tidak terlihat antrean panjang kendaraan yang membeli Pertamax meski harga BBM non-subsidi itu resmi naik menjadi Rp16.250 per liter dari sebelumnya Rp12.300 per liter.

Di SPBU Durenan, salah seorang pengguna Pertamax, Siti Aminah (65), mengaku cukup terkejut dengan kenaikan harga yang mencapai hampir Rp4.000 per liter.

Advertisement

"BBM naik keluarga ya resah, biasanya belinya 20 ya 30 ribu begitu. Iya langganan Pertamax," ujar warga Desa Bendorejo, Kecamatan Pogalan itu.

Meski mengaku keberatan, Aminah mengatakan dirinya masih memilih Pertamax untuk kendaraan yang digunakan sehari-hari. Menurutnya, kualitas bahan bakar tersebut membuat performa motor terasa lebih nyaman.

"Alasannya menggunakan Pertamax, kita menggunakan motor enak kalau menggunakan Pertamax," katanya.

Bagi Aminah, kenaikan harga BBM bukan hanya berdampak pada biaya transportasi. Ia khawatir kenaikan tersebut bisa merembet ke harga kebutuhan pokok dan kebutuhan rumah tangga lainnya.

"Perasaannya resah, harapannya dengan adanya ini ya jangan dinaikkan," tuturnya.

Namun di tengah kekhawatiran itu, Aminah tetap mencoba melihat situasi dengan optimistis. Ia berharap tetap diberikan kesehatan dan kemudahan mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Satu kata semoga rejekinya lancar supaya bisa beli BBM untuk mencari nafkah semuanya," ucapnya.

Pandangan berbeda disampaikan Zaenal Arifin (49), warga Desa Pandean, Kecamatan Durenan. Pria yang juga menggunakan Pertamax itu mengaku tidak terlalu mempermasalahkan kenaikan harga yang baru diketahuinya saat mengisi BBM.

"Yang penting lancar mas. Demi dan untuk NKRI. Selalu menggunakan Pertamax. Harapannya Indonesia semakin sejahtera," ujarnya sambil tersenyum.

Zaenal mengatakan masyarakat pada akhirnya harus beradaptasi dengan setiap kebijakan yang ditetapkan pemerintah. Namun ia berharap kebijakan yang diambil benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

"Apapun keputusan rakyat mendukung tapi ya tolong kebijakan yang dikeluarkan ya harus kita amanahkan sesuai dengan apa yang disampaikan. Kalau memang ini keputusan masyarakat mendukung," katanya.

Ia mengaku baru mengetahui harga Pertamax telah berubah saat datang ke SPBU.

"Baru saja tahu. Dari harga sebelumnya 12 sekarang menjadi 16 ribu," ujarnya.

Kenaikan harga Pertamax per 10 Juni 2026 menjadi salah satu penyesuaian harga BBM non-subsidi yang dilakukan Pertamina. Sementara itu, harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar masih tetap pada tarif sebelumnya.

Di tengah perubahan harga tersebut, cerita Aminah dan Zaenal menunjukkan satu hal yang sama: masyarakat memiliki cara berbeda dalam menyikapi kebijakan yang berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari.

Ikuti WhatsApp Channel

Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!

Join Channel

Advertisement

Artikel Terkait