Guru BK SMA di Trenggalek Belajar Design Thinking, UM Bekali Cara Hadapi Masalah Psikologi Siswa Era Digital
Universitas Negeri Malang melatih guru BK SMA di Trenggalek menyusun modul intervensi psikologi berbasis design thinking untuk menjawab tantangan siswa era digital.
18 Jul 2026 • 18:00 WIB
Kegiatan Universitas Neger Malang di Trenggalek beri wawasan guru BK. KBRT/Dok.Pribadi
Ringkasan
- UM latih guru BK Trenggalek susun modul intervensi psikologi.
- Cyberbullying, FOMO, dan AI jadi perhatian dalam pelatihan.
- Design thinking dikenalkan untuk menjawab tantangan siswa era digital.
TRENGGALEK - Perkembangan teknologi digital membawa tantangan baru bagi dunia pendidikan. Fenomena cyberbullying, penyebaran hoaks, fear of missing out (FOMO), doomscrolling, hingga penyalahgunaan kecerdasan buatan (AI) menjadi persoalan yang kini semakin sering dihadapi peserta didik.
Melihat kondisi tersebut, Universitas Negeri Malang (UM) melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) menggelar Workshop Penyusunan Modul Intervensi Psikologi dengan Pendekatan Design Thinking bagi guru Bimbingan dan Konseling (BK) SMA se-Kabupaten Trenggalek.
Kegiatan yang berlangsung di SMA Negeri 2 Trenggalek, Kamis (16/7/2026), itu merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat skema Kemitraan Masyarakat yang bekerja sama dengan Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK) SMA Kabupaten Trenggalek.
Advertisement
Sebanyak 22 guru BK dari berbagai SMA mengikuti pelatihan tersebut. Mereka merupakan bagian dari 39 guru yang sebelumnya diundang untuk mengikuti workshop.
Ketua MGBK SMA Kabupaten Trenggalek, Ardanu Jaya Purnama, S.Pd., mengapresiasi penyelenggaraan pelatihan tersebut. Ia menyampaikan terima kasih kepada tim LPPM Universitas Negeri Malang yang telah menghadirkan program peningkatan kapasitas bagi guru BK di Trenggalek.
Workshop kemudian dibuka secara resmi oleh Pembina MGBK SMA Kabupaten Trenggalek, Nikmah Mahanani, M.Pd. Ia berharap pelatihan tersebut mampu memperkuat kompetensi guru BK dalam menyusun modul intervensi psikologi yang adaptif, inovatif, serta sesuai dengan kebutuhan peserta didik di era digital.
Menurut Nikmah, peningkatan kapasitas guru BK menjadi salah satu langkah penting agar layanan bimbingan dan konseling di sekolah semakin responsif terhadap berbagai tantangan yang dihadapi siswa.
Materi pertama disampaikan oleh dosen Departemen Psikologi Universitas Negeri Malang, Dr. Wahyu Widodo, yang memperkenalkan pendekatan Design Thinking sebagai metode untuk merancang layanan intervensi psikologi berbasis kebutuhan peserta didik.
Dalam paparannya, Wahyu menjelaskan bahwa guru BK perlu memahami persoalan siswa secara mendalam sebelum menyusun solusi yang akan diterapkan.
"Pendekatan ini membantu guru memahami kebutuhan siswa secara lebih mendalam," jelas Wahyu.
Ia mengatakan, pendekatan tersebut memungkinkan guru menyusun layanan yang benar-benar sesuai dengan kondisi peserta didik di sekolah.
"Sehingga solusi yang dirancang tidak hanya inovatif, tetapi juga tepat sasaran dan relevan dengan kondisi di sekolah," lanjutnya.
Wahyu menjelaskan, pendekatan Design Thinking dilakukan melalui lima tahapan, yakni empathize, define, ideate, prototype, dan test. Melalui tahapan tersebut, guru BK dapat merancang modul intervensi psikologi berdasarkan persoalan nyata yang dialami siswa.
Sebagai contoh, ia mengangkat isu digital resilience atau ketangguhan digital siswa di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
Menurutnya, persoalan seperti cyberbullying, misinformasi dan hoaks, fear of missing out (FOMO), doomscrolling, hingga penyalahgunaan kecerdasan buatan (AI misuse) merupakan tantangan yang membutuhkan layanan BK yang adaptif.
"Pendekatan ini membantu guru memahami kebutuhan siswa secara lebih mendalam sehingga solusi yang dirancang tidak hanya inovatif, tetapi juga tepat sasaran dan relevan dengan kondisi di sekolah," tegasnya.
Materi berikutnya disampaikan oleh Yuris Indria Persada, M.Pd., dari Departemen Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Negeri Malang.
Ia membahas penyusunan modul intervensi psikologi menggunakan contoh kasus prokrastinasi akademik, yakni kebiasaan menunda pekerjaan sekolah yang banyak ditemui di lingkungan pendidikan.
Menurut Yuris, perilaku tersebut tidak selalu disebabkan rasa malas. Berbagai faktor psikologis maupun lingkungan juga berpengaruh terhadap munculnya kebiasaan menunda pekerjaan.
Karena itu, ia memperkenalkan sejumlah strategi yang dapat diterapkan guru BK, seperti Aturan 5 Menit untuk membantu siswa mulai mengerjakan tugas dan Matriks Eisenhower untuk menentukan prioritas pekerjaan.
Selama workshop berlangsung, para peserta aktif berdiskusi dan berbagi pengalaman mengenai berbagai persoalan yang mereka hadapi saat memberikan layanan bimbingan dan konseling di sekolah.
Berbagai pengalaman tersebut kemudian menjadi bahan refleksi dalam menyusun modul intervensi psikologi yang lebih kontekstual dan mudah diterapkan sesuai kondisi masing-masing sekolah.
Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, Universitas Negeri Malang berharap guru BK di Kabupaten Trenggalek semakin mampu menyusun sekaligus mengimplementasikan modul intervensi psikologi yang sistematis, inovatif, dan sesuai dengan karakteristik peserta didik.
Workshop juga melibatkan lima mahasiswa Program Studi S1 Psikologi Universitas Negeri Malang yang sedang menjalankan program UM BBM Mandiri, yakni Siti Nur Khodijah, Jecelyn Claudia Fransisca, Zahra Khoirunnisa MR, Hiskia Saputra Lumban Gaol, dan Irzaqy Gunawan. Mereka mendukung pelaksanaan kegiatan mulai dari pendampingan peserta, dokumentasi, hingga koordinasi teknis selama pelatihan berlangsung.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
Advertisement
Artikel Terkait
Ketentuan Memilih Prodi di SNBP 2024: Yuk, Simak Biar Gak Salah Pilih!
Murid SD Negeri Terus Menyusut, PGRI Trenggalek Ungkap Penyebabnya Bukan Sekadar Soal Sekolah
Warga Patungan Selamatkan Masa Depan SDN 1 Sengon Trenggalek, Donasi Sudah Rp127 Juta
Pengadaan LKS MIN 1 Trenggalek Makin Janggal, Kepala Madrasah dan Komite Beri Keterangan Berbeda
Guru di Trenggalek Digaji Rp200 Ribu Sebulan, Kini Berharap Bisa Masuk Dapodik