Musim Kemarau, 13 Kebakaran Hutan Terjadi di Trenggalek dan Berdampak 7 Desa

BPBD Trenggalek mencatat 13 kejadian Karhutla di tujuh desa selama musim kemarau. Warga diminta tidak membuka lahan dengan membakar.

Musim Kemarau, 13 Kebakaran Hutan Terjadi di Trenggalek dan Berdampak 7 Desa

Kebakaran hutan di Trenggalek sudah terjadi 13. KBRT/Zamz

Ringkasan

  • BPBD Trenggalek mencatat 13 kejadian Karhutla yang berdampak di tujuh desa.
  • Kekeringan telah berdampak pada sembilan kecamatan dan 22 desa di Trenggalek.
  • BPBD mendistribusikan 14.000-20.000 liter air bersih setiap hari ke wilayah terdampak.

TRENGGALEK Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) mulai mendominasi kejadian bencana di sejumlah wilayah Kabupaten Trenggalek selama musim kemarau.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek mencatat sebanyak 13 kejadian Karhutla yang berdampak di tujuh desa. Kondisi tersebut membuat masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama tidak membuka lahan dengan cara membakar.

Kepala BPBD Trenggalek yang juga menjabat Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah, Stefanus Triadi Atmono, mengatakan kejadian Karhutla tersebut berkaitan dengan dampak kekeringan yang terjadi di sejumlah wilayah.

Advertisement

“Sampai saat ini berkaitan dengan dampak kekeringan di Trenggalek sudah 13 kali di 7 desa yang terdampak Karhutla,” kata Triadi, Jumat (14/8/2026).

Selain Karhutla, dampak kekeringan juga dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Trenggalek. BPBD mencatat terdapat sembilan kecamatan dan 22 desa yang terdampak kekeringan.

Triadi mengatakan BPBD bersama sejumlah pihak masih melakukan pengecekan lapangan untuk mengetahui penyebab pasti kebakaran hutan yang terjadi.

Meski demikian, kondisi angin dalam beberapa hari terakhir turut menjadi faktor yang membuat api lebih mudah menyebar.

“Yang jelas beberapa hari ini karena dampak angin ya, yang kita dapatkan seperti hari ini siang ini tadi ada titik api di Gunung Sawe. Ini yang menyebabkan terjadinya kebakaran hutan,” ujarnya.

Mengenai dugaan adanya aktivitas masyarakat yang sengaja membakar lahan, Triadi mengatakan pihaknya masih melakukan pengecekan di lapangan.

“Kita saat ini melakukan pengecekan di lapangan dan memang kita tidak sendiri bersama rekan-rekan Perhutani, kemudian rekan-rekan TNI dan Polri,” jelas Stefanus.

BPBD Trenggalek juga telah memberikan imbauan kepada kelompok tani hutan dan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.

“Kita sudah mengimbau kepada kelompok tani hutan maupun LMDH untuk tidak melakukan membuka lahan dengan membakar dan sebagainya,” tegasnya.

Untuk luas lahan yang terbakar, BPBD memperkirakan setiap kejadian berdampak pada area sekitar 2-3 hektare. Namun, luas tersebut bergantung pada kondisi ketika kebakaran terjadi.

“Estimasi antara 2-3 hektar tergantung situasi pada saat kejadian,” katanya.

Di tengah dampak kekeringan, BPBD Trenggalek juga melakukan berbagai upaya untuk membantu masyarakat mendapatkan kebutuhan air bersih.

Triadi mengatakan BPBD bersama tim yang didukung TNI dan Polri tengah mencari sejumlah titik sumber mata air yang dapat dimanfaatkan untuk memudahkan masyarakat memperoleh air bersih.

“Dan hari ini rekan-rekan BPBD bersama tim yang di-backup TNI Polri melakukan pencarian beberapa titik sumber mata air yang dipastikan bisa membantu memudahkan masyarakat untuk mendapatkan air bersih,” ujarnya.

Selain mencari sumber mata air, BPBD terus mendistribusikan air bersih kepada masyarakat yang terdampak kekeringan.

Menurut Triadi, rata-rata air bersih yang disalurkan setiap hari mencapai 14.000 hingga 20.000 liter. Distribusi tersebut terutama dilakukan di Kecamatan Panggul, Bendungan, dan Kampak.

“Ya, jelas kita sudah mendistribusikan rata-rata setiap hari 14.000 sampai 20.000 air yang didistribusikan, terutama tetap masih di Panggul, kemudian di Bendungan, kemudian di Kampak,” jelasnya.

Ikuti WhatsApp Channel

Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!

Join Channel

Advertisement

Artikel Terkait