DPRD Trenggalek Evaluasi Layanan RSUD dr Soedomo, Antrean Operasi Ortopedi Masih Panjang
Komisi IV DPRD Trenggalek mengevaluasi layanan RSUD dr Soedomo. Keterbatasan ruang operasi memicu antrean panjang pasien ortopedi.
06 Jul 2026 • 08:00 WIB
Ketua Komisi IV DPRD Trenggalek Sukarodin evaluasi soal RSUD. KBRT/Zamz
Ringkasan
- DPRD Trenggalek melakukan evaluasi layanan RSUD dr Soedomo dalam LPj APBD 2025.
- Antrean operasi ortopedi masih panjang akibat keterbatasan ruang operasi.
- DPRD mendorong penambahan fasilitas dan SDM untuk meningkatkan layanan pada 2026.
TRENGGALEK – Komisi IV DPRD Trenggalek melakukan evaluasi terhadap tata kelola pelayanan RSUD dr Soedomo dalam pembahasan Laporan Pertanggungjawaban (LPj) APBD Tahun Anggaran 2025. Dalam pembahasan tersebut, masih ditemukan tingginya jumlah pasien rujukan, terutama pada layanan bedah, jantung, dan saraf.
Ketua Komisi IV DPRD Trenggalek, Sukarodin, menyampaikan bahwa salah satu penyebab kondisi tersebut adalah keterbatasan ruang operasi atau Operating Room (OK) di rumah sakit.
"Kemudian di rumah sakit masih banyak rujukan, diantaranya masih banyak itu bedah, jantung, saraf, ini coba kami tanyakan kaitannya dengan urusan bedah ini ternyata masih kekurangan ruang OK dimana bukti antriannya masih panjang," kata Sukarodin.
Advertisement
Meski demikian, pelayanan ortopedi di RSUD dr Soedomo dinilai tetap berjalan baik. Hal itu terlihat dari banyaknya pasien yang memilih menunggu giliran operasi dibanding berobat ke fasilitas kesehatan lain.
"Namun demikian sisi baiknya, khusus ortopedi menurut kami penanganan dan pelayanan bagus, maka mereka rela ngantri lama tidak apa-apa dan tidak beranjak ke tempat lain," ujarnya.
Legislatif menyebut, kondisi ini menjadi indikasi bahwa kepercayaan masyarakat terhadap layanan ortopedi cukup tinggi. Saat ini, tercatat sekitar 50 pasien masih menunggu jadwal operasi ortopedi.
"Antri di ortopedi ini rela sampai mengantri 50 pasien untuk mendapatkan panggilan operasi, data itu yang hari ini ngantri di ortopedi, bagusnya rela menunggu berarti ada cerita bagus di urusan ortopedi," jelasnya.
Ia menambahkan, rata-rata rumah sakit dapat melakukan dua hingga empat tindakan operasi ortopedi per hari, tergantung tingkat kasus yang ditangani. Namun, terdapat pula kondisi darurat yang harus segera mendapat tindakan.
"Rata-rata sehari 2-4 namun melihat kasusnya, dan melihat antriannya, kadang ketika akan ada penindakan kemudian ada pasien yang sifatnya harus segera kan meski didahulukan sifatnya harus segera diambil tindakan," katanya.
Komisi IV DPRD Trenggalek mendorong adanya peningkatan sarana dan prasarana pada tahun 2026, termasuk optimalisasi ruang operasi yang sudah ada serta penambahan sumber daya manusia.
"Pelayanan ini karena dokternya bagus nyatanya banyak pasien rela antri, berarti kami tinggal menambah ruang OK, dan kami masih punya ruang OK tiga, dan satu ruang OK lama ini akan kami fungsikan kembali dengan memenuhi kekurangan dan menambah SDM untuk pelayanan Ortopedi," kata dia.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
Advertisement
Artikel Terkait
Inspektorat Trenggalek Ungkap 10 Kasus Kerugian Negara Belum Tuntas, Nilainya Rp1,59 Miliar
Pilkades Trenggalek Bakal Punya Aturan Baru, Warga Masih Bisa Titip Aspirasi ke DPRD
NPCI Trenggalek Minta Dukungan DPRD, Pembinaan Atlet Terkendala Efisiensi Anggaran
Ruang Perawatan Jiwa RSUD Soedomo Trenggalek Belum Bisa Bertambah, Tersangkut Status Lahan Sawah
Benturan Jadwal Stadion Menak Sopal Picu Spekulasi 'War Pengaruh', DPRD: Jangan Terburu-buru Menyimpulkan