Benturan Jadwal Stadion Menak Sopal Picu Spekulasi 'War Pengaruh', DPRD: Jangan Terburu-buru Menyimpulkan

Polemik penggunaan Stadion Menak Sopal Trenggalek memunculkan dugaan perang pengaruh antar lembaga olahraga. DPRD meminta publik tidak berspekulasi.

Benturan Jadwal Stadion Menak Sopal Picu Spekulasi 'War Pengaruh', DPRD: Jangan Terburu-buru Menyimpulkan

Rapat Dengar Pendapat Komisi IV DPRD Trenggalek bersama ASKAB PSSI, Dispora, Koni. KBRT/Zamz

Ringkasan

  • Benturan jadwal penggunaan Stadion Menak Sopal memicu spekulasi adanya perang pengaruh di dunia olahraga Trenggalek.
  • DPRD menilai dugaan tersebut masih sebatas tafsir dan meminta fokus pada pembinaan olahraga.
  • Piala Soeratin dipastikan tetap digelar di Stadion Menak Sopal pada jadwal yang telah disepakati.

TRENGGALEKPolemik penggunaan Stadion Menak Sopal yang sempat mengancam pelaksanaan Piala Soeratin U-13 dan U-15 di Trenggalek memunculkan beragam spekulasi. Dintaranya spekulasi dugaan adanya "perang pengaruh" di balik benturan jadwal penggunaan stadion milik pemerintah daerah tersebut.

Namun, Ketua Komisi IV DPRD Trenggalek Sukarodin meminta tidak terburu-buru menarik kesimpulan. Menurutnya, yang terpenting saat ini adalah memastikan seluruh kegiatan olahraga tetap bisa berjalan tanpa saling menghambat.

Persoalan itu mencuat setelah Askab PSSI Trenggalek mengadukan penggunaan Stadion Menak Sopal ke DPRD melalui Rapat Dengar Pendapat (RDP), Selasa (23/6/2026). Askab menilai sejumlah agenda kompetisi mereka terancam terganggu karena stadion sudah lebih dulu digunakan pihak lain pada tanggal yang diajukan.

Advertisement

Meski demikian, RDP yang mempertemukan DPRD, Dispora, dan Askab PSSI akhirnya menghasilkan solusi. Piala Soeratin tetap dapat digelar menggunakan Stadion Menak Sopal pada 24-25 Juni dan 2 Juli 2026.

"Ini tadi menyinkronkan saja jadwalnya dengan Dispora. Karena kemarin ada surat yang dilayangkan Askab PSSI Trenggalek, ternyata tanggal yang dimaksud dipakai. Kemudian sudah ada titik temu untuk Piala Soeratin dilaksanakan tanggal 24 dan 25 Juni, kemudian 2 Juli dan memakai Stadion Trenggalek," kata Sukarodin.

Selain Piala Soeratin, stadion juga dijadwalkan menjadi lokasi Piala Kemerdekaan tingkat pelajar se-Kabupaten Trenggalek yang berlangsung pada Agustus mendatang.

Menurut Sukarodin, seluruh kegiatan olahraga yang bertujuan membina atlet daerah patut mendapat dukungan bersama. Ia bahkan berharap semakin banyak cabang olahraga yang aktif menggelar kompetisi.

"Saya kira sesuatu yang baik, kegiatan keolahragaan kita dukung sepenuhnya. Saya ucapkan terima kasih kepada KONI Trenggalek sebagai induk cabang olahraga. Mudah-mudahan tersusul cabor lain," ujarnya.

Awal persoalan bermula ketika Askab PSSI Trenggalek mengajukan penggunaan Stadion Menak Sopal untuk menggelar Piala Soeratin dan Piala Kemerdekaan antar pelajar.

Namun dalam surat balasan yang diterima, stadion disebut telah lebih dulu dipesan pihak lain pada tanggal yang diajukan. Kondisi itu membuat Askab khawatir agenda pembinaan sepak bola usia muda terganggu.

Di sisi lain, Dispora Trenggalek menegaskan tidak pernah menolak pelaksanaan Piala Soeratin. Dinas hanya menjalankan prosedur penggunaan aset daerah berdasarkan urutan pengajuan yang masuk.

Situasi tersebut kemudian berkembang menjadi perbincangan di kalangan pegiat olahraga. Muncul pertanyaan siapa yang sebenarnya memiliki kewenangan dan pengaruh lebih besar dalam pemanfaatan stadion daerah.

Menanggapi hal itu, Sukarodin memilih melihat persoalan secara proporsional.

"Saya kira begini, kalau ada statement perang pengaruh itu kan tafsiran. Tugas kami sebagai Komisi IV ketika ada sesuatu yang masuk ke rumah rakyat melalui RDP ya kami fasilitasi. Adapun kemudian ada yang menafsiri ada perang pengaruh, ya saya pikir bisa benar bisa tidak," tegasnya.

Ia menilai fokus utama seharusnya bukan mencari siapa yang paling berpengaruh, melainkan memastikan fasilitas olahraga daerah dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.

"Prinsipnya tidak usah ditafsirkan ke sana. Apakah yang berpengaruh itu KONI, Dispora atau lainnya. Prinsipnya kaitannya dengan urusan keolahragaan kita dukung bersama," lanjutnya.

Di balik polemik tersebut, DPRD juga menyoroti pentingnya penataan penggunaan fasilitas olahraga milik pemerintah daerah. Menurut Sukarodin, Trenggalek sebenarnya memiliki sejumlah lapangan olahraga yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan.

Namun, perlu ada kejelasan status pengelolaan dan mekanisme pemanfaatannya agar tidak menimbulkan persoalan serupa di kemudian hari.

"Saya kira kami punya berbagai lapangan. Hanya status lapangan ini perlu diverifikasi yang milik pemda mana. Karena yang milik pemda itu menggunakan APBD. Ini sedang akan kami diskusikan dan akan ada rapat dengan Dispora yang akan kami fasilitasi," katanya.

Ikuti WhatsApp Channel

Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!

Join Channel

Advertisement

Artikel Terkait