Anak Berkebutuhan Khusus di Trenggalek Terancam Putus Sekolah, Akses Pendidikan Terbatas
KBRT — Di Kabupaten Trenggalek, masih ada ratusan anak berkebutuhan khusus (ABK) yang kesulitan mengakses layanan pendidikan. Keterbatasan fasilitas dan kapasitas sekolah menjadi penyebab utama tingginya jumlah anak yang tidak bersekolah.Plt Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Trenggalek, Christina Ambarwati, mengungkapkan pihaknya belum memiliki data past...
06 May 2025 • 20:00 WIB
Akses pendidikan anak berkebutuhan khusus terbatas. KBRT/Zamz
KBRT — Di Kabupaten Trenggalek, masih ada ratusan anak berkebutuhan khusus (ABK) yang kesulitan mengakses layanan pendidikan. Keterbatasan fasilitas dan kapasitas sekolah menjadi penyebab utama tingginya jumlah anak yang tidak bersekolah.
Plt Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Trenggalek, Christina Ambarwati, mengungkapkan pihaknya belum memiliki data pasti terkait jumlah anak yang belum mendapatkan akses pendidikan. Namun, berdasarkan informasi yang dihimpun, jumlah ABK yang belum mendapatkan layanan pendidikan mencapai ratusan orang.
"Kami tidak punya berapa jumlah pasti anak yang belum bisa mengakses pendidikan," kata Christina Ambarwati.
Advertisement
Ia menjelaskan, hal ini terjadi lantaran hanya ada tiga SLB di Trenggalek — SLB Kampak, SLB Kemala Bhayangkari, dan SLB Harapan Mulia Panggungsari — yang belum mampu menampung seluruh kebutuhan.
"Di Trenggalek ada 3 SLB, yakni SLB Kampak, SLB Kemala Bayangkari dan SLB Harapan Mulia di Panggungsa. Itu sangat sedikit daya tampungnya," tuturnya.
Pemerintah Kabupaten Trenggalek saat ini berupaya memperluas layanan pendidikan inklusi di sekolah reguler. Program ini difokuskan agar sekolah umum dapat menerima ABK dengan dukungan kurikulum, guru, dan sarana prasarana yang memadai.
"Jadi layanan sekolah inklusi di sekolah reguler saat ini dalam proses penyempurnaan, dengan lebih melakukan persiapan oleh sekolah tersebut, bukan hanya dari orang tuanya," imbuh Tina.
Ia menekankan perlunya pemahaman dari orang tua bahwa anak mereka memiliki hak yang sama untuk bersekolah, meskipun standar capaian belajarnya akan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.
"Karena terkadangan orang tua beranggapan anak seperti itu kok disekolahkan, karena ndak bisa apa-apa," ucap Tina menirukan alasan orang tua ABK enggan menyekolahkan anaknya.
Menurutnya, yang terpenting bukan sejauh mana anak mengalami kemajuan akademik, tetapi bagaimana mereka tidak mengalami diskriminasi.
"Tak ada diskriminasi, mereka diterima oleh lingkungan sosialnya, dia belajar adab, mereka belajar tumbuh kembang yang lain dan tidak tidak ditolak dari sekolah dan temannya," jelas Tina.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
TAGS
Advertisement
Artikel Terkait
Bukan Cuma Lolos Standar, Nilai TKA Siswa Trenggalek Ternyata Ungguli Rata-rata Nasional
TKA Perdana di Trenggalek: Siswa SD Inovatif dan SMPN 1 Jadi Pemilik Nilai Matematika Sempurna