Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini

Press ESC / Click X icon to close

Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini
LoginKirim Artikel

Waspada! Ini Titik Rawan Kebakaran Hutan di Trenggalek Saat Kemarau 2026

Perhutani petakan titik rawan kebakaran hutan di Trenggalek jelang kemarau 2026, masyarakat diminta waspada aktivitas bakar lahan.

Poin Penting

  • Gunung Orak-Arik, Gunung Jaas, dan Desa Gembleb jadi titik rawan kebakaran
  • Aktivitas bakar lahan warga jadi pemicu utama kebakaran hutan
  • Perhutani siapkan edukasi dan antisipasi kekeringan jelang kemarau

TRENGGALEK - Sejumlah kawasan di Trenggalek mulai masuk daftar waspada kebakaran hutan menjelang musim kemarau 2026. Perhutani bersama instansi terkait memetakan beberapa titik rawan, seperti Gunung Orak-Arik, Gunung Jaas, hingga perbukitan di sekitar Desa Gembleb.

Langkah ini diambil sebagai antisipasi meningkatnya risiko kebakaran dan kekeringan yang diprediksi terjadi pada puncak kemarau sekitar Juli hingga Agustus 2026.

Wakil Kepala KPH Perhutani Kediri Selatan, Hermawan, menyebut kesiapsiagaan ini merupakan respons atas potensi kemarau panjang yang dipicu perubahan iklim global.

“Ini bagian dari kesiapsiagaan perubahan iklim. Kita mendapat arahan langsung, termasuk dari Wakapolri, untuk mengantisipasi dampak kemarau panjang tahun ini,” ujarnya.

Koordinasi lintas sektor pun sudah dilakukan, melibatkan Polres Trenggalek, BPBD, Dinas Lingkungan Hidup, serta instansi lain. Dalam rapat tersebut, BMKG turut memaparkan prediksi musim kemarau yang diperkirakan mencapai puncaknya di pertengahan tahun.

Dari hasil pemetaan, kawasan Gunung Orak-Arik menjadi salah satu titik paling rawan karena lokasinya berdekatan dengan permukiman warga. Aktivitas pembakaran lahan di area perkebunan sekitar dinilai berpotensi memicu api merambat ke kawasan hutan.

“Yang paling rawan itu di Orak-Arik karena dekat dengan permukiman. Kalau pembakaran di kebun tidak diawasi, apinya bisa merambat ke atas,” ujarnya.

Selain itu, Gunung Jaas juga masuk kategori rawan karena banyaknya bambu kering yang mudah terbakar, terutama saat cuaca panas dan angin kencang.

ADVERTISEMENT

“Biasanya lahan dibersihkan lalu dibakar. Ini yang menjadi pemicu kebakaran, apalagi saat angin kencang api bisa merambat ke kawasan hutan,” ujarnya.

Sebagai langkah pencegahan, Perhutani akan menggencarkan edukasi ke masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Sosialisasi dilakukan melalui berbagai media, mulai dari pemasangan banner hingga kampanye digital.

“Kita lakukan edukasi bersama BPBD, termasuk pemasangan banner, flyer, dan kampanye di media sosial agar masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar,” jelasnya.

Selain ancaman kebakaran, potensi kekeringan juga menjadi perhatian. Belajar dari kejadian 2024, Perhutani mulai menyiapkan langkah antisipasi seperti penambahan titik penampungan air, pembuatan biopori, hingga pendataan sumber mata air di kawasan hutan.

“Kita inventarisasi mata air yang ada untuk mendukung daerah yang berpotensi mengalami kekeringan, seperti wilayah Panggul dan sekitarnya,” jelasnya.

Hermawan menegaskan, peran masyarakat menjadi kunci untuk mencegah bencana berulang.

“Kita harus bahu-membahu agar kejadian kekeringan seperti tahun 2024 tidak terulang,” tegasnya.

Kabar Trenggalek - Peristiwa

Editor: Zamz