PANGGUL, TRENGGALEK - Pelan tapi pasti, pola berobat warga selatan Trenggalek mulai berubah. Kalau dulu mayoritas pasien di RSUD Tipe D Panggul datang sebagai pasien umum, sekarang pengguna BPJS Kesehatan mulai mendominasi ruang pelayanan rumah sakit milik pemerintah itu.
Perubahan tren tersebut terasa dalam dua tahun terakhir. Bahkan, manajemen rumah sakit menyebut jumlah pasien BPJS kini hampir setara dengan pasien umum.
Direktur RSUD Tipe D Panggul, dr. Rendra Andriawan, mengatakan layanan BPJS saat ini sudah menjadi pilihan utama masyarakat untuk mendapatkan akses pengobatan.
“Dulu pasien umum masih mendominasi, tapi sekarang mulai seimbang, sekitar 50:50 dengan BPJS,” kata Rendra, Senin (18/5/2026).
Naiknya jumlah pasien BPJS ikut berdampak pada pemasukan rumah sakit. Sepanjang 2025, pendapatan RSUD Panggul tercatat mencapai sekitar Rp5 miliar, mendekati target tahunan sebesar Rp6 miliar.
Dari angka itu, layanan BPJS menyumbang sekitar 20 persen atau lebih dari Rp1 miliar.
Menurut Rendra, beberapa tahun lalu kontribusi layanan BPJS masih relatif kecil, hanya berkisar 20 sampai 30 persen dari keseluruhan layanan rumah sakit. Namun kini, penggunaan BPJS terus bergerak naik seiring meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap fasilitas kesehatan daerah.
RSUD Panggul juga memastikan proses klaim BPJS kini lebih lancar dibanding sebelumnya. Rumah sakit tidak lagi menghadapi persoalan keterlambatan pembayaran seperti yang sempat terjadi beberapa tahun lalu.
“Sekarang pencairan tiap bulan sudah berjalan normal. Jadi bukan tunggakan, memang mekanisme bulan berjalan,” ujarnya.
Di tengah meningkatnya layanan BPJS, RSUD Panggul ternyata menghadapi tantangan baru. Kasus gangguan saraf kini menjadi salah satu jenis penyakit yang paling sering dirujuk dari wilayah selatan Trenggalek.
Tingginya angka pasien itu membuat manajemen mulai mempertimbangkan penambahan layanan poli saraf agar warga tidak perlu jauh-jauh dirujuk ke rumah sakit besar di luar daerah.
“Pasien saraf termasuk yang paling banyak dirujuk,” jelas Rendra.
Meski begitu, rencana pengembangan layanan tersebut belum bisa berjalan cepat. RSUD Panggul masih terkendala fasilitas penunjang, terutama alat CT Scan yang menjadi kebutuhan utama penanganan pasien saraf.
Harga alat kesehatan itu disebut membutuhkan anggaran besar, sehingga rumah sakit berharap ada dukungan pembiayaan dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.
“Kalau mau buka layanan saraf harus didukung CT Scan. Anggarannya memang cukup besar,” katanya.
Keberadaan poli saraf dinilai penting karena wilayah selatan Trenggalek selama ini masih cukup terbatas dalam layanan spesialis tertentu. Jika terealisasi, layanan itu diproyeksikan bisa memangkas antrean rujukan pasien sekaligus mendekatkan akses kesehatan bagi warga Panggul dan sekitarnya.
Kabar Trenggalek - Kesehatan
Editor: Zamz





















