Update Dugaan Keracunan MBG Trenggalek, 549 Orang Mengeluh Diare
Sebanyak 549 penerima manfaat MBG dari SPPG Tamanan dilaporkan mengalami gangguan pencernaan di tiga lokasi di Trenggalek.
13 Aug 2026 • 18:33 WIB
Satgas MBG Trenggalek inventarisasi data dugaan keracunan MBG. KBRT/Zamz
Ringkasan
- 549 orang mengalami keluhan.
- Belum ditetapkan sebagai KLB.
- Sampel dikirim ke BBLK Surabaya.
TRENGGALEK - Jumlah penerima manfaat yang mengalami dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) Trenggalek yang mengalami diare dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tamanan, Yayasan Petuk Tadah Lillah Billah, bertambah menjadi 549 orang.
Data tersebut berasal dari tiga lokasi penerima MBG, yakni SMPN 1 Trenggalek, SDI Luqman Al Hakim, dan Posyandu di Kelurahan Tamanan, berdasarkan pendataan Satgas MBG Trenggalek hingga Kamis (13/08/2026) usai rapat koordinasi bersama lintas sektor.
Wakil Ketua Satgas MBG Trenggalek, dr. Sunarto, mengatakan sebanyak 493 orang di SMPN 1 Trenggalek mengalami keluhan. Jumlah tersebut terdiri atas 474 siswa dan 19 guru.
Advertisement
"Untuk SMPN 1 Trenggalek saat ini update terakhir ada 493 orang yang terdiri atas 474 siswa dan 19 guru yang ada keluhan kemarin," ujar Sunarto, Kamis (13/8/2026).
Dari 474 siswa tersebut, sebanyak 78 orang masih dalam kondisi sakit atau mengalami keluhan. Sementara 41 siswa lainnya tercatat tidak masuk sekolah.
Sunarto mengatakan, keluhan serupa juga ditemukan di SDI Luqman Al Hakim Trenggalek. Sebanyak 30 orang mengalami keluhan, terdiri atas 20 siswa dan 10 tenaga pendidik.
Salah satu siswa dari SDI Luqman Al Hakim bahkan harus menjalani rawat inap di RSUD dr. Soedomo Trenggalek setelah mengalami muntah dan diare berulang.
Dokter Spesialis Anak RSUD dr. Soedomo Trenggalek sebelumnya mengatakan siswa berinisial SA (11) mengalami diare lebih dari 10 kali dan muntah lebih dari tujuh kali. Kondisi tersebut membuat tubuhnya lemas hingga membutuhkan infus untuk rehidrasi.
Selain sekolah, penerima manfaat Posyandu di Kelurahan Tamanan yang mendapatkan makanan dari SPPG yang sama juga dilaporkan mengalami keluhan.
"Untuk Posyandu itu ada 26 kejadian. Balitanya ada 9, ibu hamil 3, ibu menyusui 4, kader 2, kemudian anggota yang lain ada 8," jelas Sunarto.
Dengan demikian, berdasarkan pendataan sementara Satgas MBG Trenggalek, terdapat 549 orang yang mengalami keluhan di tiga lokasi tersebut.
Keluhan yang dirasakan umumnya berupa gangguan pencernaan, mulai dari nyeri perut, mual, muntah hingga diare.
"Gejalanya biasanya tidak berat, hanya kadang ada yang sedikit nyeri perut, kemudian mual, ada sedikit yang diare," katanya.
Untuk memastikan tidak ada penerima manfaat yang mengalami keluhan namun belum terdata, Satgas MBG Trenggalek melakukan pengecekan ke sejumlah sekolah lain yang menerima makanan dari SPPG Tamanan.
"Ada 3 TK, kemudian 6 SD dan 1 SMP. Hari ini akan dikunjungi untuk melihat kembali apakah memang di lokasi-lokasi tersebut ada keluhan atau tidak, supaya nanti tidak ada yang kelewatan," jelas Sunarto.
Belum Ditetapkan KLB
Meski jumlah penerima manfaat yang mengalami keluhan mencapai ratusan orang, Pemerintah Kabupaten Trenggalek belum menetapkan kejadian tersebut sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).
Sunarto mengatakan saat ini pemerintah masih melakukan penyelidikan dan mengategorikan kejadian tersebut sebagai peningkatan kasus gangguan pencernaan.
"Belum, belum. Masih kita di peningkatan kasus saja. Jadi untuk kasusnya ini kita masuk ke gangguan pencernaan," tegasnya.
Satgas MBG Trenggalek masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk menentukan langkah selanjutnya. Sampel makanan maupun sampel dari penerima manfaat telah disiapkan untuk pemeriksaan.
Sunarto mengatakan sampel tersebut dikirim untuk diperiksa di Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya.
"Pak Bupati pesannya yang pertama adalah anak-anak yang terdampak mendapat penanganan. Prioritas di situ dulu. Kemudian kita lakukan pengkajian, termasuk mengirimkan sampel kepada BBLK Surabaya. Kalau sudah ada hasilnya akan kita tentukan langkah lebih lanjut," kata dia.
Sementara itu, SPPG Tamanan Yayasan Petuk Tadah Lillah Billah sebelumnya menyatakan menghentikan sementara layanan MBG sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
Hingga Kamis (13/8/2026), penyebab pasti gangguan pencernaan yang dialami penerima manfaat belum dapat dipastikan. Pemerintah masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan maupun penerima manfaat.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
Advertisement
Artikel Terkait
Dugaan Keracunan MBG Trenggalek, 1 Siswa SD Dirawat di RSUD dr Soedomo
Imbas Dugaan Keracunan MBG, SPPG Tamanan Yayasan Petuk Tadah Lillah Billah Berhenti Beroperasi
Dugaan Keracunan MBG di Trenggalek, Sampel Makanan SPPG Tamanan Diuji di Laboratorium
Dugaan Keracunan MBG di SMPN 1 Trenggalek, 421 Siswa dan Guru Mengeluh Mules dan Diare
Dapur MBG Trenggalek Terpetakan di Lahan Dilindungi, Jumlahnya Belum Jelas