Dugaan Keracunan MBG di SMPN 1 Trenggalek, 421 Siswa dan Guru Mengeluh Mules dan Diare
Sebanyak 404 siswa dan 17 guru SMPN 1 Trenggalek dilaporkan mengalami mules setelah menyantap MBG. Sejumlah siswa juga mengalami diare.
12 Aug 2026 • 13:08 WIB
Lokasi ruangan penyimpanan MBG sebelum dibagikan ke siswa. KBRT/Zamz
Ringkasan
- 404 siswa dan 17 guru SMPN 1 Trenggalek dilaporkan mengalami mules setelah mengonsumsi MBG pada Selasa (11/8/2026).
- Sejumlah siswa mengaku mengalami diare, bahkan salah seorang siswa mengaku harus tujuh kali ke kamar mandi.
- Pihak sekolah telah melaporkan keluhan tersebut kepada SPPG dan meminta makanan MBG yang dibagikan diperiksa kembali.
TRENGGALEK - Dugaan gangguan kesehatan setelah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) terjadi di SMP Negeri 1 Trenggalek. Sejumlah siswa mengeluhkan sakit perut atau mulas hingga diare setelah mengkonsumsi menu MBG pada Selasa (11/8/2026).
Pantauan Kabar Trenggalek di SMPN 1 Trenggalek, Rabu (12/8/2026), sejumlah siswa terlihat memegang perut. Beberapa siswa juga mengaku mengalami mual, mules, dan diare setelah menyantap makanan MBG.
Kepala SMPN 1 Trenggalek, Mokhamad Amir Mahmud, mengatakan keluhan tersebut dirasakan sejumlah siswa setelah mengonsumsi MBG pada Selasa (11/8/2026).
Advertisement
“Jadi ada beberapa siswa kami yang memang mules setelah diindikasikan setelah Makan Bergizi Gratis (MBG) Selasa (11/08/2026),” kata Amir.
Menurutnya, sebagian siswa mengalami keluhan setelah pulang dari sekolah. Sementara pada Rabu (12/8/2026), masih terdapat siswa yang merasakan mules di sekolah.
“Kemudian siswa di rumah banyak yang mules, dan di sekolah juga masih ada yang mules, anak-anak yang masih seperti itu kami izinkan untuk diambil oleh orang tua,” ujarnya.
Pihak sekolah juga memberikan penanganan awal melalui Unit Kesehatan Sekolah (UKS) kepada siswa yang masih mengalami keluhan.
“Kemudian kalau sudah sembuh ya sudah, Unit Kesehatan Sekolah (UKS) juga memberikan penanganan kepada anak-anak yang masih mules,” kata Amir.
Amir menyebut, menu MBG yang dibagikan pada Selasa berupa sate ayam tanpa menggunakan tusuk sate.
Namun, ia mengatakan makanan tersebut masih perlu diperiksa lebih lanjut untuk memastikan penyebab keluhan yang dialami siswa dan guru.
“Kemarin menunya sate ayam tapi tidak ada sunduknya, dibiarkan,” ujarnya.
Pihak sekolah juga telah melaporkan kejadian tersebut kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memasok makanan MBG. Amir mengatakan pihak SPPG menyampaikan akan melakukan pengecekan kembali.
“Tadi juga kami lapor ke SPPG dan katanya akan dicek lagi,” katanya.
Dari jumlah penerima manfaat yang hampir mencapai 900 orang di lingkungan sekolah tersebut, Amir menyebut sekitar 404 siswa dan 17 guru mengalami keluhan serupa berupa mules.
“Hampir 900 penerima manfaat, tadi sekitar 404 siswa dan 17 guru yang merasakan hal yang sama mules,” ujarnya.
Salah seorang siswa, Brizi Tehano Alfian, mengaku mulai mengalami mules sekitar satu jam setelah mengonsumsi makanan MBG pada Selasa siang. Ia mengatakan keluhan berlanjut hingga malam hari.
“Iya mules, ya habis makan dan pulang sekolah mules jam 13.00 WIB, makannya jam 12.00 WIB, malam ke kamar mandi dua kali,” kata Brizi.
Brizi mengaku hingga Rabu (12/8/2026) masih merasakan mules. Ia juga mengaku mencium rasa asam pada bumbu kacang yang menyertai menu makanan tersebut.
“Ini masih belum sembuh dan masih terasa mules, secara makanan kemarin ada kecutnya di bumbu kacang, kayak lama rasanya,” ujarnya.
Keluhan lebih berat dialami siswa lainnya, Fafiano Kleon Raditya Putra. Ia mengatakan mulai merasakan mules pada Selasa sekitar pukul 14.00 WIB dan harus beberapa kali ke kamar mandi.
“Sore mules mulai jam 14.00 WIB, dan 7 kali ke kamar mandi, hari ini lumayan minta obat ke UKS,” kata Fafiano.
Sementara itu, wali murid siswa SMPN 1 Trenggalek, Yuswijayanto, mengaku terkejut setelah mengetahui anaknya mengalami diare. Menurutnya, anaknya baru menceritakan kondisi tersebut setelah muncul keluhan serupa pada sejumlah siswa di sekolah.
“Ya terus terang sebagai orang tua kaget, di samping kami kaget, trenyuh dan kenapa hal seperti ini terjadi,” ujarnya.
Ia mengatakan anaknya mengalami diare pada Rabu sekitar pukul 03.00 WIB. Namun, kondisi tersebut tidak langsung disampaikan kepada keluarga.
“Padahal secara Standar Operasional Prosedur (SOP)-nya, sudah dilalui semuanya, keracunannya itu MBG kemarin itu saya tanya ke anak, setelah pulang memang tidak terjadi ke anak-anak, jam 3 dini hari tadi diare, tidak langsung cerita setelah ada kejadian ini baru dia cerita,” kata Yuswijayanto.
Setelah kejadian tersebut, anaknya memilih tidak mengonsumsi makanan MBG yang dibagikan pada Rabu karena khawatir mengalami keluhan serupa.
“Di sekolah hari ini tadi masih mules, dan yang hari ini tidak dimakan karena takut,” ujarnya.
Yuswijayanto berharap evaluasi dilakukan terhadap pelaksanaan MBG, termasuk prosedur pengolahan dan distribusi makanan.
“Sebagai wali murid untuk SOP-nya harus diperbaiki,” katanya.
Hingga berita ini ditulis, keluhan yang dialami siswa dan guru tersebut masih berupa dugaan gangguan kesehatan setelah mengkonsumsi MBG.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
Advertisement
Artikel Terkait
Dapur MBG Trenggalek Terpetakan di Lahan Dilindungi, Jumlahnya Belum Jelas
BGN Ingatkan Siswa Tak Bawa Pulang Makanan MBG
Niat Beli Ompreng MBG Warga Trenggalek Ketipu Rp800 Juta, Kini Laporan di Proses Polisi
MBG Trenggalek: 72 SPPG Beroperasi, Enam Dapur Masih Terganjal Administrasi
Baru 21 dari 72 SPPG di Trenggalek Punya SLHS, BGN Warning: Tak Punya Bisa Ditutup Permanen