Dugaan Keracunan MBG di Trenggalek, Sampel Makanan SPPG Tamanan Diuji di Laboratorium
Pihak SPPG bersama Satgas MBG Trenggalek juga melakukan evaluasi terhadap proses penyediaan makanan, mulai dari penerimaan bahan baku hingga proses produksi.
12 Aug 2026 • 18:02 WIB
MBG di Tamanan kini diuji sampel melalui laboratorium surabay. KBRT/Zamz
Ringkasan
- SPPG Tamanan membawa makanan MBG untuk diperiksa di laboratorium di Surabaya setelah Labkesda tidak dapat melakukan pemeriksaan tersebut.
- Pendataan sementara SPPG mencatat 421 penerima manfaat di SMPN 1 Trenggalek dan 20 penerima manfaat di SDI Lukman Hakim mengalami keluhan.
- SPPG Tamanan menghentikan sementara layanan MBG sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
TRENGGALEK - Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tamanan Yayasan Petuk Tadah Lillah Billah melakukan pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan setelah muncul dugaan keracunan yang berakibat gangguan kesehatan pada penerima manfaat Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Trenggale k.
Kepala SPPG Tamanan Yayasan Petuk Tadah Lillah Billah, Alfian Surya Riayantana, mengatakan pemeriksaan sampel dilakukan pada Kamis (12/8/2026). Pemeriksaan awalnya direncanakan di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda), namun kemudian sampel dibawa ke Surabaya karena Labkesda tidak dapat melakukan pemeriksaan tersebut.
“Untuk dugaan terkait keracunan itu dari pihak SPPG yang melakukan laboratorium makanan, hari ini Kamis (12/08/2026), di Labkesda dan kebetulan Labkesda tidak bisa kemudian akhirnya di Surabaya,” kata Alfian.
Advertisement
Berdasarkan pendataan sementara SPPG, penerima manfaat yang mengalami keluhan berada di dua satuan pendidikan, yakni SMPN 1 Trenggalek dan SD Islam Lukman Hakim.
“Untuk pendataan sendiri yang mengeluhkan ada di 2 sekolah yaitu di SMPN 1 Trenggalek ada 421 dan dari SDI Lukman Hakim 20 penerima manfaat,” ujarnya.
SPPG Tamanan sendiri melayani distribusi MBG untuk 11 sekolah dan satu posyandu dengan total 2.089 penerima manfaat.
“Untuk SPPG Tamanan sendiri melayani 11 sekolah dan 1 Posyandu, dengan jumlah sendiri 2.089,” kata Alfian.
Adapun menu MBG yang diumumkan pada Rabu (11/8/2026) terdiri atas nasi putih, ayam bumbu sate, tahu fantasi, bayam dan jagung, serta buah semangka kuning.
“Menunya kemarin ada nasi putih, lalu ayam bumbu sate, terus tahu fantasi, bayem dan jagung dan buah semangka kuning,” ujarnya.
Koordinator Wilayah SPPG Trenggalek, Sheilla Ammanda Yanu Fadilla, mengatakan penanganan kejadian tersebut dilakukan dengan melibatkan sejumlah pemangku kepentingan, termasuk Dinas Kesehatan, Polres Trenggalek, Kodim, dan pihak terkait lainnya.
“Pastinya yang kami lakukan antar pemangku kepentingan baik dari dinas kesehatan, dari Polres dan Kodim maupun pihak lainnya, intinya kami sangat kami sudah tindak lanjuti ke masing-masing sekolahan berapa yang terdampak dan berapa yang tidak terdampak dan bagaimana yang mereka rasakan yang di konsumsi,” kata Sheilla.
Menurutnya, pendataan dilakukan untuk mengetahui jumlah penerima manfaat yang mengalami keluhan serta kondisi yang dirasakan setelah mengonsumsi makanan MBG.
Pihak SPPG bersama Satgas MBG Trenggalek juga melakukan evaluasi terhadap proses penyediaan makanan, mulai dari penerimaan bahan baku hingga proses produksi.
“Kami selama ini berupaya dengan Satgas Trenggalek untuk tetap bagaimana kejadian ini hal yang terakhir bagi SPPG lainnya untuk bisa menjadi lebih baik dan tidak ada kejadian fatal seperti ini,” ujarnya.
Sheilla mengatakan pemeriksaan juga dilakukan terhadap proses di dapur SPPG. Sementara itu, Dinas Kesehatan membawa sampel makanan untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium.
“Yang pastinya di dapur kami cek penerimaan bahan baku hingga proses produksi itu seperti apa akhirnya tadi dari pihak Dinkes membawa sample makanan baik dari penerima manfaat dari SPPG untuk dilakukan pengecekan laboratorium,” katanya.
Hasil pemeriksaan laboratorium diharapkan dapat memberikan informasi mengenai penyebab keluhan kesehatan yang dialami penerima manfaat.
Sheilla mengatakan untuk sementara layanan SPPG Tamanan dihentikan sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
“Untuk sementara berhenti dulu karena menunggu hasil lab yang dilakukan baik berasal dari makanan atau seperti apa, untuk sementara SPPG ini tidak bisa melayani ke penerima manfaat dan sudah kami laporkan ke Badan Gizi Nasional (BGN),” ujarnya.
Hingga saat ini, belum terdapat hasil laboratorium yang menyatakan bahwa keluhan penerima manfaat kesehatan disebabkan oleh makanan MBG. Oleh karena itu, penyebab kejadian tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dan penelusuran dari pihak terkait.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
Advertisement
Artikel Terkait
Permata Umat Trenggalek Buka Suara Soal MBG: Kami Tak Pernah Menolak
2 Sekolah di Trenggalek Pilih Tak Ikut MBG, 76 Dapur Tetap Layani 151 Ribu Penerima Manfaat