Tak Gentar Sepinya Pasar Trenggalek, Imam Khoiri Tetap Berdagang Burung Demi Keluarga
KBRT - Setiap pagi, derak roda gerobak kayu milik Imam Khoiri (65) menjadi penanda kesetiaannya pada profesi yang telah digelutinya puluhan tahun. Dengan dibantu istri dan cucunya, pria asal Desa Surondakan itu mendorong gerobak berisi puluhan burung dan aneka hewan peliharaan menuju Pasar Burung Trenggalek.Di bawah naungan tembok pagar pasar, Imam menata dagangannya dengan rapi. Meski kicauan bur...
10 May 2025 • 10:00 WIB
Pedagang burung di Trenggalek yang sabar menunggu pembeli. KBRT/Nandika
KBRT - Setiap pagi, derak roda gerobak kayu milik Imam Khoiri (65) menjadi penanda kesetiaannya pada profesi yang telah digelutinya puluhan tahun. Dengan dibantu istri dan cucunya, pria asal Desa Surondakan itu mendorong gerobak berisi puluhan burung dan aneka hewan peliharaan menuju Pasar Burung Trenggalek.
Di bawah naungan tembok pagar pasar, Imam menata dagangannya dengan rapi. Meski kicauan burung tak seramai dulu dan jumlah pembeli semakin surut, Imam tetap setia menunggu. Wajahnya teduh, sorot matanya penuh keteguhan.
“Saya sudah lama berjualan di Pasar Pon dahulu, saat itu pasar masih terbuka dan pedagang hewan seperti saya masih boleh berjualan di sana,” kenangnya.
Advertisement
Setiap hari, sejak pukul 07.00 hingga 15.00 WIB, Imam berjaga di pasar. Cuaca hujan atau terik tak menyurutkan langkahnya. Baginya, berdagang burung sudah menjadi jalan hidup yang diyakini membawa rezeki bagi keluarganya.
“Kalau dibandingkan dengan dulu, beberapa tahun terakhir ini mencari uang bertambah sulit. Walaupun begitu saya tidak akan berhenti berjualan di sini karena berjualan burung sudah digariskan kepada saya,” ucapnya mantap.

Tak hanya burung, Imam juga menawarkan kucing, ayam kampung, kelinci, itik, hingga ayam kalkun di gerobaknya. Dagangan itu ia peroleh dari pasar Durenan, pasar Bandung, atau dari warga sekitar yang menitipkan hewan peliharaannya untuk dijualkan.
“Kalau burung itu paling banyak digerobak ya merpati dan perkutut,” imbuhnya.
Meski perkembangan teknologi membuka peluang jual beli daring, Imam mengaku belum pernah mencoba memasarkan dagangannya secara online. Ia merasa tak terbiasa menggunakan telepon pintar. Namun, sesekali anaknya membantu memasarkan lewat jejaring sosial agar modal bisa cepat berputar.
“Sekarang itu asalkan saya dapat memutar kembali modal walau dengan untung sedikit saya sudah bersyukur. Karena terkadang kalau lagi sepi mengembalikan modal itu menyusahkan,” ujarnya seraya membenarkan letak sangkar di gerobaknya.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
TAGS
Advertisement
Artikel Terkait
PPKM Diperpanjang Lagi, Warung Makan dan Pedagang Kaki Lima Boleh Buka dengan Prokes Ketat
Pertama Digelar di Trenggalek, 13 Organisasi Merajut Indonesia dari Desa Melalui Doa Bersama