Kabar TrenggalekKabar Trenggalek
Kabar TrenggalekKabar Trenggalek

Press ESC / Click X icon to close

My Account

Sesek, Kerajinan Bambu Kokoh Menopang Ekonomi Warga Brongkah Tenggalek

  • 19 Mar 2025 16:00 WIB
  • Google News

    KBRT - Berbeda dengan kerajinan bambu pada umumnya, sesek adalah anyaman bambu yang memiliki ketebalan dan kekuatan jauh melebihi yang lain. Sesek yang dapat digunakan menjadi dinding, pagar, bahkan jembatan membuat keberadaannya tetap diminati sampai sekarang.

    Mahmudi (75), warga Dusun Brongkah, Desa Kedunglurah, merupakan salah satu pengrajin sesek yang tetap eksis hingga kini.

    “Saya telah membuat sesek sejak saya masih muda, kira-kira sekitar tahun 1980. Dahulu saya masih mencari bambu sendiri, berbeda dengan sekarang yang sudah dapat memesan dari warga sekitar,” ujarnya.

    Mahmudi hingga kini masih menekuni kerajinan sesek meski sudah tidak seproduktif dulu. Kini, ia telah dibantu oleh putranya dalam membuat sesek. Mahmudi mengaku sudah merasa keberatan jika harus melakukan produksi sendiri.

    “Dulu saat saya masih muda, bisa menghasilkan 8 sampai 10 sesek dalam satu hari. Sekarang membuat 3 buah sesek saja serasa tidak mungkin bagi saya,” ungkapnya.

    Mahmudi menjelaskan bahwa kerajinan sesek di Dusun Brongkah memiliki dua jenis ukuran, yaitu besar dan kecil. Sesek kecil memiliki lebar 3 meter dan tinggi 1 meter, sedangkan sesek besar memiliki lebar 3 meter dan tinggi 1,8 meter.

    ADVERTISEMENT
    Migunani

    “Sesek biasa dibeli oleh pengepul dari Trenggalek dan Tulungagung. Saya pernah dengar bahwa sesek Brongkah ini telah sampai di Surabaya. Untuk ukuran yang kecil, sesek dihargai Rp 55.000, sedangkan yang besar berharga Rp 65.000,” ungkapnya.

    Ia mengakui harga sesek tidak pernah naik, selalu stabil meski dalam momen apa pun. Para pengepul dapat mengambil puluhan hingga ratusan lembar sesek dalam sekali beli. Menurut pengakuan Mahmudi, pengepul biasanya membawa truk ataupun mobil pick-up.

    “Pengepul selalu membawa berapa pun sesek yang disediakan warga. Sekarang saya masih menyimpan sekitar 30 lembar sesek yang belum terjual,” tandasnya.

    Mahmudi mengatakan banyak warga sekitar yang sekarang ikut membuat sesek. Kendati demikian, ia mengaku sesek buatannya sendiri masih selalu laku.

    “Membuat sesek telah menjadi pekerjaan utama saya selama puluhan tahun di samping bertani. Saya tidak merasa iri walau beberapa pengrajin sesek baru telah bermunculan di sini,” pungkasnya.

    Kabar Trenggalek - Sosial

    Editor:Zamz

    ADVERTISEMENT
    Lodho Ayam Pak Yusuf