Pemain Hilang dari Database, ASKAB PSSI Trenggalek Akui Otak-atik Akun SIAP Milik Skuad Sepak Bola
Askab PSSI Trenggalek bakal menyerahkan penuh pengelolaan akun SIAP kepada klub setelah polemik data pemain Shrimp Army memicu evaluasi internal.
26 Jun 2026 • 14:00 WIB
ASKAB PSSI Trenggalek paparkan soal aplikasi SIAP. KBRT/Zamz
Ringkasan
- Askab PSSI Trenggalek mengakui kesalahan pengelolaan akun SIAP yang berdampak pada data pemain Shrimp Army.
- Mulai sekarang pengelolaan akun SIAP akan diserahkan sepenuhnya kepada masing-masing klub.
- Polemik ini memicu evaluasi sistem administrasi sekaligus pembinaan sepak bola usia dini di Trenggalek.
TRENGGALEK – Polemik hilangnya data pemain milik SSB Shrimp Army di aplikasi Sistem Informasi dan Administrasi PSSI (SIAP) berbuntut perubahan kebijakan di tubuh Askab PSSI Trenggalek. Ke depan, pengurus kabupaten memastikan tidak lagi ikut mengelola akun milik klub agar persoalan serupa tak terulang.
Keputusan itu muncul setelah Admin SIAP Askab PSSI Trenggalek, Bima Wahyu Romadoni, mengakui adanya kekeliruan dalam pengelolaan akun yang berdampak pada data pemain Shrimp Army.
Menurut Bima, saat aplikasi SIAP mulai diterapkan, sebagian besar klub sepak bola di Trenggalek belum siap mengoperasikan sistem administrasi digital tersebut. Karena itu, pengelolaan akun sementara dipusatkan di Askab.
Advertisement
"Pada waktu itu saat pengajuan aplikasi SIAP, tidak semua peserta siap memiliki dan mengoperasikan aplikasi tersebut. Yang siap hanya sekitar tiga tim, termasuk Shrimp Army. Saat itu yang disahkan hanya enam tim," ujarnya.
Kondisi tersebut membuat admin Askab memiliki akses ke sejumlah akun klub, termasuk melakukan pengelolaan data pemain. Namun, Bima mengakui langkah tersebut justru menjadi awal munculnya persoalan.
Ia mengatakan dirinya ikut melakukan perubahan data pemain karena memiliki kewenangan sebagai admin tingkat kabupaten.
"Mungkin itu juga kesalahan saya karena ikut campur dalam aplikasi SIAP tersebut, termasuk dalam pencabutan pemain dan lain-lain karena admin kabupaten itu saya," katanya.
Bahkan, ia secara terbuka mengakui pencabutan data pemain dari akun Shrimp Army merupakan kesalahan yang menjadi tanggung jawab pribadinya.
"Itu kembali lagi kesalahan saya pribadi sebagai admin Askab dan juga memiliki akses akun Shrimp Army. Saya mencampuri hak mereka," tegasnya.
Atas kejadian tersebut, Bima menyatakan akan menyampaikan permintaan maaf secara resmi kepada manajemen Shrimp Army, baik secara pribadi maupun mewakili organisasi.
"Mungkin secara pribadi maupun organisasi saya akan meminta maaf secara resmi kepada tim Shrimp Army karena telah ikut campur terhadap hak mereka dalam memegang aplikasi SIAP," ujarnya.
Sebagai bentuk evaluasi, Askab PSSI Trenggalek memutuskan seluruh hak pengelolaan akun SIAP akan dikembalikan kepada masing-masing klub. Askab hanya akan berperan memberikan pendampingan teknis dan sosialisasi penggunaan aplikasi.
"Untuk haknya, Askab sendiri tidak akan mencampuri urusan tersebut lagi," kata Bima.
Ia menjelaskan hingga kini baru enam klub di Trenggalek yang telah memiliki akun SIAP, yakni Singa Muda, Poras, Shrimp Army, PSBM Munjungan, Jupiter, dan Kampak.
Ke depan, Askab berencana membuka pengajuan akun SIAP secara bertahap agar semakin banyak sekolah sepak bola maupun klub lokal yang terdaftar dalam sistem administrasi resmi PSSI.
"Nanti tim-tim akan kami sosialisasi terkait cara pendaftaran dan pengelolaannya agar mereka memiliki haknya sendiri-sendiri," jelasnya.
Menurut Bima, keberadaan akun SIAP menjadi syarat utama bagi klub yang ingin mengikuti kompetisi resmi yang terhubung dengan PSSI, baik di tingkat kabupaten, provinsi, maupun nasional.
"Kalau tim tidak masuk dalam aplikasi SIAP, tidak bisa mengikuti kegiatan yang diadakan provinsi maupun kabupaten yang terintegrasi dengan pusat," katanya.
Meski begitu, ia mengakui masih banyak klub yang belum menganggap administrasi sebagai kebutuhan penting. Sebagian pengelola masih memandang proses administrasi sepak bola terlalu rumit.
"Kadang mereka berpikir sepak bola kok terlalu ribet urusan administrasi. Padahal ini penting untuk akses kompetisi hingga tingkat nasional," ujarnya.
Polemik ini sebelumnya mencuat setelah Shrimp Army gagal mengikuti Piala Soeratin U-15 2026. Manajemen klub menyebut sejumlah pemain yang sebelumnya terdaftar di akun SIAP mereka hilang tanpa pemberitahuan.
Pemilik Shrimp Army, Anjar Priadi Putra, juga meminta Askab melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pembinaan sepak bola usia dini di Trenggalek. Menurutnya, minimnya peserta Piala Soeratin tahun ini menjadi indikator bahwa pembinaan di tingkat akar rumput masih membutuhkan banyak perbaikan.
Anjar mengaku telah menyampaikan persoalan data pemain kepada Askab sejak Mei 2025. Namun hingga kompetisi berlangsung, ia merasa belum memperoleh penjelasan yang memadai.
Selain dukungan perlengkapan latihan, ia berharap klub-klub mendapat pendampingan dalam pengelolaan organisasi, termasuk administrasi pemain melalui aplikasi SIAP.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
Advertisement
Artikel Terkait
Askab PSSI Trenggalek Dituding Otak-atik Database Pemain, Shrimp Army Gagal Turunkan Tim U-15
Benturan Jadwal Stadion Menak Sopal Picu Spekulasi 'War Pengaruh', DPRD: Jangan Terburu-buru Menyimpulkan
Jadwal Pertandingan Timnas MLBB Indonesia di Kualifikasi Asian Games 2026
Dimulai Bulan Juli, KONI Optimistis Bupati Cup Lahirkan Talenta Baru Pencak Silat Trenggalek
Jelang Hari Bhayangkara, Anggota dan Bhayangkari Polres Trenggalek Adu Cepat di Kolam Renang