Askab PSSI Trenggalek Rangkul Klub, Serahkan Pengelolaan SIAP untuk Cegah Miskomunikasi
Askab PSSI Trenggalek mengumpulkan seluruh klub untuk mengevaluasi polemik aplikasi SIAP dan menyepakati pengelolaan sistem diserahkan kepada masing-masing klub.
03 Jul 2026 • 08:00 WIB
Ketua Askab PSSI trenggalek Puguh Purnomo usai kumpulkan semua klub. KBRT/Zamz
Ringkasan
- Askab PSSI Trenggalek menggelar evaluasi bersama seluruh klub pasca-polemik SIAP.
- Mulai TSL 2026, setiap klub akan mengelola akun SIAP secara mandiri dengan pendampingan Askab.
- Askab juga mewajibkan seluruh peserta TSL berbadan hukum sebagai syarat mengikuti kompetisi.
TRENGGALEK – Askab PSSI Trenggalek mengumpulkan seluruh klub sepak bola yang berada di bawah naungannya sebagai langkah memperkuat komunikasi sekaligus mengevaluasi dinamika yang muncul setelah polemik aplikasi Sistem Informasi dan Administrasi PSSI (SIAP) yang sebelumnya dikeluhkan Shrimp Army.
Pertemuan tersebut menghasilkan sejumlah kesepakatan penting. Salah satunya, mulai penyelenggaraan Trenggalek Soccer League (TSL) 2026, setiap klub peserta akan mengelola akun SIAP secara mandiri, tidak lagi bergantung pada Askab PSSI Trenggalek.
Ketua Askab PSSI Trenggalek, Puguh Purnomo, mengatakan forum tersebut digelar untuk menyamakan persepsi antara pengurus Askab dan klub agar persoalan serupa tidak kembali terjadi.
Advertisement
"Agendanya kami lakukan evaluasi atas dinamika yang berkembang kemudian dinamika dan saling curhat agenda antara klub dan Askab selaku induk dari organisasi sepak bola," ujarnya.
Menurut Puguh, berbagai masukan dari klub menjadi bahan evaluasi bagi Askab untuk memperbaiki tata kelola organisasi, khususnya dalam pelayanan kepada klub anggota.
"Tentunya catatan muncul dan akan kami aplikasikan saran dan masukan dari klub sehingga tidak ada hal-hal lagi mis komunikasi khususnya yang terjadi antara pengurus Askab dan klub," katanya.
Hasil evaluasi tersebut melahirkan kesepakatan bahwa pengelolaan aplikasi SIAP akan diserahkan kepada masing-masing klub. Namun sebelum diterapkan, Askab akan memberikan pendampingan agar seluruh klub mampu mengoperasikan sistem tersebut.
"Intinya sudah terjadi kesepakatan pengurus askab dengan klub bahwa aplikasi SIAP mulai tahun 2026 ini sejak nant TSL akan kami gelar sudah dilakukan dan menggunakan aplikasi SIAP semua klub yang ikut berkompetisi," ucap Puguh.
Ia menambahkan, seluruh klub peserta TSL juga diwajibkan berbadan hukum sebagai syarat mengikuti kompetisi.
"Semua klub yang ikut TSL wajib berbadan hukum, aplikasi SIAP akan kami serahkan ke masing masing klub, sebelum itu tentu akan melakukan pendampingan juga, tapi wajib menggunakan aplikasi SIAP," lanjutnya.
Saat ini, sekitar 12 klub di Trenggalek telah berbadan hukum. Sementara itu, masih banyak klub yang belum memahami penggunaan aplikasi SIAP secara optimal.
Puguh menjelaskan, aplikasi SIAP tidak hanya terhubung dengan Askab PSSI Trenggalek, tetapi juga terkoneksi langsung dengan PSSI pusat sehingga pengelolaannya harus dilakukan secara tertib sesuai ketentuan.
"Yang sudah berbadan hukum semua klub sekitar 12, kemudian yang aplikasi SIAP ini yang masih banyak yang belum bisa menggunakan aplikasi tersebut, kemudian aplikasi SIAP itu tidak hanya tekoneksi dengan Askab Trenggalek, tapi juga terkoneksi dengan PSSI pusat," jelasnya.
Askab menargetkan pendampingan penggunaan aplikasi SIAP selesai sebelum Trenggalek Soccer League digelar pada September atau Oktober 2026.
"Untuk TSL (Trenggalek Soccer League) akan diselenggarakan bulan September atau Oktober jadi sebelum itu untuk kami lakukan pendampingan sehingga tim tidak ada alasan belum bisa dan sebagainya kami menggunakan role yang ada," tandasnya.
Sebelumnya, polemik SIAP mencuat setelah Shrimp Army, Sekolah Sepak Bola (SSB) asal Kecamatan Watulimo, mengaku gagal mengikuti Piala Soeratin kategori U-15. Klub tersebut menyebut sejumlah data pemain yang sebelumnya tercatat dalam database SIAP hilang dari akun mereka sehingga tidak dapat didaftarkan mengikuti kompetisi.
Pemilik Shrimp Army, Anjar Priadi Putra, juga menilai minimnya jumlah peserta Piala Soeratin tahun ini menjadi sinyal perlunya evaluasi pembinaan sepak bola usia dini di Trenggalek. Ia mengkritik pengelolaan aplikasi SIAP yang saat itu masih berada di bawah kendali Askab sehingga dinilai menyulitkan klub dalam mengelola administrasi pemain.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
Advertisement
Artikel Terkait
Tak Ingin Terjebak Polemik, Askab PSSI Trenggalek Tidak Helat Piala Presiden Usia Dini
Usai Polemik SIAP, Askab PSSI Trenggalek Janji Benahi Organisasi dan Dengarkan Suara Klub