Pedagang Tembakau Terakhir di Pasar Basah Trenggalek, Bertahan di Ambang Kepunahan
KBRT – Di sudut lengang Pasar Basah Trenggalek, di antara deretan penjual sayur dan bumbu dapur, masih ada aroma khas yang tak mudah ditemui: wangi tembakau. Dialah Siti Kamdiyah (70), satu-satunya pedagang tembakau yang tersisa. Sejak 1984, ia setia menapaki pasar, menjajakan lembar-lembar tembakau dari ladangnya sendiri di Kalituri, Tulungagung.“Dulu di Pasar Pon ada sekitar lima pedagang tembak...
08 May 2025 • 20:00 WIB
Pedagang Tembakau Terakhir di Pasar Basah Trenggalek. KBRT/Nandika
KBRT – Di sudut lengang Pasar Basah Trenggalek, di antara deretan penjual sayur dan bumbu dapur, masih ada aroma khas yang tak mudah ditemui: wangi tembakau. Dialah Siti Kamdiyah (70), satu-satunya pedagang tembakau yang tersisa. Sejak 1984, ia setia menapaki pasar, menjajakan lembar-lembar tembakau dari ladangnya sendiri di Kalituri, Tulungagung.
“Dulu di Pasar Pon ada sekitar lima pedagang tembakau, tapi sekarang sudah tidak ada lagi,” kenangnya, matanya menerawang.
Perempuan yang akrab disapa Siti itu adalah potret keteguhan. Setiap pagi, ia menumpang bus dari kampungnya menuju Trenggalek, membuka lapaknya sejak pukul 10.00 WIB hingga 15.00 WIB. Jika tiba pasaran Pon, ia kembali ke Pasar Pon, tempat lapak lamanya masih berdiri.
Advertisement
Di lapak sederhananya, Siti menawarkan berbagai jenis tembakau. Harga tembakau keringnya bervariasi, dari Rp12.000 hingga Rp24.000 per ons. Ia juga menjajakan perlengkapan merokok seperti kertas rokok, cengkeh, dan tembakau beraneka rasa.
“Hasilnya memang tidak selalu banyak, tapi lumintu — setiap hari pasti ada yang beli,” ujarnya sembari tersenyum.

Siti berkisah, teman-teman sesama pedagang tembakau dulu satu per satu telah undur diri. Ada yang sakit, ada pula yang telah berpulang. Kini, ia sendirian menghidupi tradisi yang hampir punah.
Sekali panen, sawah tembakaunya bisa menghasilkan sekitar empat kuintal tembakau siap pakai. Persediaannya melimpah, bahkan ia melayani pembelian grosir jika ada pesanan besar.
“Daripada jual rokok ilegal yang dilarang, saya pilih tetap dagang tembakau begini,” pungkasnya.
Dengan langkah yang tak pernah gentar, Siti Kamdiyah menjaga jejak terakhir pedagang tembakau di pasar basah. Sebuah perjuangan sunyi di tengah arus zaman yang terus berubah.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
Advertisement
Artikel Terkait
PPKM Diperpanjang Lagi, Warung Makan dan Pedagang Kaki Lima Boleh Buka dengan Prokes Ketat
Pertama Digelar di Trenggalek, 13 Organisasi Merajut Indonesia dari Desa Melalui Doa Bersama