Pasukan Semut SDAYU Pungut Sampah di Tengah Pawai Kemerdekaan Pule
Puluhan siswa SD Negeri 2 Puyung tergabung dalam Pasukan Semut dan memungut serta memilah sampah di sepanjang rute pawai.
27 Aug 2026 • 18:01 WIB
Siswa SD Sedayu melakukan pungut sampah. KBRT/Zamz
Ringkasan
- Puluhan siswa SD Negeri 2 Puyung tergabung dalam Pasukan Semut saat Pawai Seni Budaya HUT ke-81 RI di Kecamatan Pule.
- Siswa memungut dan memilah sampah organik serta anorganik di sepanjang rute pawai.
- Aksi tersebut menjadi sarana edukasi lingkungan dan pembentukan karakter siswa di luar ruang kelas.
TRENGGALEK - Puluhan siswa SD Negeri 2 Puyung (SDAYU) punya cara berbeda memeriahkan Pawai Seni Budaya HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kecamatan Pule, Rabu (26/8/2026) lalu.
Di tengah kemeriahan pawai, mereka justru fokus memungut sampah yang tercecer di sepanjang rute. Para siswa yang tergabung dalam Pasukan Semut itu kemudian mengumpulkan dan memilah sampah berdasarkan jenisnya.
Aksi tersebut membuat rute pawai menjadi ruang belajar terbuka bagi para siswa. Mereka mempraktikkan langsung kepedulian terhadap lingkungan di tengah kegiatan perayaan kemerdekaan.
Advertisement
Kepala SD Negeri 2 Puyung, Arif Wibowo, mengatakan sekolah sengaja memasukkan edukasi lingkungan ke dalam konsep pawai.
“Kami merancang pawai ini bukan sebatas ajang untuk tampil memukau, melainkan juga kesempatan belajar yang nyata bagi anak-anak,” kata Arif.
Menurut Arif, pengalaman langsung dapat memperkuat pembentukan karakter siswa. Mereka tidak hanya mempelajari kebersihan melalui teori di dalam kelas, tetapi juga menghadapi persoalan sampah secara langsung di lingkungan sekitar.
“Saat anak-anak mengalami sendiri proses melihat, mengambil, hingga memilah sampah, pengalaman tersebut akan membekas lebih kuat dalam memori mereka,” ujarnya.
Dalam Pawai Seni Budaya HUT ke-81 Kecamatan Pule, SDAYU membagi kontingennya menjadi dua rombongan dengan misi berbeda.
Rombongan pertama menampilkan Kraton Sdayu Bhuwana. Barisan tersebut menghadirkan maskot, pengawal, dayang, hingga Ratu Sdayu Bhuwana sebagai simbol kreativitas dan identitas sekolah.
Sementara itu, Pasukan Semut bergerak di belakang rombongan utama.
“Barisan Pasukan Semut bergerak mengawal dari posisi belakang rombongan utama,” jelas Arif.
Para siswa mengamati kondisi jalan, memungut sampah yang tercecer, kemudian memilahnya menjadi sampah organik dan anorganik.
“Kami tidak langsung membuang sampah yang masih memiliki nilai ekonomi. Sekolah akan mengelola dan memanfaatkannya kembali,” imbuh Arif.
Melalui aksi tersebut, SDAYU ingin menunjukkan bahwa kemeriahan pawai tidak harus meninggalkan persoalan baru berupa sampah.
Arif menilai siswa perlu melihat persoalan lingkungan secara langsung agar rasa tanggung jawab tumbuh melalui pengalaman, bukan sekadar teori.
Dari kegiatan memilah sampah, siswa belajar bahwa tidak semua sampah harus berakhir di tempat pembuangan akhir. Sebagian masih memiliki nilai guna maupun nilai ekonomi jika dikelola dengan benar.
Pembelajaran tersebut berlangsung ketika para siswa menyusuri rute pawai. Arif berharap kebiasaan itu tidak berhenti setelah acara selesai, tetapi dibawa siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Camat Pule, Budi Supriyanto, mengapresiasi aksi Pasukan Semut SDAYU. Menurutnya, sekolah memiliki peran penting dalam menanamkan karakter peduli lingkungan sejak usia dini.
“Kami sangat mengapresiasi aksi Pasukan Semut SDAYU. Ini merupakan wujud konkret pendidikan kepedulian lingkungan yang tertanam sejak dini,” kata Budi.
Ia menilai aksi tersebut membuktikan bahwa pendidikan lingkungan dapat dilakukan melalui kegiatan sederhana.
“Aksi adik-adik SDAYU ini sejalan dengan komitmen pemerintah daerah dalam menggalakkan pengelolaan sampah, termasuk menyukseskan program Sangu Sampah gagasan Bupati Trenggalek,” tegas Budi.
Bagi keluarga besar SDAYU, Pasukan Semut bukan sekadar bagian dari kontingen pawai. Aksi tersebut menjadi sarana untuk membangun kepedulian, kepekaan sosial, dan kebiasaan memilah sampah sejak dini.
Arif optimistis pengalaman siswa selama mengikuti pawai dapat membentuk kebiasaan baru yang mereka bawa ke luar lingkungan sekolah.
“Langkah kecil selalu memiliki kekuatan untuk mengawali perubahan besar,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan pesan yang menjadi semangat Pasukan Semut selama kegiatan.
“Semua bisa kita mulai dari satu sampah yang kita pungut, dan satu sampah yang kita pilah,” pungkas Arif.
Pesan tersebut menjadi pembeda SDAYU di tengah kemeriahan Pawai Seni Budaya Kecamatan Pule. Ketika peserta lain menampilkan seni dan budaya untuk memeriahkan HUT RI, siswa SD Negeri 2 Puyung menghadirkan pesan bahwa perayaan kemerdekaan juga dapat menjadi momentum untuk menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
TAGS
Advertisement
Artikel Terkait
Pantai Cengkrong Jadi Titik Awal Perubahan, Ratusan Warga Bergerak Lawan Sampah
Hari Lingkungan Hidup 2026: Gerakan Pilah Sampah Jadi Fokus Utama di Trenggalek
Kerja Bakti Hari Lingkungan Hidup, Sampah Masih Ditemukan di Sekitar Pendopo Trenggalek
Produksi Sampah di Trenggalek 298 Ton per Hari, Berikut 3 Kecamatan Penyumbang Sampah Terbesar
Bangun Ekonomi di Tengah Pandemi, Pemkab Trenggalek Revitalisasi Pasar Munjungan dengan Anggaran Rp. 1,3 Miliar