Masih Cari 10 Siswa Lagi, Tim Sekolah Rakyat Trenggalek Jemput Bola hingga Akhir Juni

Dinsos PPPA Trenggalek masih melakukan penjangkauan calon siswa Sekolah Rakyat. Kuota jenjang SD dan SMA belum terpenuhi menjelang penutupan pendataan.

Masih Cari 10 Siswa Lagi, Tim Sekolah Rakyat Trenggalek Jemput Bola hingga Akhir Juni

Sekolah Rakyat Trenggalek masih buka hingga juni. KBRT/Dok Sekolah Rakyat

Ringkasan

  • Dinsos PPPA Trenggalek masih mencari tambahan siswa untuk memenuhi kuota Sekolah Rakyat.
  • Jenjang SD masih kurang empat siswa, sedangkan SMA masih membutuhkan enam siswa lagi.
  • Pendamping sosial melakukan penjangkauan langsung hingga akhir Juni untuk memastikan seluruh rombel terisi.

TRENGGALEK – Pendaftaran Sekolah Rakyat (SR) di Trenggalek memasuki fase akhir. Namun hingga pekan terakhir Juni 2026, masih ada sejumlah kursi yang belum terisi, terutama untuk jenjang SD dan SMA.

Kondisi itu membuat Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Trenggalek bersama pendamping sosial kembali turun ke lapangan. Mereka melakukan penjangkauan langsung untuk mencari calon siswa yang memenuhi syarat agar seluruh rombongan belajar (rombel) bisa terisi saat tahun ajaran baru dimulai.

Kepala Dinsos PPPA Trenggalek, Habib Solehudin, mengatakan rapat finalisasi calon peserta didik yang digelar Rabu (24/6/2026) belum menjadi tahap akhir karena proses pendataan masih terus berjalan.

Advertisement

"Hari ini menentukan penjangkauan anak-anak yang masuk di SD, SMP maupun SMA. Yang kemarin belum ada kejelasan, sekarang alhamdulillah anak-anak sudah ada kejelasan," ujarnya.

Menurut Habib, salah satu fokus utama rapat adalah memastikan calon siswa yang sebelumnya mendaftar di sekolah umum benar-benar menentukan pilihan. Langkah itu dilakukan agar tidak terjadi tumpang tindih data dan setiap anak memperoleh kepastian akses pendidikan.

"Hari ini harus clear yang masalah-masalah itu. SD mereka sudah pilih di SR, yang di SMP juga, SMA juga sudah pilih di SR," katanya.

Dari hasil pendataan sementara, jenjang SD masih membutuhkan tambahan empat siswa untuk memenuhi satu rombongan belajar yang ditargetkan berisi 30 anak. Saat ini jumlah yang terdata baru mencapai 26 siswa.

Sementara itu, kuota SMA juga belum sepenuhnya terisi. Dari target 90 siswa, baru 84 siswa yang menyatakan siap bergabung sehingga masih terdapat enam kursi kosong.

Berbeda dengan SD dan SMA, minat pada jenjang SMP justru membludak. Jumlah pendaftar bahkan melebihi kuota awal sehingga Sekolah Rakyat Trenggalek memperoleh tambahan satu rombongan belajar.

"Di SMP hari ini kelebihan 115 siswa. Jadi nanti ada empat rombel. Kalau empat rombel masih kurang lima siswa," jelas Habib.

Menurutnya, salah satu tantangan yang muncul selama proses pendataan adalah masih adanya calon siswa yang terdaftar di sekolah negeri lain. Sebagian orang tua memilih langkah tersebut sebagai cadangan apabila anaknya tidak diterima di Sekolah Rakyat.

Namun hasil koordinasi dengan pemerintah pusat membuka peluang penyesuaian jumlah siswa antarrombel sehingga persoalan tersebut bisa diatasi.

"Karena mereka khawatir jangan-jangan kalau di SR tidak diterima, akhirnya dia harus sekolah di umum," ujarnya.

Dinsos PPPA memastikan proses penjangkauan akan terus dilakukan hingga akhir Juni. Pendamping sosial di lapangan diminta aktif mencari calon siswa yang memenuhi kriteria penerima manfaat program.

Khusus jenjang SD, peluang penambahan peserta didik masih terbuka karena ada sejumlah anak yang sebelumnya belum bisa masuk sistem akibat terkendala batas usia pendaftaran.

"Masih ada yang belum masuk aplikasi karena kurang satu bulan atau dua bulan. Nanti ini akan menyusul," terang Habib.

Menariknya, Sekolah Rakyat tidak hanya diperuntukkan bagi anak dari keluarga yang masuk kategori desil 1 dan 2 dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

Habib menjelaskan, anak dari keluarga di luar kategori tersebut tetap memiliki kesempatan apabila hasil verifikasi lapangan menunjukkan mereka berada dalam kondisi yang membutuhkan bantuan pendidikan.

Syaratnya, calon peserta didik harus melampirkan dokumen pendukung, termasuk surat keterangan miskin dari pemerintah desa setempat.

"Memang diperbolehkan siswa yang di luar desil satu dan dua ketika layak dijangkau oleh teman-teman di lapangan dan memang ada kasus yang luar biasa sehingga harus ditolong sekolah di SR," jelasnya.

Dengan proses penjangkauan yang masih berlangsung, Dinsos PPPA berharap seluruh kuota Sekolah Rakyat Trenggalek dapat terpenuhi sebelum tahun ajaran baru dimulai sehingga tidak ada kursi yang kosong dan lebih banyak anak dari keluarga rentan bisa mendapatkan akses pendidikan.

Ikuti WhatsApp Channel

Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!

Join Channel

Advertisement

Artikel Terkait