Di Era Digital, Orang Tua Trenggalek Makin Selektif Memilih Sekolah, Madrasah Jadi Pilihan

Kemenag Trenggalek menilai meningkatnya minat masyarakat terhadap madrasah dipengaruhi perubahan cara pandang orang tua dalam memilih pendidikan di era digital.

Di Era Digital, Orang Tua Trenggalek Makin Selektif Memilih Sekolah, Madrasah Jadi Pilihan

Kemenag Trenggalek paparkan madrasah jadi pilihan orang tua. KBRT/Zamz

Ringkasan

  • Kemenag Trenggalek menilai meningkatnya minat masyarakat terhadap madrasah dipicu perubahan cara pandang orang tua di era digital.
  • Penguatan pendidikan agama dan karakter menjadi alasan utama banyak orang tua memilih MI maupun MTs.
  • Meski peminat meningkat, madrasah tetap wajib mematuhi ketentuan rombel dan kuota peserta didik sesuai regulasi nasional.

TRENGGALEK – Memilih sekolah kini tak lagi semata-mata soal jarak, fasilitas, atau prestasi akademik. Di Kabupaten Trenggalek, semakin banyak orang tua yang mulai menjadikan pendidikan karakter dan agama sebagai pertimbangan utama saat menentukan tempat belajar anak.

Perubahan cara pandang itu, menurut Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Trenggalek, menjadi salah satu alasan meningkatnya minat masyarakat terhadap Madrasah Ibtidaiyah (MI) maupun Madrasah Tsanawiyah (MTs) dalam beberapa tahun terakhir.

Kepala Kantor Kemenag Trenggalek, Mohammad Nur Ibadi, mengatakan perkembangan teknologi digital ikut mengubah cara orang tua memandang pendidikan.

Advertisement

"Pergeseran pola pikir orang tua di era gempuran teknologi digital menjadi pemantik utama melambungnya kepercayaan publik terhadap madrasah," tegas Nur Ibadi.

Ia menilai derasnya arus informasi membuat orang tua semakin menyadari pentingnya membekali anak dengan fondasi agama yang kuat sejak usia dini.

"Orang tua masa kini makin sadar bahwa bekal paling krusial untuk anak adalah pendidikan agama. Madrasah hadir menawarkan penguatan pondasi tersebut secara konsisten," ujarnya.

Menurut Nur Ibadi, madrasah tidak hanya memberikan pembelajaran umum, tetapi juga memiliki kekuatan pada pendidikan agama melalui konsep tafaqquh fiddin. Pendekatan tersebut dinilai menjadi salah satu alasan meningkatnya kepercayaan masyarakat.

"Madrasah memiliki identitas kuat pada penguatan Al-Qur'an, fikih, dan karakter. Hal itulah yang membuat para orang tua merasa tenang karena anak-anak mereka mengantongi bekal hidup yang utuh," katanya.

Ia mengaku kepercayaan terhadap sistem pendidikan madrasah juga diterapkan dalam keluarganya. Anak-anaknya turut mengenyam pendidikan di bawah naungan Kementerian Agama.

Meski jumlah peminat terus meningkat, Kemenag mengingatkan seluruh madrasah agar tidak cepat berpuas diri. Kepercayaan masyarakat, menurut Nur Ibadi, harus dijawab dengan peningkatan kualitas layanan pendidikan.

Salah satu upaya yang terus didorong adalah pengembangan pembelajaran berbasis teknologi melalui program digitalisasi madrasah.

"Kami menantang rekan-rekan pengelola untuk menyelaraskan kurikulum madrasah dengan ekosistem digital modern melalui pilar digital madrasah," ujarnya.

Ia berharap madrasah mampu memadukan penguatan karakter dengan kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi.

"Karena masyarakat sudah mempercayakan anak-anak mereka kepada kita, tidak ada kata lain selain menyajikan mutu pendidikan nomor satu," tegasnya.

Di sisi lain, Nur Ibadi juga meluruskan anggapan bahwa madrasah lebih leluasa menerima peserta didik dibanding sekolah negeri. Menurutnya, MI maupun MTs tetap wajib mengikuti ketentuan rombongan belajar (rombel) dan batas maksimal jumlah siswa sebagaimana diatur dalam regulasi nasional.

"Itu tidak benar. MI maupun MTs juga terikat ketentuan rombel yang ketat. Aturannya sama persis dan kami mengacu pada regulasi yang berlaku," katanya. 

Ikuti WhatsApp Channel

Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!

Join Channel

Advertisement

Artikel Terkait