GMNI Trenggalek Soroti Ketimpangan Pembangunan Momen HUT ke-80 RI
KBRT – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kabupaten Trenggalek menyoroti ketimpangan pembangunan di Indonesia pada momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia.Ketua GMNI Trenggalek, Mohamad Shodiq Fauzi, menyampaikan bahwa meski Indonesia telah merdeka selama delapan dekade, persoalan ketidakadilan dan ketimpangan masih menjadi pekerjaan rumah besar bangsa.“Di usia ke-80 tahu...
18 Aug 2025 • 12:00 WIB
GMNI Trenggalek Soroti Ketimpangan Pembangunan Momen HUT ke-80 RI. KBRT/Zamz
KBRT – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kabupaten Trenggalek menyoroti ketimpangan pembangunan di Indonesia pada momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia.
Ketua GMNI Trenggalek, Mohamad Shodiq Fauzi, menyampaikan bahwa meski Indonesia telah merdeka selama delapan dekade, persoalan ketidakadilan dan ketimpangan masih menjadi pekerjaan rumah besar bangsa.
“Di usia ke-80 tahun ini, kami rasa bangsa Indonesia, khususnya anak muda, harus memberikan pertanyaan mendasar: apakah kita sudah benar-benar merdeka?,” ujarnya.
Advertisement
Menurut Shodiq, kemerdekaan tidak hanya berarti terbebas dari kolonialisme, tetapi juga mampu mewujudkan keadilan, kedaulatan, dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Ia menilai pemerintah ke depan harus menempatkan kemerdekaan ekonomi dan pendidikan sebagai prioritas utama.
“Ketimpangan ekonomi masih nyata. Akses pendidikan dan kesehatan masih mewah bagi masyarakat di daerah tertinggal. Petani dan nelayan berhadapan dengan harga yang tidak menentu, buruh masih menerima upah yang tidak layak,” tegasnya.
Shodiq juga mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak boleh dilihat sebatas angka makro. Pertumbuhan itu, katanya, harus dapat dinikmati secara merata.
“Kalau hanya segelintir orang yang menikmatinya, maka kemerdekaan tidak sepenuhnya milik bangsa Indonesia,” lanjutnya.
Selain ekonomi, Shodiq menyinggung tantangan di sektor pendidikan dan kebudayaan. Lunturnya nilai Pancasila, krisis identitas, hingga gaya hidup hedonisme disebut menjadi ancaman serius bagi generasi muda.
“Kualitas pendidikan di daerah tertinggal jauh tertinggal dibanding sekolah di perkotaan. Bahkan, sekolah kerap dijadikan simbol status sosial karena biayanya yang tinggi,” jelasnya.
Melalui momen HUT ke-80 RI, GMNI Trenggalek berharap semangat kemerdekaan dapat dimaknai lebih luas, bukan sekadar nostalgia sejarah.
“Merdeka bukan hanya lepas dari penjajahan fisik, tapi juga dari ketidakadilan, ketimpangan, dan penindasan. Tugas kita adalah memastikan kemerdekaan benar-benar bermakna bagi seluruh rakyat Indonesia,” ujarnya.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
TAGS
Advertisement
Artikel Terkait
Hearing GMNI dan DPRD, Pendidikan Trenggalek Dinilai Masih Penuh Persoalan
Puluhan GMNI Trenggalek Demo Pendidikan, Tuduh 30 Penanganan Kasus Anak Mangkrak
Hari Kartini, GMNI Trenggalek: Kekerasan Perempuan Masih Nyata, Jabatan Publik Diisi Pelaku Kekerasan
Respons Tegas DPRD Trenggalek Usai Demo GMNI, Janji Kawal Aspirasi Mahasiswa
GMNI Trenggalek Turun Jalan, Kritik Aturan TNI–Polri yang Dinilai Ancam Ruang Sipil