10 Lokasi Hutan di Trenggalek Terbakar, Luasnya Capai 21,25 Hektare
Kebakaran hutan di Trenggalek terjadi di 10 lokasi dengan luas 21,25 hektare. Perhutani mengidentifikasi 20 titik rawan kebakaran.
24 Aug 2026 • 08:00 WIB
Hutan Trenggalek terbakar seluas 21 hektare. KBRT/Zamz
Ringkasan
- Kebakaran hutan di Trenggalek terjadi di 10 lokasi dengan luasan sekitar 21,25 hektare.
- Perhutani mengidentifikasi 20 titik rawan kebakaran, dengan tiga lokasi berisiko tinggi karena dekat permukiman.
- Tanaman pinus relatif belum terdampak signifikan dan Perhutani memperkuat patroli serta satgas pengendalian karhutla.
TRENGGALEK - Kebakaran hutan di Kabupaten Trenggalek hingga 18 Agustus 2026 tercatat terjadi di 10 lokasi dengan total luasan terbakar diperkirakan mencapai 21,25 hektare.
Wakil Kepala Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Perhutani Kediri Selatan, Budi Prihartono, mengatakan kebakaran tersebut masih dalam skala sedang. Meski demikian, tanaman produktif berupa pinus sejauh ini relatif tidak terdampak.
"Ya, sampai sekarang saat ini sampai tanggal 18 Agustus kemarin untuk lokasi yang terjadi kebakaran dalam skala sedang itu adalah di 10 lokasi, kemudian untuk luas yang terbakar itu perkiraan ini ada 21,25 hektare," terang Budi.
Advertisement
Selain mencatat lokasi yang telah terbakar, Perhutani juga melakukan identifikasi terhadap titik-titik yang dinilai rawan terjadi kebakaran.
Budi menyebut terdapat 20 titik rawan kebakaran yang tersebar di sejumlah desa. Wilayah tersebut di antaranya berada di Kecamatan Dongko, Kampak, Karangan, Trenggalek, dan Gandusari.
"Semua tersebar di 20 titik yang ini sudah kita identifikasi bahwa titik tersebut merupakan titik yang sangat rawan terjadi kebakaran," katanya.
Dari titik-titik tersebut, terdapat tiga lokasi yang dinilai memiliki risiko tinggi karena berada dekat dengan permukiman.
Lokasi pertama berada di Blok Gunung Orak-arik, tepatnya petak 114, 115, dan 116. Kemudian Gunung Jaas dan Gunung Kuncung atau hutan kota yang berada di petak 76. Lokasi ketiga berada di Gunung Sawe, yakni petak 74, 75, dan 76.
"Ada tiga titik memang punya risiko tinggi karena di dekat dengan permukiman," ujarnya.
Budi menambahkan, berdasarkan data yang dimiliki Perhutani, tiga lokasi tersebut hampir setiap tahun mengalami kebakaran saat musim kemarau.
"Sesuai dengan data yang ada, ini memang tiga titik ini hampir tiap tahun selalu mengalami kebakaran hutan, hampir tiap tahun," jelasnya.
Di tengah kejadian kebakaran tersebut, tanaman produktif Perhutani berupa pinus disebut belum mengalami dampak signifikan.
"Sampai sekarang alhamdulillah untuk tanaman produktif kami yaitu tanaman pinus tidak ada dampak, belum ada dampak kebakaran. Meskipun ada itu cuma sedikit," kata Budi.
Salah satu kejadian yang tercatat berada di Pring Apus. Dalam kejadian tersebut, hanya sekitar delapan pohon pinus yang terdampak.
"Biasanya cuma kemarin yang terjadi di Pring Apus itu hanya 8 pohon. Ya, 8 pohon," ungkapnya.
Menurut Budi, tanaman yang paling banyak terdampak justru berada pada kelas hutan tanaman rimba campur atau jenis kayu lainnya. Lokasinya antara lain berada di Blok Gunung Orak-arik, Gunung Jaas, dan Gunung Sawe.
Untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran, Perhutani Kediri telah melakukan sejumlah langkah mitigasi. Salah satunya dengan membentuk piket siaga untuk melakukan patroli kehutanan secara rutin di masing-masing BKPH.
"KPH Perhutani Kediri ini sudah melakukan mitigasi bencana karhutla. Ini yang pertama bahwa Perhutani Kediri ini sudah membentuk piket siaga untuk patroli kehutanan secara rutin kepada masing-masing BKPH dengan kegiatan pemantauan patroli tanaman keamanan hutan," jelas Budi.
Perhutani juga membentuk Satuan Tugas Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgas Dalkarhutla) tahun 2026.
Pembentukan tersebut dituangkan dalam SK Satgas Dalkarhutla Nomor 379/KPTS/KDR/Kediri Jatim/2026. Personel satgas terdiri atas karyawan Perhutani serta masyarakat peduli api dari Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH).
Selain itu, Perhutani membentuk Pos Komando Pengendalian Karhutla di Kantor KPH Kediri serta Pos Satuan Pelaksanaan Pengendalian Kebakaran (Pos Satlak) di masing-masing BKPH. Pos Satlak tersebut dikomandoi oleh Asper di masing-masing BKPH.
Perhutani juga melakukan sosialisasi dan imbauan terkait larangan pembakaran hutan kepada masyarakat.
Sosialisasi dilakukan di desa-desa, disertai pemasangan banner imbauan di sejumlah titik rawan kebakaran. Dalam kegiatan tersebut, Perhutani melibatkan TNI, Polri, BPBD, pemerintah desa, dan LMDH.
"Ini berupa sosialisasi di desa. Kemudian ada pemasangan banner-banner imbauan di masing-masing titik yang itu rawan terjadi kebakaran," ujarnya.
Perhutani juga telah menggelar apel siaga kebakaran hutan pada 16 Juli 2026 yang dipusatkan di KPH Kediri.
Selain langkah pencegahan di lapangan, pemantauan titik api dilakukan setiap hari melalui aplikasi Sistem Monitoring Karhutla (Sipongi) milik Kementerian Kehutanan.
Budi mengatakan, hingga Agustus 2026, titik api di kawasan hutan Trenggalek tidak terpantau dalam aplikasi tersebut.
"Alhamdulillah sebenarnya untuk kawasan hutan yang di Trenggalek ini sampai dengan Agustus ini untuk spot yang terpantau di aplikasi Sipongi tidak muncul," katanya.
Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena kebakaran yang muncul di Trenggalek dapat segera ditangani sehingga tidak berlangsung hingga berhari-hari.
"Karena apa? Kebakaran yang terjadi di Trenggalek ini cepat tertangani sehingga tidak butuh waktu sampai harian, sehingga hitungan jam itu sudah bisa tertangani," kata dia.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
Advertisement
Artikel Terkait
Tumpukan Kayu Lapuk di Bendungan Tugu Trenggalek Terbakar
Cegah Karhutla, Polres Trenggalek Intensifkan Patroli Kawasan Hutan
Diduga Karena Puntung Rokok, Kebun 3,5 Hektare di Kecamatan Panggul Terbakar
Sedang Siapkan Tasyakuran, Dapur Rumah Warga di Tugu Terbakar
Luas Hutan Lindung per Kecamatan di Kabupaten Trenggalek