Yang Tak Boleh Luput dari Net Zero Carbon 2045
Menuju Trenggalek Net-Zero Carbon 2045, pemerintah daerah perlu menyudahi kebijakan seremonial dan mulai mengintervensi kurikulum pendidikan anak usia dini serta menghidupkan kajian ilmiah di level kampus lokal.
23 Jun 2026 • 10:00 WIB
Kabupaten Trenggalek Net Zero Carbon 2045
Ringkasan
-
Target Trenggalek Net-Zero Carbon 2045 rawan menjadi sebatas imajinasi jika kebijakan yang diambil pemerintah masih bersifat seremonial dan belum menyentuh aspek kesadaran fundamental masyarakat.
-
Pewaris sejati visi 2045 adalah Generasi Z dan Alpha, sehingga pembiasaan karakter ramah lingkungan (green habits) yang realistis harus segera diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan anak secara taktis.
-
Target bebas emisi ini masih terasa asing karena belum menjadi perbincangan ilmiah yang hidup di level kampus lokal, sehingga butuh sinergi birokrasi dan akademisi untuk membumikan konsep tersebut berbasis riset.
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Trenggalek telah ditetapkan dengan tema besar yang sangat eksplisit: Kabupaten Trenggalek Net-Zero Carbon Dengan Pendapatan Tinggi. Arah pembangunan Kota Alen-Alen ini diproyeksikan mencapai puncaknya (goal) pada tahun 2045.
Pasca-dokumen perencanaannya rampung, saya pernah diundang khusus untuk memberikan pandangan sekaligus dukungan penuh dalam kegiatan sosialisasi visi tersebut. Kendati sebagian pihak memandang gagasan ini absurd atau muluk-muluk, satu hal yang perlu digarisbawahi adalah, bawah ide penyelamatan lingkungan harus mendapat tempat utama di tengah maraknya bisnis ekstraktif yang lambat laun menggerus kualitas hidup dan ekosistem kita saat ini.
Ada beberapa catatan strategis yang bisa dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Trenggalek untuk menggapai mimpi besar tersebut. Sebagian poin sudah saya sampaikan langsung di hadapan forum yang dihadiri para kepala dinas dan tokoh-tokoh kunci Trenggalek. Namun, saya memandang publik juga berhak tahu. Bagaimanapun, Trenggalek memiliki jargon Jwalita Praja Karana—Trenggalek cemerlang karena rakyat. Ide pemerintah untuk membawa Trenggalek ke arah peradaban yang lebih baik harus didukung sepenuhnya oleh masyarakat, tanpa mengecualikan suara-suara kritis di dalamnya.
Advertisement
Pada tahun 2045 nanti, usia saya akan menyentuh 54 tahun—itu pun jika masih diberi umur panjang. Namun, satu hal yang saya sadari, pada usia tersebut saya tak lagi berada di fase produktif untuk berkembang. Artinya, penikmat utama dari tatanan net zero carbon ini bukanlah saya, bukan orang-orang yang lebih tua dari saya, dan jelas bukan para pejabat pemerintah hari ini yang akan segera pensiun. Penikmat sejati masa depan ini adalah anak-anak Generasi Z dan Generasi Alpha.
Sisi positif dari gagasan net zero carbon ini memang tampak menggiurkan. Namun, jika tidak disertai dengan gerakan kampanye yang masif sejak sekarang, bukan hal mustahil apabila visi tersebut hanya akan berakhir sebagai imajinasi belaka. Kalimat yang pas untuk menggambarkan kondisi ini adalah: visi tanpa eksekusi hanyalah imajinasi. Tentu, kita tidak menginginkan hal itu terjadi di Trenggalek.
Kendati demikian, kampanye kesadaran lingkungan tidak boleh dilakukan secara serampangan dan emosional. Langkah yang reaktif hanya akan melahirkan kebijakan-kebijakan yang bersifat seremonial belaka. Sebagai contoh, gerakan tanam pohon yang diinisiasi oleh dinas tertentu memang terlihat estetis di kamera, namun belum menyentuh kebutuhan fundamental soal kesadaran. Menanam bukan sekadar perkara menancapkan bibit ke dalam tanah, melainkan tentang komitmen perawatan pasca-tanam.
Ambil contoh konkret saat saya menyalurkan hobi memancing di pesisir Watulimo, tepatnya di sekitar pancer Pantai Cengkrong yang menjadi lokasi bekas tambak udang ilegal terbengkalai. Di sana terjadi abrasi yang cukup parah hingga arus pasang air laut banyak menumbangkan pohon kelapa. Kabar baiknya, sempat ada upaya penanaman mangrove dari dinas terkait. Namun kabar buruknya, karena abrasi terus berlanjut tanpa penanganan komprehensif, bibit-bibit mangrove yang baru ditanam tersebut akhirnya tumbang digulung ombak.
Menanam saja ternyata tidak cukup. Ibarat kata, jika menanam pohon lalu diabaikan begitu saja dengan harapan ia akan tumbuh ajaib dengan sendirinya, tentu petani durian di Trenggalek sudah lama makmur. Faktanya, para petani harus merawatnya dengan telaten, bahkan ketika pohon durian tersebut sudah tumbuh besar.
Menanamkan Kesadaran Melalui Intervensi Pendidikan Sejak Usia Dini
Seperti yang telah saya kemukakan, ahli waris dari tatanan Net Zero Carbon ini adalah Generasi Z dan Generasi Alpha. Pada tahun 2045, Generasi Z (kelahiran 1997–2012) akan berusia 33 hingga 48 tahun, sementara Generasi Alpha (kelahiran 2013–2024) akan berada di usia matang 21 hingga 32 tahun. Merekalah pemilik masa depan dari cetak biru RPJPD tersebut. Oleh karena itu, kesiapan mereka dalam menghadapi zona bebas emisi harus dipersiapkan secara radikal oleh pemerintah sejak dini.
Envicount, sebuah organisasi global yang berfokus pada masa depan berkelanjutan, mencatat lima pilar utama yang harus dipenuhi untuk mencapai target net zero carbon. Tujuan intinya adalah menjaga kestabilan iklim global agar tidak melampaui batas pemanasan yang berbahaya melalui penekanan emisi dan peningkatan penyerapan karbon demi menjaga keberlanjutan lingkungan. kelima gagasan tersebut berbunyi:
-
Transisi ke Energi Terbarukan: Mengalihkan fondasi energi dari bahan bakar fosil menuju energi bersih (surya, angin, panas bumi) guna menekan emisi secara drastis sejak proses operasionalnya.
-
Peningkatan Efisiensi Energi: Mengurangi konsumsi energi secara signifikan di sektor industri, bisnis, dan rumah tangga melalui pemanfaatan teknologi hemat energi dan otomatisasi sistem.
-
Transportasi Berkelanjutan: Mentransformasi sektor transportasi dengan memprioritaskan kendaraan listrik serta membudayakan jalan kaki, bersepeda, atau menggunakan transportasi publik demi memutus ketergantungan pada bahan bakar fosil.
-
Pengelolaan Limbah: Menekan emisi gas metana—salah satu gas rumah kaca paling berbahaya—melalui pengurangan sampah organik, daur ulang (recycling), pengomposan, serta teknologi pengolahan sampah menjadi energi.
-
Inovasi Teknologi Pengurangan Emisi: Mengembangkan solusi teknologi tingkat lanjut seperti carbon capture untuk menangkap dan menyimpan emisi sebelum lepas ke atmosfer, khususnya pada sektor industri berat.
Kelima pilar di atas seyogianya tidak boleh berhenti pada kebijakan populer yang bersifat top-down semata—seperti gerakan "Sangu Sampah" yang sejauh ini implementasinya masih membutuhkan evaluasi mendalam. Kita membutuhkan pembiasaan (habituation) nyata di tingkat masyarakat agar kebijakan top-down ini disambut secara organik dari bawah (bottom-up). Dan pembiasaan ini hanya mungkin berhasil jika diintervensi melalui dunia pendidikan, paling krusial dimulai dari level taman kanak-kanak (PAUD/TK).
Para pakar pendidikan dan peneliti psikologi kognitif sepakat bahwa menumbuhkan kebiasaan (habit) positif pada anak adalah kunci pembentukan karakter jangka panjang. Menurut studi Chen dan rekan-rekan (2020), habit diartikan sebagai rutinitas perilaku yang diulang-ulang secara teratur hingga terjadi tanpa disadari. Dalam kacamata psikologi klasik, William Andrews (1903) memandangnya sebagai cara berpikir atau keinginan tetap yang diperoleh dari pengulangan pengalaman mental sebelumnya. Kebiasaan merupakan hasil otomatisasi kognitif yang dipelajari dengan sangat baik melalui pengulangan ekstensif, sehingga tidak lagi memerlukan usaha keras yang disadari (Aarts, 1997).
Dengan analogi sederhana, kebiasaan berbuat baik atau merawat lingkungan harus dibentuk persis seperti kebiasaan anak merapikan sepatu, berdoa sebelum belajar, atau mengerjakan PR—sebuah tindakan yang mengalir natural tanpa perlu proses berpikir panjang lagi. Oleh karena itu, green habits (kebiasaan hijau) penunjang net zero carbon wajib disuntikkan langsung ke dalam kurikulum pendidikan formal sebagai bentuk intervensi taktis pemerintah.
Merujuk pada pilar-pilar keberlanjutan tersebut, ada beberapa kebiasaan mendasar yang harus distandardisasi dan dimiliki oleh anak-anak Trenggalek sejak usia dini:
-
Hemat Energi: Refleks mematikan lampu dan perangkat elektronik jika tidak digunakan, mencabut pengisi daya jika baterai sudah penuh, serta memaksimalkan cahaya matahari alami.
-
Memilih Transportasi Hijau: Membudayakan jalan kaki atau bersepeda untuk jarak dekat, serta antusias menggunakan transportasi umum atau konsep berbagi tumpangan (carpooling).
-
Bijak Terhadap Makanan: Memiliki disiplin tinggi untuk selalu menghabiskan makanan di piring demi mencegah penumpukan sampah organik yang memicu gas metana di TPA.
-
Mengurangi Sampah Plastik: Membiasakan diri membawa botol minum (tumbler) dan kotak bekal sendiri ke sekolah atau saat bermain guna memangkas konsumsi plastik sekali pakai.
-
Memilah dan Memanfaatkan Limbah: Belajar memisahkan jenis sampah sejak dari kamar, serta mengasah kreativitas mengubah barang bekas menjadi benda berdaya guna (upcycling).
-
Eksplorasi Sains dan Teknologi Hijau: Memupuk rasa ingin tahu terhadap cara kerja teknologi ramah lingkungan seperti panel surya dan mobil listrik melalui materi edukasi yang interaktif.
Sebagian kebiasaan ini mungkin sudah terlihat di beberapa sekolah secara sporadis, namun gerakan ini harus ditingkatkan secara masif, terstruktur, dan bergerak ke arah yang lebih radikal.
Tentu kita harus realistis. Mengubah perilaku anak usia dini bukanlah satu-satunya yang otomatis menyelesaikan seluruh persoalan emisi. Target net-zero carbon tetap membutuhkan regulasi makro yang tegas dari pemerintah, mulai dari pembatasan izin bisnis ekstraktif, komitmen beralih ke energi bersih, hingga ketegasan menata ruang wilayah. Namun, kebijakan makro tersebut akan sia-sia jika manusia yang hidup di dalamnya tidak dipersiapkan sejak sekarang.
Dinas-Dinas Harus Menyudahi Drama Ego Sektoral
Namun, sebuah gerakan radikal di dunia pendidikan tidak akan pernah lahir jika birokrasi pemerintah kita masih merawat ego sektoral di dalam ruang-ruang rapat ber-AC. Mewujudkan Trenggalek Net-Zero Carbon 2045 bukan sekadar tugas tunggal Dinas Lingkungan Hidup (DLH), melainkan sebuah simfoni kerja keras yang harus dimainkan bersama secara ekstra oleh berbagai dinas penentu kebijakan.
Badan Perencanaan Pembangunan, Riset Dan Inovasi Daerah (Bapperida), sebagai arsitek utama RPJPD, harus mengunci visi ini ke dalam indikator kinerja utama dan dokumen anggaran tahunan. Jangan biarkan gagasan ini menguap menjadi sekadar pemanis dokumen di rak buku. Anggaran tersebut kemudian harus dieksekusi secara taktis oleh Dinas Pendidikan dengan menyisipkan lima green habits tadi langsung ke dalam jantung kurikulum muatan lokal, mulai dari level PAUD hingga SMP. Kita ingin anak-anak Trenggalek sejak TK tidak hanya hafal bernyanyi, tetapi secara refleks mencabut pengisi daya yang penuh dan merasa risih jika menyisakan makanan di piring mereka.
Di sisi lain, kebiasaan baru anak-anak ini akan layu sebelum berkembang jika tidak didukung oleh ekosistem infrastruktur di luar sekolah. Di sinilah Dinas Perhubungan (Dishub) harus turun ke jalan, berkeringat memastikan jalur sepeda dan proyek Zona Selamat Sekolah (ZoSS) benar-benar aman, agar anak-anak kita bisa membiasakan transportasi hijau tanpa rasa was-was diseruduk kendaraan bermotor, yang tentu saja harus disesuikan dengan landscape Trenggalek yang tidak seluruhnya area perkotaan. Lalu, Dinas PMD (Pemberdayaan Masyarakat dan Desa) harus bergerak ke desa-desa, memastikan Dana Desa ikut mengalir untuk membiayai fasilitas pilah sampah edukatif dan ruang terbuka hijau di lembaga PAUD pelosok.
Jika para kepala dinas dan pemangku kebijakan hari ini masih memilih bekerja sendiri-sendiri demi ego kelompok atau serapan anggaran kepangkatan semata, maka bersiaplah melihat jargon Jwalita Praja Karana dan mimpi Trenggalek cemerlang di tahun 2045 runtuh menjadi sekadar dongeng pengantar tidur yang usang bagi anak-cucu kita.
Terakhir yang perlu digarisbawahi, gagasan besar mengenai net-zero carbon ini sejauh ini belum menjadi perbincangan ilmiah yang hidup di Trenggalek. Hampir tidak ada ruang diskusi, seminar, atau kajian serius di level kampus lokal maupun forum-forum ilmiah daerah yang menguliti kesiapan kota ini secara rasional.
Bagaimana kita bisa mengeksekusi target di tahun 2045 jika ekosistem akademisnya sendiri belum bergerak memberikan panduan dan kajian yang matang? Urusan mengolah sampah di TPA hingga menyusun kurikulum karakter anak usia dini tidak akan pernah berjalan efektif jika hanya dibahas di ruang rapat birokrasi yang terkesan ekslusif.
Sebelum melangkah terlalu jauh, Pemerintah Kabupaten Trenggalek bersama institusi pendidikan tinggi di daerah harus terlebih dahulu menghidupkan mimbar-mimbar ilmiah untuk menguji, memetakan, dan membumikan konsep net-zero ini agar tidak sekadar menjadi jargon politik yang asing di telinga masyarakatnya sendiri.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
Advertisement
Artikel Terkait
Trenggalek Luncurkan Program Sangu Sampah: Siswa Bisa Tukar Sampah Terpilah Jadi Uang Saku
Dari Lingkungan hingga Ekonomi, Pemuda Muhammadiyah Trenggalek Punya Agenda Besar Usai Rapimda
Aksi Hijau di Pantai Cengkrong, Pemuda Muhammadiyah Trenggalek Tanam Mangrove dan Bersihkan Pantai
Dapur MBG Bertambah, Dinas Lingkungan Hidup Trenggalek Ingatkan Sampah Jangan Semua Berakhir di TPA
Apa Itu Arsip Inaktif dan Apa Saja Contohnya?