KBRT - Mesin pemanen padi membawa kemudahan dengan panen yang cepat dan murah. Namun, di sisi lain, petani juga merasa resah akan dampaknya terhadap tanah sawah mereka. Terutama sawah yang berada di pinggiran jalan, yang lumpurnya semakin dalam setiap kali panen.
Hal tersebut dirasakan oleh Suyatno (74), salah satu petani di Desa Krandegan. Ia mengaku kegiatan bertani semakin sulit dilakukan, terutama bagi pekerja tanam dan panen seperti dirinya.
Menurutnya, mesin pemanen padi meninggalkan sisa akar padi yang masih hidup subur, yang jika tidak segera dibajak, akan terlambat membusuk dan menyulitkan proses tanam berikutnya.
"Sawah yang dipanen menggunakan mesin meninggalkan sisa akar padi yang masih hidup. Jika tidak segera dibajak setelah panen, akar yang tersisa akan terlambat membusuk dan menyusahkan saat proses tanam," ujarnya.
Selain itu, Suyatno juga mengungkapkan bahwa para pembajak sawah sering mengalami kesulitan saat harus membajak lahan yang telah dilalui mesin pemanen.
"Tak jarang saya melihat bajak sawah mogok terjebak lumpur, bahkan ada yang sampai terbalik karena tersandung tanah yang menggunung dan sudah terlalu keras," ungkapnya.
Suyatno, yang merupakan warga Dusun Krandegan, menyatakan bahwa kebanyakan sawah di daerahnya telah dipanen menggunakan mesin. Namun, ia khawatir dengan kondisi tanah ke depannya.
"Sawah di pinggiran jalan menjadi yang paling terdampak. Mesin pemanen yang bolak-balik melewati sawah menyebabkan lumpur semakin bertambah setiap kali panen," tandasnya.
Ia bahkan menggambarkan kedalaman lumpur di sawah yang terdampak dengan menggariskan tangannya di sekitar pinggulnya. Ia mengalami sendiri kondisi tersebut saat menjadi buruh tanam di sawah milik orang lain.
"Sawah yang sudah dalam lumpurnya sulit ditanami. Padi yang ditancapkan tidak bisa berdiri tegak karena lumpur terlalu lunak akibat terus-menerus dilalui mesin pemanen," jelasnya.
Kondisi serupa juga dirasakan oleh Nikmatus Sholihah (45), petani asal Dusun Sindon Tengah, Desa Ngadirejo. Ia mengakui bahwa panen menggunakan mesin memang cepat dan praktis, tetapi metode panen manual menurutnya lebih baik dalam menjaga kondisi tanah.
"Panen menggunakan mesin memang sangat memudahkan, tetapi saat waktu tanam saya kesulitan karena lumpur semakin dalam," ujarnya usai memanen sawahnya menggunakan mesin pada Kamis, 27 Maret 2025.
Kabar Trenggalek - Sosial
Editor:Zamz