Sekolah Rakyat di Trenggalek Tak Buka Jalur Umum, Siswa Dipilih dari Data Keluarga Miskin

Sekolah Rakyat Terintegrasi 50 Trenggalek tidak membuka SPMB umum. Calon siswa dijaring langsung dari data keluarga miskin dan miskin ekstrem.

Sekolah Rakyat di Trenggalek Tak Buka Jalur Umum, Siswa Dipilih dari Data Keluarga Miskin

Sekolah Rakyat Trenggalek tidak sembarang menerima siswa baru. KBRT/Dokumen SRT 50

Ringkasan

  • Sekolah Rakyat Trenggalek memakai sistem penjangkauan tertutup untuk penerimaan siswa baru
  • Calon siswa berasal dari data desil 1 dan 2 keluarga miskin ekstrem
  • Anak putus sekolah juga berpeluang diterima lewat verifikasi khusus

KABAR TRENGGALEK – Kalau biasanya penerimaan murid baru identik dengan rebutan jalur dan pendaftaran online, hal berbeda justru diterapkan Sekolah Rakyat Terintegrasi 50 Trenggalek. Sekolah ini tidak membuka Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) secara umum untuk tahun ajaran 2026/2027.

Sebaliknya, calon siswa dipilih langsung melalui data keluarga miskin dan miskin ekstrem. Tujuannya supaya akses pendidikan benar-benar sampai ke anak-anak yang paling membutuhkan.

Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 50 Trenggalek, Yogyantoro, mengatakan proses penerimaan dilakukan lewat sistem penjangkauan tertutup, bukan pendaftaran bebas seperti sekolah pada umumnya.

Advertisement

“Untuk Sekolah Rakyat Terintegrasi 50 Trenggalek kita menggunakan acuan penjangkauan tertutup untuk penerimaan siswa baru. Jadi kami tidak secara terbuka membuka SPMB,” ujar Yogyantoro, Selasa (26/05/2026).

Data calon siswa berasal dari DTSEN yang memuat kelompok masyarakat kategori desil 1 dan desil 2 atau keluarga miskin hingga miskin ekstrem. Setelah data diterima, tim akan melakukan pengecekan langsung ke lapangan.

“Itu nanti supply datanya dari DTSEN. Di situ ada data masyarakat yang termasuk desil 1 dan desil 2, kemudian dilakukan verifikasi lapangan,” jelasnya.

Verifikasi tersebut melibatkan pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), Badan Pusat Statistik (BPS), hingga pemerintah daerah. Bahkan dalam prosesnya juga dilakukan home visit untuk memastikan kondisi keluarga sesuai data.

Menariknya, Sekolah Rakyat juga membuka peluang bagi anak-anak yang sebenarnya layak sekolah tetapi belum masuk data desil kemiskinan. Jalur ini disebut sebagai penanganan kasus khusus.

“Apabila memang tidak termasuk dalam desil 1 atau desil 2 tetapi berasal dari keluarga miskin atau miskin ekstrem, maka bisa dibantu dengan surat keterangan tidak mampu dari desa atau kelurahan,” katanya.

Surat tersebut nantinya diperkuat hasil verifikasi dari Dinas Sosial, Kementerian Sosial, dan BPS sebelum calon siswa diterima.

Saat ini pihak sekolah sudah mulai menerima daftar awal calon siswa dari Dinas Sosial, terutama untuk jenjang SMP dan SMA. Untuk tahun ajaran 2026/2027, Sekolah Rakyat menyiapkan tiga rombongan belajar (rombel) untuk SD, tiga rombel SMP, dan tiga rombel SMA.

Jumlah siswa aktif sekarang mencapai 75 anak, terdiri dari dua rombel SD dan satu rombel SMP. Jika proses penerimaan berjalan sesuai rencana, total siswa tahun depan diperkirakan mencapai sekitar 345 anak termasuk siswa lama.

“Untuk tahun ajaran 2026/2027 kemungkinan total siswa sekitar 345 termasuk siswa existing saat ini,” ungkap Yogyantoro.

Selain fokus pada anak dari keluarga miskin, sekolah ini juga membuka kesempatan bagi anak putus sekolah agar bisa kembali belajar. Menurut Yogi, penanganan anak putus sekolah tidak bisa dilakukan sendirian dan perlu kerja sama banyak pihak.

“Apabila ada anak putus sekolah, maka perlu ada penjaringan ke lapangan dan mitigasi bersama agar mereka bisa kembali mendapatkan pendidikan,” pungkasnya.

Sementara itu, terkait akreditasi sekolah, pihaknya mengaku masih melengkapi sejumlah dokumen administrasi sambil menunggu proses dari BAN PDM Jawa Timur.

Ikuti WhatsApp Channel

Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!

Join Channel

Advertisement

Artikel Terkait