Sapi Nggalekan Masih Bertahan di Trenggalek, Tak Laku untuk Bisnis tapi Dijaga agar Tak Punah

Sapi Nggalekan, sapi lokal asli Trenggalek, masih dilestarikan sebagai plasma nutfah meski kalah populer dibanding sapi hasil persilangan.

Sapi Nggalekan Masih Bertahan di Trenggalek, Tak Laku untuk Bisnis tapi Dijaga agar Tak Punah

Sapi nggalekan di trenggalek yang mulai mengalami kepunahan. KBRT/Zamz

Ringkasan

  • Populasi Sapi Nggalekan di Trenggalek diperkirakan tinggal sekitar 30-40 ekor.
  • Pertumbuhan bobot lebih lambat dibanding sapi persilangan sehingga kurang diminati secara bisnis.
  • Sapi lokal ini tetap dipertahankan sebagai plasma nutfah dan pelestarian genetik asli Trenggalek.

TRENGGALEK - Di tengah tren peternak yang berlomba memelihara sapi berukuran besar demi keuntungan lebih cepat, masih ada satu jenis sapi lokal yang diam-diam terus dijaga keberadaannya di Trenggalek. Namanya Sapi Nggalekan.

Bagi sebagian peternak, sapi ini mungkin bukan pilihan paling menguntungkan. Tubuhnya relatif kecil dan pertambahan bobotnya jauh lebih lambat dibanding sapi hasil persilangan seperti limosin, simental, atau brahman. Namun justru karena keasliannya, sapi ini kini menjadi aset genetik yang terus dipertahankan agar tidak hilang dari Trenggalek.

Juru Periksa Daging atau Keur Master Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Ngadirenggo, Suyitno, mengatakan Sapi Nggalekan saat ini lebih diarahkan sebagai plasma nutfah atau sumber daya genetik lokal yang perlu dilestarikan.

Advertisement

"Jadi sapi Nggalekan itu kan sifatnya plasma nutfah. Artinya pelestarian genetik asli sapi Trenggalek," ujarnya.

Menurut Suyitno, populasi sapi tersebut kini tidak banyak. Ia memperkirakan jumlahnya hanya sekitar 30 hingga 40 ekor yang dipelihara di lingkungan UPTD Puskeswan Trenggalek.

Kondisi itu berbeda jauh dibanding populasi sapi hasil persilangan yang lebih banyak dipilih peternak karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Dari sisi pertumbuhan, perbedaan antara Sapi Nggalekan dan sapi cross breeding cukup mencolok. Sapi lokal ini membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai bobot ideal.

Suyitno menjelaskan, sapi Nggalekan dewasa yang biasa dipotong rata-rata memiliki bobot sekitar 350 hingga 400 kilogram.

"Secara rata-rata, bobot sapi Nggalekan dewasa yang biasa dipotong berkisar antara 350 hingga 400 kilogram," katanya.

Angka tersebut sudah tergolong ukuran maksimal untuk jenis sapi tersebut. Meski bisa mencapai bobot 500 kilogram, proses pemeliharaannya membutuhkan waktu bertahun-tahun.

"Untuk mengarah ke 500 kilo itu, kalau jantan itu paling tidak butuh waktu ada tiga sampai empat tahun lebih," imbuhnya.

Karena itu, peternak yang memilih memelihara Sapi Nggalekan harus memiliki kesabaran lebih dibanding memelihara sapi persilangan yang pertumbuhannya jauh lebih cepat.

Dalam kurun satu tahun, sapi hasil persilangan dapat mencapai bobot lebih dari 200 kilogram. Sementara Sapi Nggalekan diperkirakan hanya mampu mencapai sekitar separuh dari capaian tersebut.

Meski kalah dalam urusan pertumbuhan dan nilai jual, Sapi Nggalekan ternyata memiliki catatan menarik saat wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) melanda berbagai daerah beberapa tahun lalu.

Menurut Suyitno, sejauh yang ia ketahui tidak ada Sapi Nggalekan yang terpapar PMK selama masa wabah berlangsung.

"Sepengetahuan saya, untuk sapi Nggalekan itu alhamdulillah tidak ada. Tidak ada kena PMK, aman," ungkapnya.

Namun demikian, ia menegaskan kondisi tersebut bukan berarti Sapi Nggalekan kebal terhadap PMK. Menurutnya, penyakit tersebut tetap berpotensi menyerang semua jenis ternak.

Ia menilai keberhasilan menjaga populasi sapi lokal itu dari PMK tidak lepas dari pengawasan kesehatan hewan yang dilakukan secara ketat, termasuk pemeriksaan sebelum sapi masuk ke rumah pemotongan.

"Bagaimana ya, pokoknya kalau petugas menemukan ada indikasi gejala PMK pada sapi yang hendak dipotong di RPH, petugas akan langsung memerintahkan pemilik untuk membawa sapi tersebut pulang," tegasnya.

Untuk menjaga kelangsungan populasi, proses pengembangbiakan Sapi Nggalekan selama ini dilakukan melalui inseminasi buatan (IB). Bahkan, kata Suyitno, pernah ada pejantan Sapi Nggalekan yang diambil spermanya oleh Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari untuk mendukung program pelestarian.

"Dulu kan ada berapa ekor yang diambil untuk spermanya itu untuk khusus untuk Sapi Nggalekan. Kalau enggak salah Singosari," tuturnya.

Di tengah derasnya arus persilangan ternak yang mengejar produktivitas, keberadaan Sapi Nggalekan menjadi pengingat bahwa Trenggalek juga memiliki warisan genetik ternak yang tak kalah berharga untuk dijaga keberlangsungannya.

Ikuti WhatsApp Channel

Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!

Join Channel

Advertisement

Artikel Terkait