KBRT - Keheningan Ramadan terasa menusuk relung hati setiap muslim. Nuansa lantunan ayat-ayat Alquran seakan memanggil kembali sesuatu yang telah lama menghilang dari diri: kebaikan. Ramadan adalah momen bahwa kita dapat memperbaiki kualitas hidup dengan mengembalikan kebaikan menjadi bagian dari kehidupan kita. Upaya itu dimulai dengan puasa bicara.
Di samping pengendalian pikiran, juga yang amat penting bentuk konkretnya ialah menahan mulut untuk tidak berbicara, apalagi jika pembicaraan itu menjurus kepada ajakan untuk berpaling meninggalkan kedekatan diri dengan Tuhan. Berbicara amat sangat mungkin membawa manusia kepada sifat lalai.
Ketika kita banyak berbicara, lalu mendapat apresiasi dan pujian, bisa jadi hal itu akan membawanya pada kesombongan. Dalam bahasa lain, berbicara meski itu baik, ketika berlebihan, sangat mungkin melahirkan sifat negatif.
Dilansir dari buku Kontemplasi Ramadan karya Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., terlalu banyak bicara bisa menyedot energi spiritual ke level bawah, bukannya ke level lebih tinggi. Memang bicara adalah hak paling mendasar yang dimiliki manusia.
Namun, bicara yang melampaui batas, selain akan terancam penderitaan di dunia, juga neraka di akhirat. Kita bisa menyimak hikmah mengapa Allah tidak memerintahkan Maryam untuk berpuasa kecuali menahan diri untuk tidak berbicara.
Hampir separuh penyesalan dalam hidup terjadi karena mulut, yakni pembicaraan yang tak terkendali. Hampir separuh dosa lahir dari mulut. Hampir setiap hari mulut kita menelan korban, seperti membicarakan aib orang lain, berbohong, mengumpat, menyindir, memfitnah, kritik berlebihan, mengutuk, memaki, berkata kotor dan keji, guyon berlebihan, mengejek, menertawakan, menyebarkan rahasia, mengungkapkan amarah, menghujat dan menghasut, mengadu domba, pertengkaran, pembicaraan batil, dan sumpah palsu.
Semua itu akan membawa penyesalan. Termasuk bicara di sini ialah menggunakan pena, komputer, body language, dan alat komunikasi lainnya yang menyampaikan pesan berlebihan, seperti halnya dalam bentuk lisan tadi.
Segala sesuatu yang berlebihan berpotensi membawa malapetaka yang menyedihkan. Sebelum neraka akhirat, neraka dunia sudah banyak dialami bagi mereka yang terlalu banyak bicara atau tidak mengontrol pembicaraannya.
Bijak Menyikapi Informasi
Pengungkapan aib atau memfitnah orang lain semakin marak terlihat di dalam masyarakat, terutama setelah media masa begitu marak. Ironisnya, perbuatan yang tercela ini paling banyak diminati oleh para pemirsa. Perhatikan media infotainment yang ditayangkan oleh hampir semua TV, baik TV publik maupun TV berlangganan.
Paling banyak menyedot pemirsa ialah tayangan ini. Isi tayangan itu ialah pengungkapan hal-ihwal para selebriti, pejabat, dan tokoh-tokoh publik lainnya. Inti pemberitaan tersebut hampir semuanya tentang hal-hal yang miring yang dapat memojokkan orang lain.
Tradisi pengungkapan aib, fitnah, dan gosip yang dibiarkan menjadi bagian dari budaya masyarakat, adalah pertanda kita membudayakan sesuatu yang sesungguhnya amat dicela di dalam agama. Apabila ini terus dilakukan maka wajar kalau berbagai kesulitan mendera bangsa ini.
Oleh karena itu, sebaiknya kita semua, terutama pengelola media, menyadari hal ini. Alquran telah mengingatkan betapa buruknya upaya membuka aib atau kesalahan orang lain. Perumpamaan yang amat buruk bagi orang yang tega menghancurkan orang lain melalui fitnah dan tudingan.
Puasa bicara juga dimaknai sebagai menghindari segala perkataan yang yang berlebihan dan memunculkan konflik, semua itu masuk dalam kategori perbuatan yang tak berguna. Orang-orang yang banyak berbicara sesuatu dan tak berguna atau bahkan merugikan orang lain, sebaiknya dihindari untuk menjadikannya sebagai sahabat karib.
Oleh karena itu, bersahabat dengan mereka sudah barang tentu akan menyedot kita ke dalam energi negatif, pada saatnya nanti akan membawa kita terlibat ke dalam berbagai masalah. Sebaliknya, Jika kita bersahabat dengan orang-orang arif dan bijaksana maka kita juga akan tersedot ke dalam energi positif, yang pada saatnya akan mendatangkan hikmah positif.
Puasa bicara termasuk juga dalam konteks penggunaan multimedia di dalam menyampaikan hal-hal khusus kepada orang lain. Penggunaan IT dalam menyampaikan maksud sesungguhnya juga merupakan bentuk lain dari bicara. Hanya bicaranya di dalam bentuk komunikasi nonverbal. Efek penyampaian pesannya bisa sama saja dengan penyampaian pesan dalam bentuk oral atau visual.
Kesantunan Berkomunikasi
Salah satu buah dari puasa bicara adalah kesantunan dalam berkomunikasi. Kesantunan dalam berkomunikasi merupakan karunia ilahi yang amat berharga. Akhlak berkomunikasi akhir-akhir ini cenderung semakin kasar, bahkan provokatif.
Padahal, Alquran dalam banyak ayat menganjurkan manusia untuk memelihara segala bentuk komunikasinya kepada orang lain, bahkan kepada sesama makhluk. Alquran berulang kali mengingatkan manusia agar bertutur santun. Dahulu para orang tua kita mendidik anak-anaknya agar memelihara kesantunan dalam bertutur (qaulan hasanah) baik lisan maupun tulisan.
Alquran juga mewanti-wanti kita untuk memelihara akhlak berkomunikasi. Seolah-olah kesantunan sosial menjadi ukuran tinggi rendahnya sebuah peradaban anak manusia. Kepribadian suatu bangsa juga dapat diukur berdasarkan tutur katanya yang berkembang di dalam masyarakat. Apabila para warga bangsa secara konsisten memelihara kesantunan dalam lisan dan tulisan maka semakin bermartabat pula bangsa itu.
Akan tetapi, sesekali berucap kasar, apalagi kalau sering, menandakan kepribadian orang atau bangsa itu tidak santun. Bahasa santun tentu tidak hanya terucap oleh mulut atau tertulis di media, tetapi juga melalui bahasa tubuh (body language).
Nabi mencontohkan betapa mulianya ia bertutur kata. Bukan hanya santun terhadap orang-orang yang lebih senior tetapi juga kepada anak-anak. Ini perlu menjadi perhatian kita bersama karena ada kecenderungan bahasa santun ini tergerus oleh peradaban modern. Bukan saja oleh kaum muda yang tergerus oleh arus globalisasi dan modernisasi tetapi juga kaum tua.
Kata-kata santun sepertinya hanya ada di dalam puisi atau cerpen-cerpen klasik. Andaikan kita ingin dikenal sebagai bangsa beradab atau islami, yang pertama kali harus ditampilkan ialah kesantunan bertutur. Bangsa yang beradab dapat diukur melalui akhlak berbahasa masyarakatnya
Kabar Trenggalek - Edukasi
Editor:Zamz